Saat Aceh Berbicara, Dunia Dahulu Mendengar
Aceh bukan tanah biasa. Ia adalah negeri yang pernah berdiri sejajar dengan Kesultanan Utsmani (Ottoman), memiliki hubungan diplomatik dengan Inggris, Belanda, dan Arab, serta dikenal sebagai Serambi Mekkah karena peran pentingnya dalam penyebaran Islam di Asia Tenggara. Dari masa Sultan Iskandar Muda hingga zaman konflik bersenjata modern, Aceh telah menjadi pusat perhatian, baik karena kekuatannya maupun karena pergolakan panjangnya.
Namun, setelah MoU Helsinki diteken pada 15 Agustus 2005, perhatian dunia terhadap Aceh perlahan meredup. Aceh yang dulu diperbincangkan di forum internasional karena semangat perjuangannya, kini lebih sering disorot karena kisruh politik, korupsi, dan ketimpangan sosial. Lalu, di tengah refleksi dua dekade perdamaian, pertanyaan itu kembali muncul: Apakah Aceh ingin bangkit kembali di mata dunia sebagai negeri yang merdeka, atau sebagai simbol perdamaian yang berhasil?
Aceh dan Jejak Globalnya: Dari Kejayaan ke Kesunyian
Aceh dulu adalah representasi kedaulatan. Bukan hanya secara simbolik, tetapi nyata dalam diplomasi, militer, pendidikan, dan keilmuan. Hubungan Aceh dengan Ottoman menjadi bukti bahwa negeri ini tidak inferior secara geopolitik. Di saat Nusantara lainnya masih dalam kerangka kerajaan lokal, Aceh sudah berkorespondensi dengan khalifah dunia Islam.
Namun kini, nama Aceh jarang muncul dalam percaturan global. Bahkan dalam isu-isu Islam internasional, Aceh tidak menjadi kiblat atau contoh. Padahal kita memiliki kekayaan budaya, hukum syariah, kemandirian fiskal (dana otsus), dan jejak damai yang seharusnya bisa menjadi model dunia.
Sayangnya, kebesaran itu hanya jadi cerita, tidak dijadikan pijakan untuk membangun kembali citra global Aceh yang kuat dan berwibawa.
Kemerdekaan: Cita-cita Lama yang Belum Mati
Sebagian pihak, terutama generasi lama atau eks kombatan, masih menyimpan luka. Mereka melihat bahwa janji-janji pasca MoU banyak yang dilanggar. Butir-butir penting seperti partai lokal, reintegrasi, keadilan bagi korban, dan pengelolaan sumber daya alam secara mandiri, dinilai belum terealisasi secara utuh. Rasa kecewa dan pengkhianatan membuat sebagian merasa bahwa kemerdekaan tetap merupakan opsi logis dan bermartabat.
Dalam kerangka ini, kemerdekaan dipahami bukan hanya sebagai pisah dari Indonesia, tetapi sebagai bentuk pengambilan kembali martabat Aceh yang dianggap dilukai. Bahkan, sebagian tokoh menganggap damai hanya menjadi pengelabuan, bukan penyelesaian.
Namun pertanyaan besar menyusul:
Apakah Aceh siap merdeka?
Apakah ada konsensus rakyat untuk itu?
Apakah infrastruktur hukum, ekonomi, politik, dan pertahanan kita siap menghadapi dunia yang sangat kompleks?
Tanpa jawaban yang matang dan persiapan menyeluruh, kemerdekaan bisa menjadi boomerang yang justru membawa penderitaan baru.
Perdamaian: Ruang Berbenah yang Terus Disabotase
Perdamaian adalah pilihan mulia. Ia menuntut keberanian untuk menahan dendam, membuka ruang dialog, dan berpikir jangka panjang. Tapi damai juga bukan hadiah — ia adalah ruang kerja, tempat kita mengisi lembar-lembar kosong dengan keadilan, pembangunan, dan pengakuan hak-hak yang sah.
Dua dekade setelah MoU Helsinki, perdamaian Aceh masih rapuh. Konflik senjata memang berhenti, tapi konflik batin, kekecewaan, dan ketidakpuasan masih mengendap di hati banyak orang. Rakyat merasa dikhianati oleh para elit yang memperkaya diri. Anak-anak pejuang kini miskin dan terpinggirkan, sementara mantan kombatan yang tidak masuk jaringan kekuasaan terabaikan.
Jika perdamaian hanya dinikmati oleh segelintir elit, maka ia adalah damai semu. Tapi jika dijaga dan diperjuangkan dengan itikad baik, perdamaian bisa menjadi jembatan emas menuju kemuliaan Aceh tanpa harus berperang lagi.
Kembali ke Dunia: Jalan Ketiga yang Lebih Bijak
Aceh tidak harus memilih antara merdeka atau tetap menjadi provinsi. Ada jalan ketiga: menjadi Aceh yang kuat dan berpengaruh dalam kerangka otonomi khusus, memperkuat diplomasi budaya, ekonomi, dan syariah, serta memperluas jejaring internasional melalui cara-cara damai.
Langkah strategis yang bisa ditempuh:
-
Revitalisasi Diplomasi Budaya
Aceh bisa dikenal dunia melalui pelestarian warisan budaya, seperti syair, hikayat, tarian, manuskrip kuno, hingga kuliner. Promosi ini harus dijalankan oleh pemerintah, ormas, dan pemuda lewat platform digital dan kerja sama internasional. -
Membangun Poros Pendidikan dan Keilmuan
Dayah dan universitas di Aceh bisa dijadikan pusat studi Islam Nusantara, studi perdamaian pascakonflik, atau pusat kajian ekonomi syariah. Dengan itu, Aceh akan dihormati karena kontribusinya pada peradaban dunia. -
Pariwisata Spiritual dan Syariah
Dengan branding "Serambi Mekkah", Aceh bisa menawarkan wisata rohani, budaya, dan alam yang selaras dengan nilai-nilai Islam. Bila dikelola profesional, ini akan menjadi kekuatan ekonomi dan diplomasi. -
Mengirim Duta-Duta Muda Aceh ke Dunia
Beasiswa, pertukaran pelajar, misi budaya, dan aktivisme global akan membuat generasi muda Aceh tampil sebagai duta peradaban, bukan hanya pewaris konflik.
Peran Pemuda: Menulis Ulang Masa Depan
Pertanyaan besar saat ini adalah: Siapa yang akan menjemput Aceh kembali ke mata dunia? Jawabannya bukan di tangan elit politik yang sibuk dengan proyek dan kekuasaan. Jawabannya ada di tangan generasi muda.
Anak muda Aceh hari ini harus lebih berani bicara ke luar, membangun narasi positif tentang tanah kelahirannya, melawan stigma buruk, dan mengisi ruang digital global dengan identitas Aceh yang kuat.
Mereka harus menolak menjadi korban sejarah dan mulai menjadi penulis sejarah baru. Karena hanya melalui tangan generasi muda yang berwawasan global dan berakar pada nilai-nilai lokal, Aceh bisa kembali dihormati oleh dunia.
Menuju Aceh yang Bermartabat dan Berdaulat
Merdeka atau damai — keduanya adalah kata-kata besar yang tidak bisa diputuskan tanpa kehendak rakyat, tanpa perhitungan matang, dan tanpa pertimbangan moral.
Tapi satu hal pasti: Aceh tidak boleh kehilangan arah dan harga diri. Kita tidak boleh menjadi tanah yang hanya dikenang karena konflik dan tsunami. Kita harus bangkit, menyusun ulang narasi kita, dan menjemput tempat kita kembali di mata dunia — sebagai bangsa yang dewasa, kuat, berbudaya, dan beriman.
Mulia Aceh bak mata gata, ithe Aceh bak mata doya.
Waspada terhadap musuh, tapi lembut terhadap rakyat. Berani menatap dunia, tapi rendah hati dalam nilai. Inilah wajah Aceh yang harus kita bawa kembali ke pentas dunia.
Jika Anda ingin melihat Aceh bersinar kembali, jangan hanya menunggu perubahan dari atas. Mulailah dari pena, pikiran, dan tindakan kecil hari ini. Karena Aceh adalah milik kita bersama — dan dunia menanti suara kita kembali.
Penulis Azhari