Di zaman ini, persoalan terbesar generasi bukan lagi soal akses teknologi, melainkan soal arah dalam menggunakan teknologi. Internet telah tersedia di genggaman, gawai telah menjadi teman paling setia, dan dunia digital telah menjelma sebagai ruang hidup baru. Namun pertanyaan yang jarang kita ajukan dengan jujur adalah:
untuk apa sebenarnya generasi kita menggunakan digital?
Sebab teknologi, secerdas apa pun ia dirancang, tetap menunjukkan watak penggunanya.
Digital tidak pernah berdiri netral. Ia hanya memperbesar apa yang ada di dalam diri manusia.
Digital sebagai ruang hidup, bukan sekadar alat
Bagi generasi hari ini—terutama anak muda—digital bukan lagi sekadar sarana komunikasi. Ia telah berubah menjadi:
ruang belajar,
ruang pergaulan,
ruang hiburan,
ruang ekspresi diri,
bahkan ruang pembentukan identitas.
Di situlah mereka membangun citra, mencari pengakuan, membandingkan diri, dan membentuk pandangan tentang dunia. Karena itu, konsep penggunaan digital tidak bisa lagi dibatasi hanya pada soal aman menggunakan internet atau bijak bermedia sosial. Konsepnya harus lebih dalam: bagaimana digital membentuk karakter generasi.
Jika digital hanya menjadi tempat pelarian dari realitas, maka generasi akan tumbuh lemah menghadapi kehidupan nyata.
Jika digital hanya menjadi tempat pamer dan pembuktian diri, maka generasi akan tumbuh rapuh terhadap kritik.
Jika digital hanya menjadi tempat konsumsi hiburan, maka generasi akan tumbuh miskin daya pikir.
Konsep pertama: digital sebagai ruang belajar yang sadar
Generasi hari ini hidup di tengah ledakan informasi. Namun banyaknya informasi tidak otomatis melahirkan generasi yang cerdas.
Justru yang terjadi adalah kelelahan informasi, kebingungan membedakan fakta dan opini, serta ketergantungan pada potongan video singkat yang dangkal. Konsep penggunaan digital yang sehat harus menempatkan digital sebagai ruang belajar yang sadar, bukan ruang hiburan tanpa kendali.
Artinya, generasi perlu dibiasakan untuk:
mencari sumber yang kredibel,
membaca lebih dari satu sudut pandang,
tidak menjadikan algoritma sebagai penentu kebenaran.
Belajar di dunia digital bukan soal cepat menemukan jawaban, tetapi tentang membangun cara berpikir.
Konsep kedua: digital sebagai ruang adab dan etika
Di dunia nyata, anak-anak kita diajarkan sopan santun, menghormati orang tua, menjaga lisan, dan menahan emosi. Namun di dunia digital, semua itu sering runtuh.
Orang mudah menghina karena tidak berhadapan langsung.
Mudah memaki karena tidak melihat wajah.
Mudah menuduh karena tidak menanggung akibat.
Maka konsep penggunaan digital bagi generasi harus menegaskan satu hal penting:
adab tidak berhenti di dunia nyata.
Generasi harus disadarkan bahwa:
mengetik juga memiliki konsekuensi moral,
membagikan konten juga memiliki tanggung jawab,
diam terhadap perundungan juga berarti ikut membiarkan kezaliman.
Di Aceh dan di banyak wilayah Indonesia yang kuat dengan nilai agama dan budaya, etika digital seharusnya menjadi perpanjangan dari nilai adab yang telah lama diajarkan di rumah, di meunasah, dan di sekolah.
Digital bukan ruang bebas nilai.
Ia adalah ruang ujian nilai.
Konsep ketiga: digital sebagai sarana berkarya, bukan sekadar konsumsi
Salah satu kelemahan generasi digital hari ini adalah terlalu lama menjadi penonton.
Menonton konten.
Menikmati hiburan.
Mengikuti tren.
Namun sangat sedikit yang diarahkan untuk membangun karya yang bermakna.
Konsep penggunaan digital harus bergeser dari:
digital sebagai tontonan
menjadi
digital sebagai alat penciptaan.
Generasi perlu didorong untuk:
menulis,
membuat video edukatif,
membangun komunitas belajar,
mempromosikan nilai budaya dan kearifan lokal, serta menghadirkan suara kebenaran di tengah kebisingan digital.
Tanpa konsep ini, dunia digital hanya akan melahirkan generasi yang sibuk meniru, tetapi miskin gagasan.
Konsep keempat: digital sebagai ruang dakwah nilai dan kebudayaan
Indonesia, termasuk Aceh, bukan hanya kaya sumber daya, tetapi kaya nilai dan identitas.
Sayangnya, ruang digital justru lebih ramai oleh budaya luar, gaya hidup instan, dan narasi yang sering tidak sejalan dengan nilai masyarakat kita.
Generasi tidak cukup hanya diajak “memfilter konten”.
Mereka harus diajak menjadi subjek peradaban digital.
Artinya, generasi perlu memandang digital sebagai:
ruang dakwah akhlak,
ruang penguatan identitas,
ruang perawatan memori sejarah,
ruang memperkenalkan budaya dan bahasa daerah.
Jika generasi tidak hadir sebagai pembawa nilai, maka digital akan menjadi jalan sunyi hilangnya jati diri.
Konsep kelima: digital sebagai ruang penguatan mental, bukan perusaknya
Tidak sedikit anak muda hari ini hidup dalam tekanan digital:
tekanan untuk terlihat bahagia,
tekanan untuk tampil sempurna,
tekanan untuk terus produktif,
tekanan untuk selalu diakui.
Tanpa disadari, media sosial membangun standar hidup semu. Banyak anak muda merasa gagal bukan karena hidupnya buruk, tetapi karena hidup orang lain terlihat lebih baik di layar.
Konsep penggunaan digital harus mengajarkan bahwa:
apa yang tampil di layar bukan gambaran utuh kehidupan.
Generasi perlu diajari untuk:
membatasi konsumsi konten yang merusak kesehatan mental,
memahami bahwa validasi digital bukan ukuran harga diri,
dan berani berjarak dari dunia maya ketika jiwa lelah.
Digital seharusnya menguatkan manusia, bukan menggerogoti kepercayaan dirinya.
Orang tua, sekolah, dan negara: siapa memegang kompas?
Konsep penggunaan digital bagi generasi tidak akan pernah berjalan jika:
orang tua hanya menyerahkan gawai,
sekolah hanya mengajarkan aplikasi,
dan negara hanya sibuk dengan regulasi teknis. Yang dibutuhkan adalah kompas nilai bersama.
Orang tua harus kembali menjadi pendamping, bukan sekadar pengawas.
Sekolah harus berani memasukkan etika digital, literasi kritis, dan perlindungan mental sebagai bagian dari pendidikan karakter.Confirm Negara harus membangun kebijakan yang tidak hanya mengejar talenta digital, tetapi membangun manusia digital.
Penutup: digital harus tunduk pada nilai, bukan sebaliknya, Pada akhirnya, konsep penggunaan digital bagi generasi bukan soal aplikasi apa yang dipakai, platform mana yang paling populer, atau teknologi apa yang paling mutakhir.
Konsep itu bertumpu pada satu kesadaran sederhana namun mendasar:
digital harus tunduk pada nilai manusia, bukan manusia yang tunduk pada algoritma.
Jika generasi hari ini hanya diajarkan cara menggunakan teknologi, tetapi tidak diajarkan cara menjaga nurani di dalam teknologi, maka kita sedang menyiapkan masa depan yang canggih, tetapi kosong arah. Namun jika sejak sekarang generasi dibimbing untuk memaknai digital sebagai ruang amanah—ruang belajar, ruang adab, ruang karya, dan ruang peradaban—maka teknologi justru akan menjadi jalan sunyi lahirnya generasi Indonesia yang kuat, berakar, dan bermartabat.