Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Kerinduan Umat untuk di Dalam SurgaOpini Kehidupan – refleksi iman dan kemanusiaan

Sabtu, 07 Februari 2026 | 00:52 WIB Last Updated 2026-02-06T17:52:39Z

Ada satu rindu yang tidak pernah selesai disusun oleh kata-kata.Ia tumbuh di sela-sela doa, di ujung sujud, dan di antara letih kehidupan.
Rindu itu bernama: kerinduan umat untuk berada di dalam surga.

Namun sesungguhnya, kerinduan kepada surga bukanlah semata kerinduan akan taman, sungai susu dan madu, istana, atau kenikmatan yang tak terbayangkan. Ia lebih dalam dari itu. Ia adalah kerinduan untuk berhenti terluka. Kerinduan untuk tidak lagi dikhianati oleh dunia. Kerinduan untuk tidak lagi dipermainkan oleh kekuasaan, ditindas oleh keadaan, dan ditipu oleh janji-janji kehidupan.
Surga, bagi umat yang letih, adalah bahasa lain dari keadilan yang sempurna.

Surga sebagai jawaban bagi jiwa yang lelahDi tengah kehidupan hari ini, umat semakin sering hidup dalam keadaan terhimpit.
Ada yang lelah karena bekerja tetapi tak cukup untuk menghidupi keluarga.
Ada yang lelah karena jujur justru disisihkan.

Ada yang lelah karena menjaga nilai, tetapi ditertawakan oleh zaman.
Maka ketika seorang hamba menyebut surga dalam doanya, sering kali ia tidak sedang membayangkan istana. Ia sedang berkata lirih kepada Tuhannya:

“Ya Allah, izinkan aku beristirahat.”
Kerinduan umat kepada surga adalah kerinduan akan tempat di mana tidak ada lagi air mata yang harus disembunyikan, tidak ada lagi luka yang harus dipendam, dan tidak ada lagi ketidakadilan yang harus diterima dengan senyum palsu.
Surga adalah rumah pulang bagi mereka yang sepanjang hidupnya hanya menjadi tamu dalam kebahagiaan.

Surga bukan pelarian, tetapi arah hidup
Sayangnya, dalam sebagian cara berpikir hari ini, kerinduan kepada surga sering disalahpahami. Seolah-olah rindu surga berarti menyerah pada dunia. Seolah-olah membicarakan akhirat berarti menutup mata dari persoalan sosial, politik, dan kemanusiaan.

Padahal, justru sebaliknya.
Kerinduan sejati kepada surga melahirkan keberanian untuk hidup benar di dunia.
Seseorang yang sungguh rindu surga, tidak akan ringan menipu.
Tidak akan nyaman mengkhianati amanah.Tidak akan tega memiskinkan orang lain demi memperkaya dirinya.
Tidak akan tega membungkam suara yang dizalimi.

Karena ia tahu, surga tidak diwariskan oleh retorika, tetapi oleh akhlak.
Surga bukan hadiah bagi mereka yang pandai berbicara tentang agama, melainkan bagi mereka yang memikul nilai agama di dalam kehidupan.Di tanah Aceh, rindu surga sering lahir dari luka sosial, Sebagai orang Aceh—yang sejarahnya penuh luka, konflik, bencana, dan perjuangan—kerinduan kepada surga sering lahir dari pengalaman hidup yang tidak ringan.

Di kampung-kampung, masih ada rakyat yang berjuang untuk sekadar hidup layak.
Masih ada keluarga yang bertahun-tahun menunggu kepastian keadilan.
Masih ada anak-anak yang tumbuh di antara keterbatasan, sementara di tempat lain kemewahan dipertontonkan tanpa rasa bersalah.
Di tanah yang dikenal religius ini, surga sering menjadi bahasa paling jujur dari harapan orang kecil.
Karena tidak semua orang memiliki akses ke kekuasaan.

Tidak semua orang memiliki ruang untuk memperjuangkan haknya.
Tidak semua orang memiliki keberanian untuk melawan sistem yang kerap tidak berpihak.
Maka surga menjadi tempat mengadu terakhir:

ketika dunia gagal menghadirkan keadilan.
Rindu surga dan krisis keteladanan
Kerinduan umat kepada surga hari ini juga lahir dari satu kenyataan yang pahit:
krisis keteladanan.
Banyak yang berbicara moral, tetapi hidupnya jauh dari nilai.
Banyak yang mengutip ayat, tetapi menutup mata terhadap penderitaan.
Banyak yang menyebut agama, tetapi menghalalkan kebohongan.
Dalam situasi seperti ini, surga tidak hanya menjadi tempat yang diimpikan, tetapi menjadi standar moral yang diam-diam membandingkan dunia.
Surga adalah dunia yang seharusnya:
tanpa kepura-puraan,
tanpa pencitraan,
tanpa kemunafikan.
Rindu surga sejatinya adalah kritik halus terhadap kehidupan hari ini.
Surga bukan untuk yang sempurna, tetapi untuk yang terus berjuang
Tidak ada manusia yang benar-benar layak surga jika diukur dengan kesempurnaan. Kita semua penuh cacat. Penuh dosa. Penuh salah.

Namun Allah tidak menjanjikan surga kepada manusia yang tidak pernah jatuh.
Allah menjanjikan surga kepada manusia yang bangkit kembali.Kerinduan umat kepada surga sering kali tumbuh dari kesadaran akan kelemahan diri:
“Aku tidak sempurna, ya Allah.
Tapi aku tidak ingin menyerah menjadi lebih baik.”

Rindu surga bukan rindu orang suci.
Ia rindu orang yang terus berusaha menjaga imannya di tengah arus dunia yang kian liar.

Surga dan kerinduan untuk dipeluk oleh rahmatAda satu dimensi yang paling dalam dari kerinduan kepada surga:
kerinduan untuk dipeluk oleh rahmat Allah.
Di dunia, manusia sering diadili oleh masa lalu.

Kesalahan lama terus diungkit.
Label buruk sulit dilepaskan.
Tetapi di hadapan Allah, masih ada pintu taubat.
Masih ada ampunan.
Masih ada kesempatan.
Surga menjadi simbol bahwa manusia tidak harus terpenjara oleh masa silamnya.

Di sanalah, tidak ada lagi identitas sosial:
tidak ada pejabat,
tidak ada rakyat kecil,
tidak ada kaya,
tidak ada miskin.
Yang ada hanya hamba—dan rahmat Tuhannya.
Tetapi, surga tidak boleh membuat kita lupa duniaKerinduan kepada surga justru harus membuat umat lebih peduli kepada dunia.

Jika kita rindu surga, maka:
kita harus lebih jujur dalam pekerjaan,
lebih adil dalam memimpin,
lebih lembut kepada yang lemah,
lebih tegas terhadap kezaliman,
lebih berani membela yang tertindas.
Sebab surga bukan sekadar tujuan spiritual, tetapi nilai yang seharusnya dibawa ke bumi.

Mewujudkan sedikit rasa surga di dunia—melalui keadilan, kasih sayang, dan keberpihakan—adalah bukti bahwa kerinduan kita bukan kerinduan palsu.
Penutup: rindu yang membentuk karakter
Kerinduan umat untuk berada di dalam surga bukanlah kerinduan untuk lari dari realitas. Ia adalah kerinduan untuk menemukan kembali makna hidup.
Bahwa hidup bukan sekadar bertahan.
Bukan sekadar mengumpulkan.

Bukan sekadar memenangkan persaingan.
Tetapi tentang menjadi manusia yang tetap manusia—di tengah dunia yang semakin kehilangan nurani.
Dan mungkin, di tengah segala lelah yang kita rasakan hari ini, doa paling jujur yang bisa kita ucapkan adalah:
Ya Allah, jika dunia ini tidak mampu menjadi tempat yang adil bagi kami,
maka jangan Engkau tutup pintu surga-Mu untuk kami.