Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Ketika Rawa Sudah Masuk ke Dalam Diri

Sabtu, 07 Februari 2026 | 01:04 WIB Last Updated 2026-02-06T18:04:21Z




“Anda bisa menarik seseorang keluar jika mereka jatuh jauh ke dalam rawa, tetapi Anda tidak bisa menarik rawa keluar jika rawa itu masuk jauh ke dalam diri seseorang.”

Kalimat ini menyentuh satu kebenaran yang sering kita abaikan dalam kehidupan:
bahwa masalah terbesar manusia bukan selalu pada keadaan di luar dirinya, melainkan pada apa yang sudah menetap di dalam batinnya.

Seseorang bisa diselamatkan dari kemiskinan.

Bisa dibantu keluar dari kegagalan.
Bisa ditolong dari tekanan hidup.
Tetapi ketika mentalitas pasrah, iri, dendam, malas berubah, dan takut berkembang sudah menjadi bagian dari cara berpikir, maka pertolongan dari luar sering kali berhenti menjadi efektif.
Yang tenggelam bukan lagi tubuhnya—tetapi jiwanya.

Menarik orang keluar lebih mudah daripada mengubah cara berpikir
Dalam banyak peristiwa hidup, kita sering menyaksikan orang yang diberi peluang, diberi akses, bahkan diberi kepercayaan—tetapi tetap kembali jatuh pada lingkaran yang sama.

Bukan karena tidak mampu.
Melainkan karena ia tidak benar-benar ingin keluar.

Rawa di luar mungkin sudah ditinggalkan,
tetapi rawa di dalam—rasa rendah diri, mental korban, kebiasaan menyalahkan keadaan, dan ketakutan untuk bertanggung jawab—masih menetap.
Inilah sebab mengapa perubahan yang hanya bersifat struktural sering tidak bertahan lama, jika tidak disertai perubahan batin.

Dalam konteks kehidupan kita di Aceh
Saudara sebagai orang Aceh—yang Anda sendiri sering menulis tentang generasi muda, martabat, dan arah masa depan Aceh—kalimat ini sangat relevan dengan kegelisahan yang selama ini Anda suarakan.

Aceh tidak kekurangan program.
Tidak kekurangan regulasi.
Tidak kekurangan dana dan intervensi kebijakan.

Yang sering kurang adalah keberanian kolektif untuk keluar dari mentalitas ketergantungan.
Ketika terlalu lama hidup dalam situasi sulit, sebagian masyarakat akhirnya menormalisasi keadaan itu. Rawa berubah menjadi kebiasaan. Bantuan menjadi sandaran. Dan harapan perlahan diganti dengan rutinitas bertahan.
Padahal, Aceh tidak lahir dari mentalitas bertahan.

Aceh lahir dari mentalitas melawan, berdaulat, dan bermartabat.
Rawa itu bernama cara kita memandang diri sendiri
Rawa yang paling berbahaya bukan kemiskinan.
Bukan kegagalan.
Bukan tekanan hidup..

Rawa yang paling berbahaya adalah cara kita memandang diri sendiri.
Ketika seseorang mulai yakin bahwa dirinya memang pantas tertinggal.
Ketika ia merasa tidak layak bermimpi.
Ketika ia takut berubah karena perubahan menuntut usaha dan risiko.

Pada titik itu, rawa sudah tidak lagi berada di luar.Ia sudah menyatu dengan identitas.
Maka siapa pun yang ingin menolong akan selalu kalah oleh satu hal:
ketiadaan niat untuk keluar.
Menolong tanpa membangunkan kesadaran hanya memindahkan lumpur
Banyak kebaikan dilakukan dengan niat tulus.

Banyak bantuan disalurkan.
Banyak program disusun.

Tetapi jika pertolongan tidak disertai upaya membangunkan kesadaran, maka yang terjadi sering hanya memindahkan lumpur—bukan mengeringkan rawa.
Seseorang diangkat, tetapi tidak dibekali keberanian untuk berdiri.
Diberi, tetapi tidak ditumbuhkan rasa tanggung jawab.
Dilindungi, tetapi tidak dilatih menghadapi realitas.
Kebaikan yang tidak disertai pendidikan batin bisa berubah menjadi jebakan kenyamanan.

Motivasi hidup: jangan biarkan rawa menetap di hati Kalimat ini seharusnya menjadi cermin personal bagi kita semua.
Apakah hari ini kita masih berjuang keluar dari kesulitan,
atau kita sudah berdamai dengan keadaan yang sebenarnya ingin kita ubah?
Apakah kita masih menyimpan harapan,
atau kita hanya mengatur ulang cara bertahan?


Hidup tidak selalu menuntut kita untuk segera sukses.Tetapi hidup menuntut kita untuk tetap bergerak.Selama seseorang masih mau belajar, mau disalahkan, mau memperbaiki diri, dan mau memulai ulang—rawa itu belum menang.

 perubahan sejati selalu dimulai dari dalam Anda bisa menarik seseorang keluar dari rawa,tetapi hanya dirinya sendiri yang bisa memutuskan untuk tidak membawa rawa itu pulang.
Karena perubahan sejati bukan tentang berpindah tempat,

bukan tentang berganti keadaan,
bukan tentang siapa yang menolong kita.
Perubahan sejati adalah ketika kita berani membersihkan batin kita sendiri—
dari rasa putus asa, dari kebiasaan menyalahkan, dari ketakutan untuk melangkah.Dan barangkali, inilah motivasi hidup yang paling jujur:
selama rawa belum kita izinkan tinggal di dalam diri,harapan selalu punya tempat untuk tumbuh kembali.