Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Jangan berhenti Jadi orang baik di tegah badai

Sabtu, 07 Februari 2026 | 19:41 WIB Last Updated 2026-02-07T12:41:55Z
 Menjadi Pelabuhan di Tengah Badai
Biarlah mereka menjadi badai yang menderu.

Kita tidak perlu ikut berlomba menjadi angin yang mematahkan.
Cukup menjadi pelabuhan—tempat orang pulang, menepi, dan menarik napas dari kerasnya dunia.

Di zaman yang gemar merayakan kegaduhan, kebaikan justru sering dianggap aneh.
Kejujuran terasa naif.
Ketulusan dicurigai.
Dan orang yang tetap memilih lurus, kerap dipandang sebagai “asing” di tengah kerumunan yang sudah terbiasa berbelok.
Padahal, dunia tidak sedang kekurangan orang pintar.

Yang langka justru manusia yang tetap waras di tengah rusaknya akal sehat kolektif.
Pertanyaan paling jujur dari bait di atas adalah:
“Jika semua ikut memadamkan pelitanya, lalu siapa yang tersisa untuk menuntun buta?”
Inilah krisis yang sesungguhnya.
Bukan krisis ekonomi.
Bukan pula krisis politik.
Melainkan krisis teladan.

Dalam banyak refleksi  tentang kepemimpinan, tentang rakyat di pengungsian pasca banjir, tentang birokrasi yang lamban, dan tentang generasi muda Aceh yang kehilangan arah, selalu ada satu benang merah yang sunyi: kebaikan perlahan tersingkir oleh kepentingan. Moral dikalahkan oleh strategi. Nurani ditukar dengan posisi.
Orang baik sering kalah cepat.

Orang tulus sering kalah berani.
Karena dunia hari ini lebih menghargai siapa yang paling keras bersuara, bukan siapa yang paling jujur menjaga nilai.
Maka, menjadi baik hari ini bukan lagi pilihan yang nyaman.

Ia adalah pilihan yang mahal.
Kita harus siap disalahpahami.
Siap dianggap bodoh.
Siap dicibir karena tidak ikut memanfaatkan celah.
Siap dibilang tidak realistis karena menolak jalan pintas.
Namun justru di situlah letak nilai kebaikan.

Kebaikan bukan proyek pencitraan.
Ia tidak hidup dari sorotan kamera.
Ia tidak tumbuh dari tepuk tangan.
Ia lahir dari kesetiaan kecil yang diulang setiap hari—bahkan ketika tidak ada yang melihat.
“Jangan biarkan getirnya dunia meracuni ketulusan.”

Kalimat ini bukan romantisme.
Ia adalah peringatan.
Getir dunia paling berbahaya bukan ketika ia melukai kita, tetapi ketika ia berhasil mengubah kita menjadi sama seperti yang kita keluhkan. Ketika orang yang dulu membenci ketidakadilan, perlahan belajar menikmati ketidakadilan selama itu menguntungkannya.

Di titik itulah kebaikan benar-benar kalah.
Dalam konteks sosial kita—khususnya di Aceh—kebaikan sering diuji di ruang-ruang yang sangat nyata:
di kantor pelayanan publik,
di ruang kelas,
di meunasah dan dayah,
di ruang rapat pemerintahan,
di media sosial yang cepat menghakimi.
Menjadi pelabuhan di tengah badai bukan berarti kita diam terhadap kezaliman.
Bukan pula berarti kita lemah.
Pelabuhan tetap berdiri di tepi ombak yang ganas.

Ia tidak melawan laut dengan kemarahan, tetapi dengan keteguhan.
Kebaikan juga begitu.
Ia tidak selalu teriak.
Ia memilih bertahan.
Dan yang paling penting dari bait itu adalah kesadaran spiritual yang sering kita lupakan:
Kebaikan bukan tentang imbalan atau balasan.

Ia adalah janji antara nurani dan Sang Pencipta.
Inilah yang membuat orang baik mampu tetap tegak meski dunia tidak adil kepadanya. Karena orientasinya bukan manusia, melainkan Tuhan. Bukan tepuk tangan, melainkan ridha.

Maka, ketika kita  menulis:
“Tetaplah menjadi ‘asing’ karena kebaikanmu, meski sekelilingmu merasa itu hal yang tabu,”
sejatinya ini bukan ajakan untuk menarik diri dari masyarakat, melainkan ajakan untuk tidak larut dalam normalisasi keburukan.

Sebab hari ini, yang berbahaya bukan hanya kejahatan.

Yang lebih berbahaya adalah ketika kejahatan dianggap wajar, dan kebaikan dianggap berlebihan.
Biarlah kita menjadi sedikit.
Tidak populer.
Tidak selalu menang.
Tidak selalu dimengerti.
Tetapi biarlah di tengah dunia yang sedang kehilangan arah, masih ada pelabuhan kecil yang menyala—agar mereka yang lelah oleh badai, tahu:
kebaikan belum mati.