Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Hukum Kehidupan Bila Tidak Berguna

Senin, 30 Juni 2025 | 16:37 WIB Last Updated 2025-06-30T09:37:30Z




Oleh : Azhari 

Hidup ini memiliki hukum alam yang tidak tertulis, tetapi berlaku bagi siapa saja yang menapaki bumi ini. Di antara hukum kehidupan yang paling tegas adalah: jika sesuatu tak lagi berguna, maka ia akan ditinggalkan, dilupakan, atau bahkan dimusnahkan. Begitulah alam bekerja, begitu pula manusia, dan begitu pula sejarah mencatat.

Tak ada yang abadi di dunia ini kecuali manfaat. Sebuah pohon terus dipelihara selama masih bisa berbuah, seekor hewan dipelihara selama bisa berguna, dan seorang manusia dihargai selama memberi makna bagi lingkungannya. Ketika sesuatu atau seseorang kehilangan manfaatnya, maka hukum kehidupan akan berjalan: disingkirkan, dilupakan, bahkan diabaikan tanpa belas kasihan.

Manusia Dinilai dari Kemanfaatan

Sejatinya, ukuran kemuliaan manusia bukanlah pada kekayaan, jabatan, atau keturunan, melainkan pada seberapa besar manfaatnya bagi sesama. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya."
(HR. Ahmad)

Hukum kehidupan ini bersifat tegas. Orang yang hidup tanpa memberi manfaat, akan ditinggalkan dalam kesendirian. Orang yang duduk di kursi kekuasaan tapi tak peduli pada rakyat, lambat laun akan kehilangan kepercayaan dan dihapuskan oleh sejarah. Sebaliknya, mereka yang sederhana tapi penuh kepedulian, akan dikenang sepanjang masa.

Hukum Alam: Yang Tak Berguna Akan Gugur

Dalam alam pun berlaku hukum yang sama. Daun yang layu akan gugur, ranting kering akan patah, dan hewan lemah yang tak mampu bertahan akan tersingkir. Alam hanya mempertahankan yang kuat dan bermanfaat bagi keseimbangannya.

Begitu juga dalam kehidupan sosial. Dalam keluarga, masyarakat, bahkan negara — seseorang akan dihargai selama ia memberi nilai tambah. Ketika seseorang kehilangan arti dan manfaatnya, ia akan tergantikan. Bukan karena kejam, tetapi karena hukum kehidupan menuntut keseimbangan. Dunia ini terlalu sempit untuk menampung yang tidak mau bergerak dan tidak bermanfaat.

Hukum Sosial: Kawan Saat Butuh, Musuh Saat Tak Berguna

Dalam relasi sosial, hukum ini kadang berlaku lebih keras. Banyak orang didekati saat punya jabatan, dipuji saat kaya, dicari saat berkuasa. Namun ketika kehilangan semuanya, perlahan ditinggalkan. Tak ada lagi sapaan hangat, tak ada lagi panggilan mesra, karena manusia lebih sering melihat manfaat ketimbang kesetiaan.

Sebagian menyebutnya sebagai kenyataan pahit. Tapi begitulah hukum sosial bekerja. Jika kita tak ingin dilupakan, maka jadilah pribadi yang terus bermanfaat. Bukan hanya saat di atas, tapi juga saat di bawah. Bukan hanya saat kaya, tapi juga saat sederhana. Bukan hanya saat berkuasa, tapi juga saat biasa.

Hukum Sejarah: Nama yang Abadi Adalah Manfaat

Lihatlah sejarah. Berapa banyak raja, jenderal, dan pemimpin besar yang namanya lenyap tak bersisa karena tak memberi manfaat? Tapi nama-nama seperti Ibnu Sina, Imam Syafi’i, Syekh Abdul Rauf As Singkili, Cut Nyak Dhien, dan Teuku Umar tetap harum, karena jasa dan manfaatnya melampaui zaman.

Hukum kehidupan ini sederhana: manfaatlah yang membuat nama tetap hidup, bahkan setelah jasad tiada. Sementara orang yang hidup tanpa arti, meski dipuja saat ini, akan lenyap tanpa jejak begitu waktu berputar.

Penutup: Jangan Jadi Bagian yang Dibuang

Hukum kehidupan memang tidak tertulis, tapi nyata terasa. Kita bisa memilih, ingin menjadi bagian yang berguna atau menjadi sosok yang lambat laun dibuang oleh waktu.
Jangan hanya hadir di dunia sebagai angka, tapi jadilah makna. Jangan sekadar hidup, tapi hiduplah dengan memberi manfaat. Karena manfaat adalah syarat utama untuk dihargai, diingat, dan dihormati.

Karena hidup yang tak berguna, adalah hidup yang sia-sia. Dan hukum kehidupan tak pernah ramah pada mereka yang tak ingin memberi arti.