Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Perilaku Kekanak-kanakan yang Diam-Diam Membuat Keluarga Berpisah

Kamis, 19 Februari 2026 | 23:25 WIB Last Updated 2026-02-19T16:29:05Z
Perilaku Kekanak-kanakan yang Diam-Diam Membuat Keluarga Berpisah
Tidak semua perpisahan keluarga lahir dari pengkhianatan besar.
Tidak selalu pula berasal dari kekerasan, perselingkuhan, atau masalah ekonomi semata.

Sering kali, rumah tangga runtuh justru oleh sesuatu yang dianggap sepele: perilaku kekanak-kanakan—sikap dewasa yang menolak untuk benar-benar dewasa.
Perilaku ini tidak berisik.
Ia tidak selalu memukul.
Ia tidak selalu berteriak.

Tetapi ia menggerogoti keutuhan keluarga perlahan, seperti karat di dalam besi.
Ketika Ego Lebih Tinggi dari Tanggung Jawab
Perilaku kekanak-kanakan bukan soal usia. Banyak orang sudah menikah, sudah punya anak, sudah dipanggil ayah dan ibu—namun masih hidup dengan cara berpikir seorang anak.

Apa tandanya?
Tidak mau mengalah.
Tidak mau mendengar.
Tidak mau meminta maaf.
Selalu merasa paling benar.
Selalu mencari pembenaran, bukan perbaikan.
Di banyak keluarga, konflik bukan menjadi ruang belajar, tetapi berubah menjadi arena adu harga diri.
Yang ingin menang bukan kebenaran, melainkan ego.

Padahal, dalam rumah tangga, yang seharusnya diperjuangkan bukan siapa yang kalah atau menang—tetapi siapa yang paling serius menjaga keutuhan.
Sayangnya, perilaku kekanak-kanakan mengajarkan satu hal berbahaya:
“Kalau tidak sesuai dengan keinginanku, aku marah. Aku diam. Aku pergi.”
Diam, Ngambek, dan Menghukum Pasangan
Banyak keluarga hancur bukan karena ribut besar, melainkan karena diam yang berkepanjangan.
Ngambek.
Menyimpan kesal.
Menghindari komunikasi.
Menggunakan anak sebagai alasan untuk menyindir pasangan.

Menjadikan jarak sebagai senjata.
Ini adalah bentuk kedewasaan palsu.
Karena orang dewasa menyelesaikan masalah dengan dialog.
Anak-anak menyelesaikan masalah dengan menghindar.
Ketika pasangan mulai terbiasa saling menghukum—bukan saling memahami—maka yang rusak pertama kali bukan pernikahan, tetapi rasa aman di dalam rumah.

Dan ketika rumah tak lagi terasa aman secara emosional, perpisahan hanya tinggal menunggu waktu.
Menganggap Pasangan Sebagai Lawan
Perilaku kekanak-kanakan membuat pasangan diperlakukan seperti musuh.
Sedikit kesalahan dibesar-besarkan.
Sedikit perbedaan dianggap ancaman.
Kritik kecil diterjemahkan sebagai serangan pribadi.
Padahal pernikahan bukan persekutuan dua ego, melainkan pertemuan dua kelemahan.

Saat seseorang lebih sibuk mempertahankan citra diri dibanding memperbaiki diri, maka rumah tangga berubah menjadi medan perang sunyi.
Lebih menyedihkan lagi, dalam banyak keluarga kita—termasuk di Aceh—masalah ini sering disamarkan dengan kalimat:
“Biasa, namanya juga rumah tangga.”
Kalimat itu terlalu sering digunakan untuk menutupi kegagalan kita menjadi dewasa.
Tidak Siap Berubah, Tapi Ingin Dimengerti
Ciri paling kuat dari perilaku kekanak-kanakan adalah ini:
Ingin dipahami, tetapi tidak mau berubah.
Ingin dimengerti kelelahan, tetapi tidak mau belajar mengatur emosi.
Ingin dihargai, tetapi tidak mau belajar menghargai.
Ingin disayang, tetapi tidak mau belajar memperbaiki sikap.

Akhirnya, pasangan lelah sendirian.
Bukan karena tidak cinta—tetapi karena cinta terus dipaksa untuk mengalah tanpa pernah ditemani perubahan.
Dalam jangka panjang, yang retak bukan hanya hubungan suami-istri, tetapi juga kepercayaan.
Dan ketika kepercayaan mati, rumah tinggal bangunan.
Keluarga tinggal status.
Anak Menjadi Korban Paling Sunyi
Perilaku kekanak-kanakan orang tua selalu punya satu korban utama: anak.
Anak menyaksikan pertengkaran yang tidak selesai.

Anak tumbuh di tengah sindiran, diam dingin, dan jarak emosional.
Anak belajar bahwa cinta adalah konflik yang tidak pernah dirapikan.
Lebih buruk lagi, anak merekam itu sebagai pola.
Kelak, mereka akan mengulangi sikap yang sama—karena itulah yang mereka anggap normal.
Maka perpisahan keluarga bukan hanya menghancurkan satu rumah tangga, tetapi berpotensi melahirkan generasi dengan luka relasi yang diwariskan.

Dalam Budaya Kita, Dewasa Itu Tanggung Jawab
Di dalam nilai sosial dan keislaman masyarakat Aceh, kedewasaan bukan diukur dari usia, melainkan dari akhlak.
Dewasa berarti mampu menahan amarah.
Dewasa berarti berani meminta maaf lebih dulu.

Dewasa berarti mau memperbaiki diri, bukan sibuk mengoreksi pasangan.
Sayangnya, banyak orang ingin dihormati sebagai kepala keluarga, tetapi tidak mau menanggung beban kedewasaan sebagai pemimpin rumah.
Banyak pula yang ingin dihargai sebagai pasangan, tetapi tidak siap menurunkan ego sebagai manusia.

Keluarga Tidak Hancur Seketika
Keluarga tidak runtuh dalam satu malam.
Ia runtuh sedikit demi sedikit.
Oleh nada bicara yang keras.
Oleh sindiran yang dianggap bercanda.
Oleh sikap cuek yang dianggap sepele.
Oleh ego yang dibiarkan tumbuh tanpa kontrol.
Dan di balik semua itu, perilaku kekanak-kanakan bekerja dengan sangat rapi:
membuat kita merasa benar, sambil perlahan menjauhkan kita dari orang yang seharusnya paling dekat.

Belajar Dewasa Demi Menjaga Rumah
Menikah bukan hanya tentang menemukan pasangan hidup.
Menikah adalah keputusan untuk belajar dewasa setiap hari.
Belajar mengalah tanpa merasa kalah.
Belajar mengendalikan emosi sebelum bicara.
Belajar meminta maaf tanpa menunggu disudutkan.

Belajar memperbaiki diri, meskipun pasangan tidak sempurna.
Karena sesungguhnya, yang membuat keluarga bertahan bukan cinta yang besar, tetapi kedewasaan yang konsisten.
Dan sering kali, yang membuat keluarga berpisah bukan masalah besar—
melainkan kegagalan kita berhenti menjadi kekanak-kanakan di saat keluarga sangat membutuhkan kedewasaan kita.