Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Alam Bersahabat, Ingat Petaka yang Mengintai

Rabu, 11 Juni 2025 | 19:51 WIB Last Updated 2025-06-11T12:51:42Z




Oleh:  Azhari 

Manusia hidup dalam pelukan alam. Segala yang kita hirup, kita makan, dan kita minum berasal dari rahim bumi. Hutan menyediakan udara, sungai memberi kehidupan, dan gunung menjaga keseimbangan. Dalam setiap hembusan angin dan riak air, sesungguhnya alam sedang berbicara, mengajarkan keseimbangan yang hakiki.

Namun sayang, di tengah keakraban itu, manusia terlalu sering abai. Kita kerap memanfaatkan alam, tapi lupa menjaga. Kita mengambil tanpa pernah berpikir memberi. Alam yang dulunya ramah, kini perlahan murka. Dan petaka itu datang bukan tanpa sebab, melainkan karena tangan manusia itu sendiri.

Ketika Alam Mulai Memberi Peringatan

Kita sering menyalahkan bencana: banjir bandang, longsor, kekeringan, atau gelombang pasang. Tapi jarang yang mau jujur bertanya: siapa sebenarnya penyebab semua itu? Di balik setiap sungai yang meluap, ada hutan yang dibabat. Di balik tanah yang longsor, ada bukit yang dirusak. Dan di balik udara yang panas membara, ada lapisan ozon yang dirusak oleh aktivitas manusia tanpa kendali.

Alam sesungguhnya bersahabat. Ia memberi isyarat jauh sebelum murka datang. Awan gelap yang menggumpal, air sungai yang mulai keruh, suhu udara yang tak biasa — semua adalah isyarat. Tapi manusia terlalu sibuk dengan ambisi, lupa membaca tanda-tanda. Ketika bencana benar-benar datang, baru kita tersadar, dan sayangnya, seringkali sudah terlambat.

Petaka Itu Bernama Keserakahan

Tak bisa dipungkiri, akar dari kerusakan alam adalah kerakusan manusia. Demi kepentingan ekonomi, hutan dirambah tanpa kendali, laut dieksploitasi berlebihan, gunung dikikis, dan sungai dijadikan tempat pembuangan limbah. Padahal dalam banyak ajaran agama, alam adalah amanah, bukan komoditas yang boleh dihabiskan seenaknya.

Keserakahan membuat manusia buta. Tak peduli lagi apakah sebuah hutan adalah penyangga kehidupan bagi ribuan makhluk, atau sebuah sungai adalah urat nadi bagi desa-desa di hilir. Yang penting, hasil cepat, keuntungan besar. Ironisnya, setelah petaka datang, manusia yang sama akan berkata, “Ini musibah dari Tuhan,” padahal tak sedikit yang sejatinya adalah akibat ulah tangan kita sendiri.

Mengembalikan Kesadaran Kolektif

Sudah saatnya umat manusia membangun kesadaran bersama: bahwa alam bukan milik satu generasi, tapi titipan untuk anak cucu. Kesadaran ini harus dimulai dari diri sendiri, kemudian keluarga, komunitas, hingga pemerintah.

Perlu ada edukasi ekologi berbasis nilai-nilai moral dan agama. Bahwa menjaga alam bukan sekadar kewajiban negara, tapi perintah kemanusiaan. Bahwa menanam pohon, menjaga sungai, tidak membuang sampah sembarangan, dan mengurangi plastik adalah bentuk ibadah sehari-hari.

Di sisi lain, pemerintah harus lebih tegas kepada pelaku perusakan lingkungan. Jangan sampai hukum tumpul ke atas, tajam ke bawah. Jangan lagi ada izin tambang di kawasan hutan lindung, atau reklamasi yang merusak ekosistem pesisir demi kepentingan elite.

Alam Bisa Bersahabat, Bisa Juga Menghukum

Sejarah membuktikan, peradaban besar runtuh karena gagal menjaga alam. Kerajaan-kerajaan kuno hancur akibat kekeringan panjang, wabah penyakit, atau gagal panen. Jika hari ini manusia merasa unggul dengan teknologi, jangan lupa bahwa alam selalu punya cara untuk menyeimbangkan dirinya.

Mungkin bukan sekarang, tapi jika keserakahan ini dibiarkan, petaka itu hanya soal waktu. Dan saat itu terjadi, tidak ada teknologi secanggih apa pun yang mampu menahan murka alam.

 Kembali Merawat Bumi

Alam bersahabat kepada mereka yang bijak. Ia ramah kepada manusia yang tahu batas. Mari kita kembalikan hubungan harmonis itu. Mulai dari hal kecil: menanam pohon, mengurangi plastik, menjaga sungai, dan mengajarkan anak-anak tentang pentingnya merawat bumi.

Karena pada akhirnya, ketika alam marah, tak ada satu pun dari kita yang bisa berlindung. Dan jika petaka itu datang, jangan salahkan siapa-siapa. Sebab dalam setiap bencana, jejak tangan kita sering lebih nyata daripada yang kita sangka.

Alam bersahabat, jika manusia ingat cara bersyukur dan merawatnya.