Di ujung senja yang retak,
namamu masih tinggal sebagai luka yang tak sempat sembuh.
Kita pernah jadi doa yang saling diaminkan,
namun berakhir sebagai kisah yang saling disalahkan.
Aku mengingatmu seperti hujan di bulan kemarau—
datang tak tepat, pergi meninggalkan gersang.
Kau ajarkan
aku tentang cinta,
lalu kau tinggalkan aku dengan cara paling kejam: terbiasa tanpamu.
Di ujung petaka itu, aku berdiri sendiri,
menggenggam sisa-sisa janji yang telah mati.
Tak ada lagi kita,
hanya aku yang perlahan belajar ikhlas dari kehilangan.
Mungkin kau telah bahagia di pelukan yang lain,
sementara aku masih merapikan puing-puing kenangan.
Namun suatu hari nanti,
aku tak lagi menyebut namamu sebagai luka—
melainkan sebagai pelajaran.
Karena ternyata,
tidak semua yang kita cintai harus kita miliki,
dan tidak semua yang pergi harus kita sesali.