:
Aceh adalah tanah yang tak pernah kekurangan cerita. Dari kisah para sultan, ulama pejuang, hingga rakyatnya yang rela berkorban demi harga diri, negeri ini telah melewati perjalanan panjang. Tapi kini, di abad ke-21 — ketika dunia dipenuhi teknologi, pergeseran nilai, dan derasnya arus informasi — Aceh dihadapkan pada tantangan yang tidak kalah berat dibanding masa kolonial dulu. Tantangan itu adalah bagaimana mempertahankan jati diri dalam masyarakat modern.
Aceh dan Modernitas: Antara Bangga dan Gagap
Di satu sisi, Aceh patut berbangga karena mampu menyimpan identitasnya di tengah arus globalisasi. Syariat Islam tetap menjadi payung hukum, adat istiadat masih dipertahankan di berbagai sudut gampong, dan semangat keacehan masih hidup di dada sebagian anak muda.
Namun di sisi lain, Aceh juga mulai gagap menghadapi kemajuan. Banyak hal yang belum selesai: tingginya angka kemiskinan, pengangguran, ketimpangan akses pendidikan, serta budaya konsumtif yang mulai menggantikan semangat produktif. Media sosial yang seharusnya menjadi ruang dakwah dan edukasi malah sering dipenuhi konten-konten dangkal tanpa makna. Aceh seolah berada di persimpangan: antara mempertahankan warisan atau mengejar modernitas yang kadang tanpa arah.
Meramu Tradisi dan Modernitas
Aceh tidak harus anti-modern. Justru, sejarah membuktikan bahwa Aceh dulu adalah negeri modern di zamannya. Pada abad ke-16, Aceh menjalin diplomasi dengan Turki Utsmani, Belanda, Inggris, bahkan Prancis. Aceh punya ilmuwan, ahli farmasi, insinyur kapal perang, dan penulis-penulis produktif.
Maka, yang perlu dilakukan bukan menolak modernitas, tetapi meramu modernitas dengan kearifan lokal dan nilai-nilai Islam. Anak muda Aceh harus belajar menguasai teknologi, tetapi tetap santun. Pemimpin Aceh harus membangun kota-kota modern, tetapi tetap menjunjung etika adat. Media sosial bisa digunakan untuk memperkuat dakwah dan pendidikan, bukan sekadar ajang pamer kemewahan.
Aceh di Masa Depan
Aceh harus membangun dirinya sendiri, tanpa terlalu berharap pada bantuan luar. Kekuatan utama Aceh ada di manusianya. Jika generasi mudanya berdaya, Aceh akan kuat. Bila pemudanya cerdas, Aceh akan maju. Bila pemimpinnya bersih dan jujur, Aceh akan mulia.
Kita butuh pemuda yang mampu berpikir global tapi tetap berpijak di bumi Aceh. Butuh ulama yang mampu berdakwah dengan bahasa modern. Butuh pebisnis yang bersaing di pasar internasional tapi tetap menunaikan zakat dan menyantuni yatim. Butuh politisi yang bukan sekadar mencari kekuasaan, tapi benar-benar berjuang untuk rakyat.
Aceh dalam masyarakat modern adalah peluang sekaligus ancaman. Peluang karena ada ruang untuk bangkit lebih cepat. Ancaman karena nilai-nilai luhur bisa terkikis jika tidak hati-hati. Kini tinggal pilihan kita: menjadi bangsa yang hanya mengenang masa lalu, atau menjadi bangsa yang membangun masa depan dengan fondasi kejayaan sejarah.
Aceh tidak boleh sekadar menjadi penonton di panggung dunia modern. Saatnya menjadi pemain utama — dengan cara kita, dengan nilai kita, dengan identitas kita.