Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Impian Satu Keluarga: Selalu Bersama dalam Satu Rumah, Menuju Taqwa dan Ridha Allah

Selasa, 10 Februari 2026 | 01:12 WIB Last Updated 2026-02-09T18:12:36Z
Di tengah dunia yang semakin bising oleh target, pencapaian, dan perlombaan hidup, ada satu impian yang terdengar sangat sederhana—namun justru paling mahal nilainya:memiliki satu keluarga yang tetap utuh, saling menjaga, dan tumbuh bersama dalam satu rumah, menuju taqwa dan ridha Allah.

Bagi banyak orang, rumah hari ini hanya tempat singgah. Tempat lelah ditumpahkan, lalu pagi hari ditinggalkan kembali oleh kesibukan.
Padahal, dalam pandangan iman, rumah bukan sekadar bangunan.

Rumah adalah madrasah pertama.
Rumah adalah ruang paling jujur untuk melihat siapa diri kita sebenarnya.
Dan rumah adalah tempat paling awal Allah menilai tanggung jawab kita sebagai orang tua, pasangan, dan anak.

Impian satu keluarga selalu bersama dalam satu rumah bukanlah impian tentang kemewahan.Ia adalah impian tentang kehadiran.
Hadirnya ayah yang tidak hanya pulang membawa nafkah, tetapi juga membawa waktu, perhatian, dan doa.

Hadirnya ibu yang bukan hanya mengurus rumah, tetapi menumbuhkan jiwa-jiwa yang lembut, beradab, dan mengenal Allah. Hadirnya anak-anak yang bukan sekadar tumbuh tinggi badannya, tetapi tumbuh akhlaknya.

Di zaman digital hari ini, banyak keluarga tinggal dalam satu atap,
namun sesungguhnya hidup di dunia yang berbeda-beda. Ayah sibuk dengan pekerjaan dan layar.
Ibu sibuk dengan kecemasan dan beban hidup. Anak sibuk dengan gawai dan dunianya sendiri.

Satu rumah, tetapi hati berjauhan.
Karena itu, impian satu keluarga selalu bersama dalam satu rumah sejatinya adalah impian untuk menghidupkan kembali makna kebersamaan.

Bukan hanya duduk di ruang yang sama,
tetapi saling mendengar.
Saling mendoakan.
Saling memaafkan.
Saling menguatkan ketika iman sedang lemah. Menuju taqwa tidak pernah bisa ditempuh sendirian. Taqwa tumbuh dari suasana.
Dari kebiasaan kecil yang diulang setiap hari.

Dari kalimat sederhana orang tua kepada anak:
“Sudah salat?”
“Sudah mengaji hari ini?”
“Jangan lupa berdoa sebelum tidur.”
Menuju ridha Allah pun bukan tentang rumah yang besar,tetapi tentang rumah yang jujur.
Rumah yang berani mengakui salah.
Rumah yang tidak gengsi meminta maaf.
Rumah yang tidak membiarkan marah bermalam terlalu lama.

Rumah yang tidak menormalisasi bentakan, kekerasan kata, dan dinginnya perhatian. Impian satu keluarga dalam satu rumah juga berarti berani menjaga keluarga dari perpecahan yang perlahan. Perpecahan bukan selalu datang dalam bentuk perceraian.

Kadang ia hadir lebih sunyi:
dalam komunikasi yang mati,
dalam sikap saling acuh,
dalam doa yang tidak lagi disebutkan satu sama lain.Keluarga yang menuju taqwa adalah keluarga yang terus berusaha, meski tidak sempurna.

Karena sejatinya, yang Allah minta bukan keluarga tanpa konflik, melainkan keluarga yang tidak berhenti kembali kepada-Nya setiap kali terluka.

Dan pada akhirnya, impian satu keluarga selalu bersama dalam satu rumah adalah doa yang sangat dalam maknanya:
Ya Allah, jangan hanya satukan kami dalam satu atap,tetapi satukan juga hati kami dalam iman.Jangan hanya jaga kami dari kekurangan dunia,tetapi jaga kami dari kehilangan arah menuju-Mu.

Sebab rumah yang dirindukan oleh seorang mukmin bukan hanya rumah di dunia,melainkan rumah yang kelak Allah izinkan kita tempati bersama kembali di surga-Nya.