Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Persiapan Orang Tua dalam Menghadapi Era Digital untuk Anak-Anak

Senin, 09 Februari 2026 | 22:40 WIB Last Updated 2026-02-09T15:42:45Z

Di banyak rumah hari ini, orang tua merasa telah menjalankan tugasnya ketika mampu membelikan gawai untuk anak, memasang paket data, dan memastikan anak “tidak ketinggalan zaman”. Padahal, di era digital, tugas orang tua justru baru dimulai ketika layar itu pertama kali menyala.

Sebab tantangan terbesar anak-anak hari ini bukan lagi soal akses pendidikan, tetapi soal siapa yang membentuk cara berpikir, cara merasa, dan cara memandang hidup mereka—orang tua, atau algoritma.
Di sinilah letak kegentingan peran orang tua di era digital.
Anak hidup di dunia yang tidak pernah kita alami
Orang tua hari ini sedang membesarkan anak di dunia yang tidak pernah mereka rasakan di masa kecilnya.
Dulu, pengaruh terbesar anak datang dari rumah, sekolah, dan lingkungan.
Kini, pengaruh itu datang dari:
konten yang tidak kita pilih,
figur publik yang tidak kita kenal,
dan sistem rekomendasi yang bekerja diam-diam.

Anak tidak hanya belajar dari guru.
Ia belajar dari video pendek, dari komentar warganet, dari gaya hidup para influencer, dari candaan yang berulang-ulang ia tonton.

Maka persiapan orang tua di era digital tidak cukup dengan satu kalimat klasik:
“Gunakan HP seperlunya.”
Yang dibutuhkan adalah kesiapan peran baru sebagai pendamping digital.
Persiapan pertama: orang tua harus belajar lebih dulu
Kesalahan paling umum orang tua adalah berharap anak bijak di dunia digital, sementara orang tuanya sendiri asing dengan dunia itu.

Bagaimana mungkin orang tua membimbing, jika:
tidak memahami cara kerja media sosial,
tidak mengerti algoritma konten,
tidak tahu bagaimana tren viral membentuk perilaku,
dan tidak memahami risiko eksploitasi, perundungan, serta manipulasi digital?
Persiapan utama orang tua bukan membeli aplikasi pengaman, melainkan memperbarui pengetahuan.
Orang tua perlu tahu:
apa yang ditonton anak,
siapa yang mereka ikuti,
dan narasi apa yang sedang mereka konsumsi.

Bukan untuk mencurigai, tetapi untuk memahami.
Di era digital, ketidaktahuan orang tua bukan lagi hal wajar. Ia menjadi celah besar bagi anak.
Persiapan kedua: membangun kedekatan, bukan sekadar pengawasan
Banyak orang tua memilih cara termudah: memeriksa ponsel anak, melarang aplikasi tertentu, atau membatasi waktu layar secara sepihak.

Padahal pengawasan tanpa kedekatan hanya melahirkan dua hal: kepatuhan semu dan kebohongan kecil yang berulang.
Anak yang merasa tidak didengar, akan mencari tempat bercerita di luar rumah.
Dan hari ini, tempat itu adalah dunia digital.

Persiapan orang tua seharusnya dimulai dari satu hal yang paling mendasar:
menjadi ruang aman bagi anak untuk bercerita.
Tentang:
apa yang ia lihat di internet,
apa yang membuatnya bingung,
apa yang membuatnya takut,
dan apa yang membuatnya merasa rendah diri.

Tanpa relasi yang hangat, semua aturan digital akan runtuh perlahan.
Persiapan ketiga: menanamkan adab digital sejak dini
Banyak orang tua rajin mengajarkan sopan santun di rumah.
Namun sering lupa bahwa anak juga hidup di ruang maya.

Padahal di sanalah anak belajar:
bagaimana menanggapi perbedaan,
bagaimana berbicara pada orang asing,
bagaimana menyikapi hinaan,
dan bagaimana menyebarkan informasi.
Persiapan orang tua harus mencakup satu konsep penting:
adab tidak berhenti di dunia nyata.
Anak perlu dibimbing untuk memahami bahwa:
menulis komentar adalah tanggung jawab,
menyebarkan informasi adalah amanah,
mengejek orang di dunia maya tetap melukai hati,
dan konten yang dibagikan bisa menjadi dosa atau pahala.

Bagi masyarakat yang kuat dengan nilai agama, termasuk di Aceh, pendidikan adab digital seharusnya menjadi kelanjutan alami dari pendidikan akhlak di rumah dan di meunasah.
Persiapan keempat: membangun daya kritis, bukan hanya kepatuhan
Orang tua sering berkata,
“Jangan percaya internet.”

Kalimat ini benar, tetapi tidak cukup.
Yang dibutuhkan anak bukan larangan, melainkan kemampuan memilah.
Anak harus diajari:
membedakan fakta dan opini,
mengenali judul yang menyesatkan,
memahami bahwa tidak semua yang viral itu benar,
dan tidak semua yang populer itu pantas ditiru.

Persiapan orang tua adalah membiasakan anak berdiskusi, bukan hanya mendengar perintah.
Bertanya kepada anak:
“Menurut kamu, ini benar atau tidak?”
“Kenapa kamu suka konten ini?”
“Apa pesan yang sebenarnya disampaikan?”
Dengan cara itu, anak dilatih berpikir, bukan sekadar patuh.

Persiapan kelima: menjaga kesehatan mental anak
Era digital tidak hanya menghadirkan informasi, tetapi juga tekanan.
Anak-anak hari ini hidup dalam:
perbandingan sosial,
tuntutan tampil sempurna,
rasa takut tertinggal,
dan kebutuhan akan pengakuan.

Tidak sedikit anak merasa dirinya gagal hanya karena hidupnya tidak seindah yang ditampilkan di layar.
Orang tua harus peka bahwa:
diamnya anak,
menarik diri,
mudah marah,
atau terlalu larut di gawai,
bisa jadi bukan soal malas, melainkan tanda kelelahan mental.

Persiapan orang tua adalah mengajarkan bahwa:
nilai diri anak tidak ditentukan oleh jumlah pengikut,
tidak diukur oleh jumlah likes,
dan tidak ditentukan oleh penilaian orang asing.
Rumah harus menjadi tempat anak merasa cukup.
Persiapan keenam: memberi teladan, bukan sekadar nasihat
Anak-anak adalah peniru terbaik.

Tidak ada pendidikan digital yang berhasil jika:
orang tua melarang anak bermain gawai,
sementara dirinya sibuk menatap layar sepanjang waktu.
Tidak ada adab digital yang kuat jika:
orang tua sendiri gemar menyebar kabar yang belum tentu benar,
mudah mencaci di media sosial,
dan larut dalam konflik digital.
Persiapan terpenting orang tua justru ada pada perilakunya sendiri.

Anak belajar bukan dari ceramah,
tetapi dari contoh yang mereka lihat setiap hari.
Penutup: orang tua adalah benteng terakhir anak di dunia digital
Pada akhirnya, secanggih apa pun sistem pendidikan, seketat apa pun regulasi negara, dan sebanyak apa pun kampanye literasi digital, semuanya akan runtuh jika rumah kehilangan perannya.

Di era digital, orang tua bukan lagi sekadar penyedia kebutuhan fisik anak.
Orang tua adalah:
pendamping jiwa,
penjaga nilai,
dan penentu arah.
Jika hari ini orang tua tidak mempersiapkan diri, maka yang akan mendidik anak-anak kita adalah dunia yang tidak pernah peduli pada masa depan mereka.

Dan kelak, ketika kita bertanya mengapa generasi tumbuh rapuh, mudah terpengaruh, kehilangan adab, dan miskin arah, barangkali jawabannya sederhana:
bukan karena teknologi terlalu kuat,
tetapi karena kita—sebagai orang tua—terlalu lambat bersiap.