Saya menulis sebagai pembaca—sebagai orang luar—yang justru sering merasa bahwa Aceh terlalu sering dipahami secara keliru oleh dunia di luar dirinya.
Bagi kami di luar Aceh, Aceh bukan sekadar sebuah provinsi.
Aceh adalah nama yang selalu muncul setiap kali bangsa ini berbicara tentang keberanian, harga diri, iman, dan perlawanan terhadap ketidakadilan.
Namun, justru karena itulah, dari luar kami sering bertanya dengan jujur dan penuh hormat:
ke mana arah Aceh hari ini?
Dari kejauhan, kami melihat Aceh seolah sedang berdiri di dua persimpangan.
Di satu sisi, Aceh memiliki: sejarah besar, identitas yang kuat, kekhususan hukum, dan perhatian negara melalui Dana Otonomi Khusus.
Tetapi di sisi lain, kami juga membaca berita tentang: kemiskinan yang belum beranjak jauh,
pengangguran sarjana,
banjir yang berulang,
serta keluhan rakyat kecil yang kerap kalah suara dari kepentingan elite.
Sebagai orang luar, kami tidak ingin menggurui Aceh.
Kami sadar, hanya orang Aceh sendiri yang sungguh memahami luka dan harapan tanahnya.
Namun sebagai pembaca, kami ingin jujur menyampaikan satu kesan penting:
Aceh terlihat sangat kuat dalam simbol, tetapi belum cukup keras dalam membenahi sistem.
Kami melihat Aceh sangat menjaga nilai, adat, dan identitas.
Itu sesuatu yang langka di negeri ini.
Tetapi kami juga bertanya:
apakah nilai itu sudah benar-benar hidup di ruang kekuasaan?
apakah kejujuran, amanah, dan keberpihakan kepada rakyat kecil sudah menjadi standar dalam birokrasi dan politik Aceh?
Karena bagi kami yang berada di luar, syariat, adat, dan sejarah besar Aceh seharusnya tampil bukan hanya di ruang moral masyarakat, tetapi lebih dahulu di ruang kebijakan dan kepemimpinan.
Yang paling menggetarkan bagi kami justru bukan isu politik.
Yang paling menyentuh adalah cerita tentang: korban banjir yang lama menunggu hunian tetap, keluarga yang kehilangan rumah, dan anak-anak yang harus tumbuh dalam ketidakpastian.
Dari luar, kami melihat bencana di Aceh bukan lagi sekadar peristiwa alam. Ia sudah menjadi ujian serius terhadap keberpihakan negara dan pemerintah daerah kepada warganya.
Kami ingin menyampaikan satu harapan sederhana.
Semoga Aceh tidak hanya menjadi daerah yang dikenal karena masa lalunya yang agung, tetapi juga karena masa depannya yang adil.
Kami ingin suatu hari nanti, ketika orang di luar Aceh menyebut Aceh, yang terlintas bukan lagi:
“daerah konflik”,
“daerah miskin”,
atau “daerah rawan bencana”,
melainkan:
daerah yang berhasil membuktikan bahwa nilai Islam, adat, dan pemerintahan modern bisa berjalan beriringan secara bermartabat.
Dan kini, izinkan kami—sebagai pembaca dari luar Aceh—menunggu jawaban dari saudara-saudara di Aceh.
Bukan jawaban dalam bentuk slogan.
Tetapi jawaban dalam bentuk: arah perjuangan, keberanian generasi mudanya, dan keteguhan rakyatnya dalam mengawasi para pemimpin.
Aceh, menurut kami, terlalu berharga untuk dibiarkan hanya menjadi cerita tentang masa lalu.
Kami menanti jawaban Anda, orang Aceh.
Terimakasih pembaca, bila anda ada pandangan tentang Aceh, silahkan kirim ke email kami gppm.aceh@gmail.com