Solusi Terbaik dari Ulama dan Jenderal Perang Aceh:
Aceh pernah menjadi salah satu kerajaan paling disegani di dunia Islam, khususnya pada masa Sultan Iskandar Muda. Era tersebut dikenal sebagai zaman keemasan Aceh, di mana Aceh kuat secara militer, kaya secara ekonomi, dan unggul dalam ilmu pengetahuan serta agama. Namun, sejarah juga mencatat masa-masa kelam yang penuh peperangan dan penjajahan Belanda yang melemahkan Aceh.
Di tengah situasi tersebut, lahirlah tokoh ulama sekaligus jenderal perang yang menjadi simbol perlawanan sekaligus pelopor kebangkitan Aceh di abad ke-19 awal: Syeikh Abbas bin Muhammad, yang lebih dikenal dengan gelar Tgk Chik Kuta Karang.
Sosok Tgk Chik Kuta Karang: Ulama, Pejuang, dan Ahli Ilmu Pengetahuan
Tgk Chik Kuta Karang bukan hanya seorang ulama dengan kedalaman ilmu agama, tetapi juga seorang jenderal perang yang memimpin perlawanan Aceh terhadap kolonial Belanda. Beliau adalah guru dari para pejuang Aceh legendaris, termasuk Tgk Chik Ditiro, serta hidup sezaman dengan ulama besar Aceh lainnya seperti Tgk Chik Tanoh Abee dan Tgk Chik Pante Kulu.
Keistimewaan beliau juga terletak pada keahliannya dalam bidang astronomi dan farmasi — ilmu yang langka dan maju pada masa itu. Bahkan, catatan sejarah menyebutkan bahwa beliau pernah belajar di Makkah bersama ulama besar dari Banten, Syeikh Nawawi Al-Bantani, serta Syeikh Zaini Dahlan, menandakan kualitas ilmiah dan spiritualnya yang tinggi.
“Tazkirah Rakidin”: Pengingat Orang yang Tertidur
Salah satu karya monumental Tgk Chik Kuta Karang adalah kitab “Tazkirah Rakidin”, yang secara harfiah berarti Pengingat Orang yang Tertidur. Judul ini penuh makna. Dalam kitab tersebut, beliau secara halus mengkritik kondisi masyarakat Aceh yang telah “tertidur” atau terlena oleh kekuasaan penjajah Belanda dan lupa akan kejayaan masa lampau.
Kitab itu berisi taktik dan strategi perang melawan Belanda, serta kiat membangun kembali Aceh berdasar ajaran Islam yang bersumber pada Al-Quran dan Hadis. Isi kitab ini bukan hanya soal perang fisik, tapi juga perang pemikiran dan moral untuk membangkitkan semangat juang dan kemerdekaan Aceh.
Relevansi Warisan Tgk Chik Kuta Karang untuk Aceh Masa Kini
Aceh sekarang sedang dalam fase transisi dan pembangunan pasca konflik, dan sekaligus menghadapi tantangan modernisasi dan globalisasi. Sejatinya, apa yang diwariskan Tgk Chik Kuta Karang masih sangat relevan:
-
Bangkit dari “Tidur” dan Lupa Akar: Seperti yang disampaikan dalam Tazkirah Rakidin, Aceh harus kembali sadar dan mengingat kejayaan masa lalu. Ini bukan untuk nostalgia kosong, tapi sebagai motivasi untuk membangun masa depan.
-
Strategi dan Kepemimpinan Berdasar Ilmu: Aceh perlu kepemimpinan yang menggabungkan ilmu pengetahuan, agama, dan strategi nyata. Jangan sampai kemajuan hanya berbasis retorika kosong, tetapi harus nyata di lapangan.
-
Kesatuan Umat dan Persatuan Bangsa: Warisan ulama ini mengingatkan bahwa perjuangan Aceh tidak hanya tentang senjata, tapi juga tentang persatuan masyarakat yang kokoh dan berlandaskan nilai-nilai agama.
-
Pemberdayaan Ilmu dan Budaya Lokal: Keahlian Tgk Chik Kuta Karang dalam ilmu astronomi dan farmasi menunjukkan bahwa Aceh memiliki potensi besar di bidang ilmu pengetahuan. Kita harus menggali kembali potensi ini untuk kemajuan daerah.
Penutup
Tgk Chik Kuta Karang adalah contoh nyata bahwa solusi terbaik untuk Aceh bukan sekadar mengandalkan kekuatan senjata, tetapi juga ilmu, iman, dan strategi yang matang. Jika Aceh ingin kembali seperti masa Sultan Iskandar Muda, ia harus kembali pada nilai-nilai luhur yang diwariskan para ulama dan pejuangnya, di antaranya Tgk Chik Kuta Karang.
Mari kita jadikan warisan beliau sebagai pijakan membangun Aceh yang mulia, berdaulat, dan bermartabat — tidak hanya di mata bangsa sendiri, tapi juga dunia.
2025