Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Refleksi 26 November 2025, Bencana Aceh dan Kesadaran Manusia: Saat Teknologi Tumbang, Nurani Diuji

Minggu, 08 Februari 2026 | 04:17 WIB Last Updated 2026-02-07T21:24:35Z

Pasca banjir Di Aceh, kita kembali belajar satu pelajaran lama yang sering kita abaikan, bahwa di hadapan bencana, manusia hanyalah makhluk yang rapuh.
Jembatan putus.
Air langka.
Listrik mati.
ATM tak bernyawa.
Sinyal hilang.

Barang kebutuhan menghilang dari rak-rak.
Dan dalam sekejap, manusia modern yang merasa paling berkuasa, kembali hidup seperti manusia purba—gelap, terbatas, dan bergantung pada alam.
Bencana ini bukan sekadar peristiwa alam.
Ia adalah peristiwa kesadaran.
Aceh tidak hanya kehilangan akses jalan, tetapi kehilangan ilusi:
ilusi bahwa teknologi akan selalu menyelamatkan kita.

Kita sering membangun keyakinan seolah dunia telah aman di tangan mesin.
Data ada di server.
Uang ada di aplikasi.
Komunikasi ada di jaringan.
Namun saat listrik mati, semua kehebatan itu runtuh seperti istana pasir.
Di depan ATM yang tak menyala, kita baru sadar:

uang digital tidak bisa dibeli dengan doa,
dan jaringan tidak bisa dipanggil dengan kesombongan.
Yang tersisa hanyalah manusia dan kebutuhan paling dasarnya:
air, makanan, perlindungan, dan pertolongan.

Dan pada saat itulah, kita dipaksa kembali pada hakikat:
bahwa Allah Maha Kuasa atas segala yang kita banggakan.
Bencana Aceh kali ini seolah sedang berkata lirih,
tetapi tegas:
“Kalian boleh menguasai teknologi,
tetapi kalian tidak pernah menguasai alam.”
Lebih dari itu, kita tidak pernah menguasai hidup.

Kita bisa merancang kota, membangun jembatan, mengatur anggaran, menyusun sistem digital pemerintahan, tetapi kita tidak mampu menahan satu hujan yang datang pada waktunya sendiri.
Kita tidak bisa menahan satu arus sungai yang telah menemukan jalannya.
Dan kita tidak bisa menunda satu takdir yang telah Allah tetapkan.
Yang paling menyedihkan dari bencana bukanlah gelapnya malam tanpa listrik.
Tetapi gelapnya nurani sebagian manusia.
Saat barang langka, harga melonjak.
Saat orang kesulitan, ada yang melihat peluang.

Saat warga terjebak tanpa akses, ada yang sibuk membangun citra.
Di titik inilah bencana berubah menjadi cermin moral.
Apakah kita manusia yang tetap manusia ketika keadaan memburuk?
Ataukah kita hanya beradab ketika sistem masih bekerja?
Aceh, yang dalam sejarahnya dikenal dengan kekuatan iman dan solidaritas, hari ini diuji bukan oleh derasnya air, tetapi oleh ketulusan sesama.

Kita sering berbicara tentang pembangunan.
Tentang digitalisasi.
Tentang kota cerdas.
Tentang pelayanan berbasis teknologi.
Namun bencana ini mengajarkan satu hal penting:

pembangunan tanpa kesadaran spiritual dan kemanusiaan hanya akan melahirkan masyarakat yang rapuh.
Ketika listrik mati, yang menyala seharusnya empati.
Ketika jaringan terputus, yang tersambung seharusnya hati.

Ketika sistem runtuh, yang berdiri seharusnya kepedulian.
Tetapi kenyataannya, tidak semua siap menjadi manusia ketika teknologi tak lagi menolong.

Di tengah gelap dan keterbatasan, kita justru melihat kembali wajah asli peradaban.
Ada warga yang berbagi air meski dirinya sendiri kekurangan.
Ada yang membuka rumah untuk orang asing.

Ada relawan yang bekerja tanpa kamera.
Ada pemuda yang turun tanpa menunggu perintah.
Di sanalah Aceh yang sesungguhnya masih hidup.
Bukan Aceh yang sibuk berpidato,
bukan Aceh yang gemar mengutip ayat di mimbar,
tetapi Aceh yang mempraktikkan iman di lorong-lorong bencana.
Bencana ini juga menyentil para pemimpin.

Karena di tengah jembatan yang putus dan logistik yang terlambat, rakyat tidak membutuhkan janji.
Rakyat membutuhkan kehadiran.
Bukan sekadar hadir untuk difoto,
tetapi hadir untuk mendengar,
mengambil keputusan cepat,
dan memastikan tidak ada warga yang dibiarkan sendirian dalam gelap.
Kesadaran manusia tidak lahir dari baliho,
tetapi dari keberpihakan nyata.

Aceh memiliki sejarah panjang penderitaan: konflik, tsunami, kemiskinan struktural, dan ketimpangan pembangunan.
Namun setiap luka selalu menyisakan satu pesan, Allah tidak sedang menghancurkan Aceh, tetapi sedang membangunkan manusia-manusianya.

Bencana tidak datang untuk meruntuhkan iman,justru untuk menguji apakah iman itu masih hidup di tengah kenyamanan.
Hari ini, ketika air bersih sulit, listrik mati, dan teknologi lumpuh, kita seharusnya bertanya dengan jujur kepada diri sendiri:
Apakah selama ini kita terlalu percaya pada sistem,hingga lupa bergantung kepada Tuhan?Apakah kita terlalu sibuk membangun citra,hingga lupa membangun solidaritas?

Apakah kita terlalu bangga pada kemajuan,
hingga lupa pada kelemahan kita sendiri?
Bencana Aceh mengingatkan kita bahwa manusia modern sejatinya tidak lebih kuat dari manusia masa lampau.Yang membedakan hanya satu: apakah kita masih punya nurani. Dan pada akhirnya, kita harus mengakui dengan penuh kerendahan:

Allah Maha Kuasa atas segala jembatan yang putus,
atas air yang tiba-tiba langka,
atas listrik yang mati,
atas teknologi yang lumpuh,
dan atas kehidupan yang sewaktu-waktu dapat diubah arahnya.
Di saat semuanya hilang,
hanya iman dan kemanusiaan yang tersisa.

Maka jika kita ingin benar-benar bangkit dari bencana ini,
yang pertama harus kita pulihkan bukan hanya jalan dan jaringan—
tetapi kesadaran manusia.

Penulis Azhari 
Dosen uia