Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Refleksi Pemuda dari Masa ke Masa untuk Pemimpin Aceh: Mencari Sosok Tepat di Era Digital

Kamis, 07 Agustus 2025 | 23:09 WIB Last Updated 2025-08-07T16:10:01Z




Aceh dan Dinamika Zaman

Aceh adalah tanah para pejuang, negeri yang dalam sejarahnya selalu melahirkan generasi pemberani. Dari Sultan Iskandar Muda, Cut Nyak Dhien, hingga tokoh-tokoh modern seperti Tgk. Hasan Tiro, jejak perjuangan bangsa Aceh tidak pernah henti mengalir. Namun, di tengah derasnya arus digital dan globalisasi, muncul satu pertanyaan reflektif: Apakah pemuda Aceh hari ini masih memiliki semangat yang sama? Apakah generasi hari ini mampu menjadi pemimpin Aceh esok hari?

Pemuda sebagai Energi Zaman

Sejarah membuktikan bahwa setiap zaman memiliki pemudanya. Pemuda adalah ujung tombak perubahan. Di masa perjuangan kemerdekaan, mereka turun ke medan tempur. Di masa pembangunan, mereka menjadi pelopor pendidikan dan ekonomi. Kini, di era digital, medan juangnya bergeser ke ruang virtual, inovasi teknologi, dan kepemimpinan berbasis ide dan etika.

Pemuda Aceh hari ini hidup dalam realitas baru—gawai di tangan, informasi di layar, namun sering kali kehilangan arah dan substansi. Tantangannya bukan lagi penjajah bersenjata, melainkan penjajahan pikiran, kemalasan, dan budaya instan.

Desa sebagai Titik Tolak Harapan

Bila ingin melihat masa depan Aceh, lihatlah desa hari ini. Dari kampunglah lahir generasi yang jujur, kuat, dan dekat dengan nilai-nilai Islam dan adat. Sayangnya, banyak pemuda desa tersingkir dari proses pembangunan dan pengambilan keputusan. Mereka yang bersuara untuk rakyat sering dianggap liar, sementara yang menjilat kekuasaan justru disanjung.

Padahal, solusi masa depan Aceh tidak hanya ada di kota atau parlemen, tapi di gampong-gampong yang selama ini terlupakan. Di sanalah tumbuh benih kepemimpinan sejati—mereka yang mengerti derita rakyat, tidak haus jabatan, dan siap melayani, bukan dilayani.

Sosok Pemimpin Masa Depan: Siapa Dia?

Aceh membutuhkan pemimpin baru, bukan hanya muda secara usia, tapi juga matang secara pemikiran, bersih dari korupsi, dan berani membela rakyat. Sosok ini mungkin tidak viral di media sosial, tapi punya rekam jejak di tengah masyarakat. Ia bukan produk pencitraan, tapi hasil dari kerja keras, keteladanan, dan pendidikan sosial yang panjang.

Di era digital, pemimpin Aceh ke depan harus:

  1. Melek teknologi, tapi tidak menjadi budak popularitas.
  2. Berakar pada nilai Islam, tapi terbuka pada inovasi global.
  3. Berani mengambil keputusan sulit, tapi tetap merakyat dan transparan.
  4. Mampu menyatukan generasi tua dan muda, tanpa membenturkan sejarah dengan masa kini.

Refleksi Kritis untuk Pemuda Aceh

Kita harus bertanya: apakah kita siap menjadi pemimpin yang kita dambakan? Atau hanya bisa mengkritik, tanpa mau bertindak? Masa depan Aceh tidak akan berubah hanya dengan orasi dan status media sosial. Ia menuntut aksi nyata, kerja kolektif, dan etika yang kuat.

Pemuda Aceh harus mulai dari hal kecil: membangun komunitas, memberdayakan desa, belajar politik bersih, dan tidak tergoda untuk menjadi pion kekuasaan. Kita tidak butuh pemuda yang haus jabatan, tapi pemuda yang haus akan keadilan dan perubahan.

 Jalan Panjang Menuju Aceh Baru

Refleksi ini bukan sekadar tulisan, tapi undangan. Sebuah seruan untuk membangkitkan kembali kesadaran kolektif. Aceh akan terus melangkah, tapi siapa yang akan memimpin arah? Jika bukan generasi muda, siapa lagi? Jika bukan sekarang, kapan lagi?

Dari desa-desa kecil, akan lahir pemimpin besar. Dari pemuda yang sunyi, akan lahir suara yang mengguncang. Dan dari refleksi hari ini, semoga kita temukan sosok yang tepat untuk membawa Aceh menuju kejayaan di era digital yang penuh tantangan, namun juga harapan.


Penulis Azhari