*Aceh dikenal sebagai negeri beradat dan bersyariat. Negeri yang dahulu disebut Serambi Mekkah, kini mulai gamang menghadapi arus zaman. Ketika generasi mudanya kian jauh dari adat dan nilai moral, siapa yang harus bertanggung jawab? Mari bercermin pada keluarga.
Di kampung-kampung Aceh dulu, anak-anak belajar sopan santun dari orang tua. Ayah menjadi teladan, ibu menjadi madrasah pertama. Adat peusijuek, meugang, kenduri krueng, hingga pantangan berkata kasar di depan orang tua menjadi tradisi turun-temurun. Tapi kini, pemandangan itu mulai langka.
Tak sedikit anak muda yang lebih akrab dengan istilah ‘nge-prank’, ‘live TikTok’, atau ‘konten viral’ daripada sejarah Sultan Iskandar Muda. Mereka lebih hafal tren TikTok daripada ayat Al-Qur'an. Ironisnya, banyak orang tua justru larut dalam kesibukan duniawi. Sibuk mencari harta, sibuk dengan HP masing-masing, abai terhadap pendidikan moral anak.
Keluarga yang Seharusnya Menjadi Benteng Terakhir
Dalam Islam, keluarga adalah benteng pertama dan terakhir pendidikan akhlak. Rasulullah SAW bersabda, “Setiap anak lahir dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”
Artinya, rusak-tidaknya moral generasi, berpangkal pada keluarga. Saat orang tua gagal menanamkan nilai moral dan adat sejak kecil, jangan heran bila anak tumbuh tanpa arah. Mereka mudah terbawa arus budaya luar yang belum tentu Islami, bahkan acap kali bertentangan dengan adat Aceh.
Kenapa Orang Tua Aceh Gagal Mendidik Moral Anak?
Fenomena ini tak terjadi tiba-tiba. Ada beberapa faktor yang menyebabkan kegagalan orang tua Aceh dalam membina pendidikan moral:
-
Materialisme dan Gaya Hidup Hedonis
Banyak orang tua lebih mengejar harta dan status sosial, sehingga abai terhadap pembinaan moral anak. Waktu berkualitas dalam keluarga semakin jarang. -
Pasrah pada Sekolah dan Dayah
Sebagian orang tua merasa cukup menitipkan anak ke sekolah atau dayah, tanpa peduli pendidikan di rumah. -
Lemahnya Keteladanan Orang Tua
Bagaimana anak bisa berakhlak bila di rumah mereka melihat pertengkaran, caci maki, dan gaya hidup yang jauh dari nilai Islam? -
Ketergantungan terhadap Media Sosial
Orang tua kini sibuk dengan gadget-nya sendiri. Anak dibiarkan asyik dengan gawai tanpa kontrol. -
Pudarnya Tradisi Adat Islami
Tradisi adat Aceh seperti kenduri, peusijuek, tahlilan, mulai jarang dilakukan. Anak tumbuh tanpa mengenal akar budaya sendiri.
Dampaknya Nyata di Masyarakat
Tak heran bila kini kita saksikan kenakalan remaja, balap liar, pergaulan bebas, penyalahgunaan narkoba, hingga krisis identitas budaya. Anak muda lebih bangga tampil ala barat daripada berbusana Islami. Adat sopan santun dalam menyapa orang tua pun mulai luntur.
Di kampung-kampung, masjid yang dulu ramai anak muda kini lebih banyak diisi orang tua. Zikir di meunasah mulai sepi. Tradisi adat melemah. Aceh perlahan kehilangan karakternya sebagai Serambi Mekkah.
Saatnya Orang Tua Aceh Bangkit
Jika tidak ingin kehilangan generasi, orang tua Aceh harus kembali mengambil peran. Keluarga harus menjadi madrasah pertama yang mengajarkan adab Islami dan budaya Aceh.
Beberapa langkah sederhana tapi penting yang bisa dilakukan:
- Biasakan shalat berjamaah dan zikir keluarga di rumah.
- Libatkan anak dalam kegiatan adat kampung.
- Kurangi waktu anak dengan HP, awasi konten yang mereka tonton.
- Orang tua wajib memberi keteladanan: berakhlak santun, jujur, dan Islami.
- Hidupkan kembali pengajian keluarga dan forum orang tua di gampong.
Penutup
Modernisasi bukan alasan meninggalkan moral dan adat. Aceh bisa maju tanpa kehilangan jati dirinya. Namun itu hanya mungkin bila orang tua kembali peduli. Kalau bukan kita yang menjaga generasi Aceh, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?
Seperti petuah orang tua dulu,
“Asai dum hukom lagee u, hana dum nyan hana u.”
(Asal hukum seperti kayu, kalau kayu tak ada, tiada pula hukum.)
Jangan sampai generasi Aceh menjadi pohon tanpa akar, hidup tanpa arah.
Azhari
Akademisi dan Pemerhati Sosial Aceh