Mencari Arah dalam Pusaran Sejarah
Aceh adalah tanah yang penuh sejarah dan semangat juang. Di bumi ini, darah syuhada telah tertumpah demi kehormatan, harga diri, dan cita-cita kemerdekaan. Namun, dalam perjalanan panjang menuju cita yang luhur itu, Aceh tidak hanya berdiri di atas tumpukan perlawanan dan senjata, melainkan juga tegak oleh tiga pilar kehidupan: adat, budaya, dan kolaborasi. Ketiganya membentuk sebuah segitiga identitas yang saling menguatkan, namun terkadang justru tercerai berai oleh ego dan kepentingan sesaat.
Kini, ketika Aceh berada di persimpangan antara sejarah masa lalu dan harapan masa depan, kita perlu merenungkan kembali: ke mana arah bangsa ini akan dibawa? Apakah adat masih menjadi benteng akhlak dan moral? Apakah budaya masih bernapas dalam karya dan sikap generasi muda? Dan apakah kolaborasi masih mungkin dibangun untuk kemerdekaan hakiki—yakni kemerdekaan dari kebodohan, ketidakadilan, dan keterbelakangan?
Adat sebagai Fondasi Etik
Adat dalam masyarakat Aceh bukan sekadar seremoni warisan. Ia adalah fondasi etika sosial, pedoman hidup yang menempatkan manusia pada tempatnya. "Adat bak Po Teumeuruhom, hukom bak Syiah Kuala" bukan semboyan kosong. Ia adalah pengingat bahwa hukum dan adat adalah dua sisi yang tak terpisahkan dalam menata kehidupan berbangsa dan beragama.
Namun hari ini, kita menyaksikan bagaimana adat mulai dilupakan, bahkan dianggap penghalang kemajuan. Banyak konflik sosial dan degradasi moral yang sebenarnya lahir dari terputusnya generasi muda dari akar adat. Jika Aceh ingin merdeka secara bermartabat, maka adat harus dikembalikan ke posisi semula—sebagai pemandu arah hidup, bukan sekadar simbol warisan masa lalu.
Budaya: Napas Identitas yang Mulai Pudar
Budaya adalah wajah Aceh. Dalam syair, tarian, ukiran, dan tutur kata, tersimpan nilai-nilai luhur yang membentuk karakter kolektif orang Aceh. Namun hari ini, budaya kita seakan tertinggal dalam hiruk-pikuk globalisasi. Anak muda lebih hafal budaya pop Korea daripada syair-syair hikayat Aceh.
Ini bukan hanya soal kehilangan tradisi, tapi kehilangan identitas. Ketika budaya ditinggalkan, Aceh kehilangan jiwanya. Maka perlu ada gerakan bersama untuk membangkitkan budaya sebagai alat perjuangan. Bukan sekadar dipajang di panggung, tapi dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari, dalam kebijakan publik, dalam pendidikan, dan dalam ekspresi digital generasi muda.
Kolaborasi: Jalan Menuju Kemerdekaan Sejati
Kemerdekaan bukan hasil kerja satu golongan. Ia lahir dari kolaborasi. Di masa lalu, para ulama, pejuang, petani, dan rakyat jelata bersatu menolak penjajahan. Hari ini, kemerdekaan Aceh bukan lagi tentang merdeka dari kolonialisme asing, tapi dari penjajahan struktural: kemiskinan, korupsi, narkoba, dan ketidakadilan.
Kolaborasi hari ini harus melibatkan semua elemen: pemerintah, tokoh adat, budayawan, akademisi, pemuda, dan masyarakat sipil. Aceh tidak bisa dibangun hanya oleh segelintir elite. Semua harus turun tangan. Semua harus punya ruang, suara, dan peran. Kemerdekaan hakiki Aceh ada dalam kolaborasi untuk kesejahteraan, keadilan, dan keberadaban.
Penutup: Menata Ulang Jalan Menuju Cita
Aceh adalah warisan besar yang membutuhkan perawatan penuh cinta. Adat bukan musuh kemajuan, budaya bukan beban masa lalu, dan kolaborasi bukan mimpi utopis. Ketiganya adalah energi kolektif yang, bila disatukan, akan menjadi peta jalan menuju Aceh yang benar-benar merdeka: merdeka dalam nilai, dalam martabat, dan dalam keberdayaan.
Kita bisa memilih: terus berdebat tanpa arah atau bersatu dalam karya nyata. Bangsa Aceh tak butuh lebih banyak pidato, tapi lebih banyak pengabdian. Adat yang dijalankan, budaya yang dihidupkan, dan kolaborasi yang dijalankan—itulah segitiga kemerdekaan yang sejati.
Penulis
Azhari