tentang keberanian, kekuasaan, dan martabat warga
“Kebenaran tidaklah hilang; melainkan, kaulah yang takut akan cahaya… karena para budak terkadang mendambakan kehangatan sel mereka.”
Kalimat ini bukan sekadar sindiran. Ia adalah tamparan halus bagi kehidupan politik kita hari ini—politik yang sering kali tidak kekurangan data, tidak kekurangan fakta, tidak kekurangan saksi, tetapi justru kekurangan satu hal paling mendasar: keberanian untuk berdiri di pihak kebenaran.
Kebenaran tidak pernah benar-benar lenyap.
Ia ada di laporan, di lapangan, di suara rakyat kecil, di angka-angka yang tidak pernah dipublikasikan secara jujur.
Masalahnya bukan pada gelapnya realitas—melainkan pada ketakutan kita menghadapi cahaya.
Cahaya itu menyilaukan, karena ia membongkar
Dalam politik, kebenaran jarang disukai bukan karena ia salah, tetapi karena ia membongkar.
Ia membongkar kepentingan yang disembunyikan.
Ia membongkar kompromi yang selama ini ditutup rapi.
Ia membongkar siapa yang sebenarnya diuntungkan dan siapa yang dikorbankan.
Maka tidak mengherankan jika banyak orang—termasuk yang berpendidikan, yang memegang jabatan, yang mengaku mewakili rakyat—lebih memilih berada di area remang.
Di sana, mereka masih bisa berdalih.
Masih bisa bermain narasi.
Masih bisa menyelamatkan posisi.
Cahaya kebenaran terlalu jujur untuk politik yang hidup dari kelenturan sikap.
Ketika ketakutan lebih kuat daripada nurani
Kita sering mengira bahwa yang membuat seseorang diam adalah tekanan. Padahal dalam banyak kasus, yang membuat orang memilih bungkam adalah perhitungan.
Takut kehilangan jabatan.
Takut kehilangan akses.
Takut kehilangan relasi politik.
Takut tidak lagi diajak duduk di meja kekuasaan.
Maka kebenaran bukan dilawan dengan argumen, tetapi dengan strategi paling sederhana: diabaikan.
Dalam situasi seperti ini, politik tidak lagi berbicara tentang benar dan salah, tetapi tentang aman dan tidak aman.
Dan inilah awal dari kehancuran etika publik.
“Para budak mendambakan kehangatan sel”
Bagian paling getir dari kutipan ini bukan soal kebenaran, tetapi soal mentalitas.
“Para budak terkadang mendambakan kehangatan sel mereka.”
Ini bukan tentang rantai. Ini tentang kenyamanan.
Ketika seseorang terlalu lama hidup dalam sistem yang menekan, ia mulai belajar menyesuaikan diri. Bukan untuk melawan, tetapi untuk bertahan. Lambat laun, penjara tidak lagi terasa sebagai penjara, melainkan sebagai ruang aman.
Di dalam politik, sel itu bernama:
posisi,
fasilitas,
perlindungan kekuasaan,
dan rasa aman dari konflik.
Keluar dari sel berarti berhadapan dengan risiko.
Berhadapan dengan tekanan.
Berhadapan dengan kemungkinan disingkirkan.
Maka tidak sedikit yang akhirnya berkata dalam hati:
“Lebih baik tetap di sini, asal aman.”
Inilah tragedi politik yang paling sunyi:
ketika keterbelengguan justru dirawat, bukan dilawan.
Kebenaran kalah bukan karena lemah, tetapi karena sepi pembela
Dalam banyak peristiwa publik, kita melihat kebenaran muncul sebentar—lalu menghilang. Bukan karena terbantahkan, tetapi karena ditinggalkan.
Satu-dua orang bersuara.
Sisanya memilih menunggu.
Menunggu arah angin.
Menunggu sikap pimpinan.
Menunggu situasi aman.
Kebenaran yang seharusnya menjadi gerakan bersama, akhirnya menjadi beban segelintir orang.
Dan ketika mereka lelah, sistem kembali normal—normal dalam arti lama: nyaman bagi yang berkuasa, asing bagi yang tertindas.
Refleksi Aceh: sejarah besar, keberanian yang menipis?
Sebagai orang Aceh, Saudara Azhari tentu memahami bahwa daerah ini tidak dibangun oleh mentalitas sel.
Aceh lahir dari keberanian melawan.
Dari harga diri.
Dari sikap tidak tunduk pada ketidakadilan.
Namun hari ini, ada kegelisahan yang tidak bisa kita tutupi:
apakah keberanian itu masih hidup dalam praktik politik kita?
Ataukah kita hanya mewarisi simbol-simbol perjuangan, tetapi kehilangan nyali untuk bersuara ketika ketidakadilan hadir dalam bentuk yang lebih rapi dan lebih berizin?
Banyak orang tahu apa yang keliru.
Banyak pula yang bisa menjelaskannya dengan fasih.
Tetapi sedikit yang mau membayar harga untuk memperjuangkannya.
Kebenaran memang tidak memberi kenyamanan Inilah yang sering dilupakan.
Kebenaran tidak menjanjikan karier.
Tidak menjamin keamanan.
Tidak selalu membawa popularitas.
Dalam politik, berdiri di pihak kebenaran sering berarti berjalan sendirian, atau setidaknya berjalan lebih lambat karena tidak didorong oleh kepentingan besar.
Maka sangat manusiawi jika orang takut.
Namun, yang membuat sebuah masyarakat runtuh bukanlah ketakutan itu sendiri—melainkan ketika ketakutan dijadikan alasan untuk terus menunda keberanian.
Politik tanpa kebenaran hanya mengatur, bukan memimpin
Ketika kebenaran tidak lagi menjadi rujukan, politik berubah menjadi seni mengelola kepentingan, bukan seni mengelola keadilan.
Kebijakan dibuat untuk menenangkan, bukan menyembuhkan.
Narasi dibangun untuk menutup, bukan menjelaskan.
Partisipasi publik dijaga sebatas formalitas, bukan substansi.
Di sinilah peran pemimpin menjadi sangat menentukan.
Pemimpin bukan diuji saat situasi aman.
Pemimpin diuji ketika kebenaran berhadapan langsung dengan kepentingan.
Dan sering kali, pada titik inilah, cahaya itu dihindari.
memilih cahaya berarti siap kehilangan kehangatan palsu
“Kebenaran tidaklah hilang.”
Ia tidak pernah pergi.
Ia hanya menunggu siapa yang cukup berani menatapnya.
Tetapi siapa pun yang ingin hidup dalam cahaya harus siap kehilangan satu hal:
kehangatan palsu dari sel kenyamanan.
Dalam politik, memilih kebenaran berarti siap:
tidak disukai,
tidak diajak,
tidak dilindungi,
bahkan tidak dipahami.
Namun di situlah martabat seorang warga, seorang pemimpin, dan sebuah generasi diuji.
Karena sesungguhnya, yang membuat kita benar-benar menjadi merdeka bukanlah posisi, bukan fasilitas, bukan kedekatan dengan kekuasaan—
melainkan keberanian untuk mengatakan:
“Aku tahu ini benar, dan aku tidak akan bersembunyi dari cahayanya.”