“Ketidakadilan tidak membutuhkan rantai atau cambuk untuk memukulnya; cukup dengan mengisi perut dan mengalihkan pikiran, sampai orang-orang menerima batasan yang tak terlihat dan melupakan kebebasan serta martabat mereka.”
Kalimat ini terasa begitu dekat dengan wajah kehidupan kita hari ini. Ia tidak berbicara tentang penjara, borgol, atau senjata. Ia berbicara tentang bentuk penindasan yang paling halus—tetapi justru paling berbahaya: penindasan yang membuat manusia merasa baik-baik saja, padahal sedang perlahan kehilangan dirinya.
Dulu, ketidakadilan mudah dikenali. Ia hadir dalam bentuk larangan, kekerasan, intimidasi, dan represi terbuka. Rakyat tahu siapa yang menindas, siapa yang melawan, dan siapa yang menjadi korban. Hari ini, ketidakadilan tidak lagi berisik. Ia tenang, rapi, bahkan sering dibungkus dengan narasi kesejahteraan.
Perut diisi, pikiran dialihkan, lalu nurani dimatikan perlahan.
Ketika kenyang menjadi alat kekuasaan
Mengisi perut rakyat adalah kewajiban negara. Tidak ada yang salah dengan program bantuan, subsidi, atau intervensi sosial. Yang menjadi persoalan adalah ketika kebijakan sosial tidak lagi berangkat dari keadilan struktural, tetapi dijadikan alat untuk menenangkan kegelisahan publik tanpa menyentuh akar persoalan. Rakyat diberi bantuan, tetapi akses kerja tetap sempit.
Rakyat diberi paket sembako, tetapi harga kebutuhan pokok terus melambung.
Rakyat diberi panggung hiburan, tetapi ruang kritik semakin dipersempit.
Dalam kondisi seperti ini, kenyang tidak lagi sekadar kebutuhan biologis. Ia berubah menjadi instrumen politik. Bukan untuk membebaskan, tetapi untuk menunda kesadaran.
Di sinilah ketidakadilan menemukan bentuk barunya: bukan memukul tubuh, tetapi menidurkan pikiran.
Pengalihan pikiran sebagai industri
Hari ini, pengalihan pikiran tidak lagi dikelola secara sederhana. Ia menjadi industri. Ia bergerak melalui layar gawai, konten viral, sensasi, drama, konflik artifisial, dan pencitraan tanpa substansi.
Waktu publik habis untuk memperdebatkan hal-hal remeh, sementara kebijakan strategis lolos tanpa pengawasan serius. Isu besar ditenggelamkan oleh gosip, oleh pernyataan kontroversial yang sengaja dilemparkan untuk menguras emosi publik.
Orang menjadi sibuk berdebat, tetapi lupa bertanya:
siapa yang diuntungkan?
Inilah wajah baru penindasan: membuat rakyat lelah berpikir, sehingga lebih nyaman untuk sekadar menikmati hiburan dan menerima keadaan.
Batasan yang tak terlihat
Kalimat “batasan yang tak terlihat” adalah bagian paling mengerikan dari kutipan ini. Karena manusia jarang melawan sesuatu yang tidak ia sadari.
Batasan itu tidak tertulis.
Tidak ada larangan resmi.
Tidak ada sensor formal.
Tetapi perlahan, masyarakat belajar menahan diri sendiri.
Takut bersuara karena khawatir dianggap mengganggu stabilitas.
Takut berbeda pendapat karena takut diserang di ruang digital.
Takut kritis karena takut kehilangan akses, relasi, atau kesempatan.
Maka kebebasan tetap ada secara formal, tetapi mati secara fungsional.
Kita bebas berbicara—selama tidak menyentuh pusat kepentingan.
Kita bebas berpendapat—selama tidak mengusik kekuasaan.
Inilah penjara tanpa jeruji.
Martabat yang digadaikan secara sukarela
Yang lebih tragis, dalam situasi seperti ini, martabat tidak selalu dirampas. Ia sering kali diserahkan.
Ketika rakyat mulai berkata: “Yang penting bisa makan.”
“Yang penting ada bantuan.”
“Sudahlah, jangan ribut.”
Kalimat-kalimat itu tampak realistis. Tetapi di baliknya, ada kelelahan sosial yang berbahaya: kelelahan untuk berharap lebih adil.
Martabat manusia bukan hanya tentang bertahan hidup. Ia tentang hak untuk dihargai, didengar, dan ikut menentukan arah hidup bersama. Ketika standar hidup diturunkan sekadar menjadi soal perut, maka kebebasan menjadi kemewahan.
Di titik inilah ketidakadilan tidak perlu memaksa. Ia cukup menunggu.
Refleksi Aceh: dari sejarah perlawanan ke kenyamanan yang membius
Sebagai orang Aceh—yang sejarahnya dibentuk oleh perlawanan, keberanian, dan harga diri—kalimat ini seharusnya terasa seperti cermin yang keras.
Aceh pernah berdiri karena keberanian melawan ketidakadilan.
Aceh pernah hidup dengan narasi kehormatan, bukan sekadar kenyamanan.
Tetapi hari ini, di tengah rutinitas bantuan, proyek, seremonial, dan pencitraan, ada kekhawatiran yang pelan-pelan tumbuh: apakah kita sedang didorong menjadi masyarakat yang jinak secara politik, tetapi rapuh secara martabat?
Ruang-ruang diskusi mengecil.
Kritik sering dianggap ancaman.
Perbedaan pandangan cepat dicap sebagai pembangkangan.
Padahal, daerah yang sehat bukan daerah yang sepi kritik, melainkan daerah yang kuat menampung perbedaan.
Ketidakadilan yang paling berbahaya adalah yang terasa normal
Penindasan yang kasar melahirkan perlawanan. Penindasan yang halus melahirkan kebiasaan.
Ketika rakyat terbiasa hidup dengan ketimpangan, ketertutupan, dan kebijakan yang tidak transparan, maka yang rusak bukan hanya sistem, tetapi daya kejut moral masyarakat.Yang dulu dianggap tidak pantas, kini dianggap biasa.
Yang dulu dipertanyakan, kini diterima.
Inilah kemenangan terbesar ketidakadilan: ketika ia tidak lagi dipersoalkan.
Mengisi perut memang penting, tetapi tidak cukup Negara memang harus menjamin kebutuhan dasar. Namun negara juga wajib menjaga martabat warganya.
Bantuan sosial tidak boleh menggantikan hak atas pekerjaan yang layak, pendidikan yang bermutu, layanan publik yang adil, dan ruang partisipasi yang nyata.
Mengenyangkan rakyat tanpa membebaskan mereka dari ketergantungan adalah bentuk lain dari pengelolaan kemiskinan, bukan penghapusan kemiskinan.
Menghibur publik tanpa membuka ruang kritik adalah cara menunda konflik, bukan menyelesaikan masalah.
Penutup: menjaga lapar nurani
Mungkin, di tengah dunia yang sibuk mengenyangkan perut dan menghibur pikiran, yang paling perlu dijaga justru adalah satu hal yang semakin langka: lapar nurani.
Lapar untuk keadilan.
Lapar untuk kebenaran.
Lapar untuk kehidupan yang bermartabat.
Sebab ketika nurani sudah kenyang oleh kompromi, maka ketidakadilan tidak lagi membutuhkan cambuk. Ia cukup berjalan pelan—dan kita akan mengikutinya, tanpa sadar, sampai kebebasan benar-benar tinggal cerita.