Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Bek Ku’eeh Sesama Bangsa, Satu Persatuan untuk Aceh Mulia

Sabtu, 31 Mei 2025 | 01:45 WIB Last Updated 2025-05-30T18:45:43Z





Aceh adalah negeri yang dianugerahi kekayaan alam, sejarah gemilang, dan budaya luhur yang tak ternilai. Negeri yang dulu menjadi salah satu mercusuar peradaban di Asia Tenggara, pelabuhan penting jalur rempah dunia, dan tanah para syuhada yang mempertahankan harga diri bangsa dari segala bentuk penjajahan. Tapi hari ini, kita harus jujur mengakui, bahwa Aceh seringkali terjebak dalam konflik internal, iri hati, dan kebiasaan saling menjatuhkan.

Di warung kopi, di panggung politik, bahkan di media sosial, terlalu banyak energi yang dihabiskan untuk mencaci, menyindir, meremehkan, dan menjatuhkan anak bangsa sendiri. Padahal musuh terbesar kita bukanlah sesama anak Aceh, tapi ketertinggalan, kemiskinan, pengangguran, dan lunturnya martabat yang terus mengintai generasi ini.


Mental Ku’eeh yang Harus Dihapus

Dalam bahasa Aceh, ku’eeh berarti saling jegal, saling tikam, atau berusaha menjatuhkan orang lain agar diri sendiri bisa naik ke atas. Mental ini kerap menjadi penyakit sosial yang diwariskan turun-temurun tanpa sadar. Di kantor pemerintahan, di organisasi, di lembaga pendidikan, bahkan dalam komunitas kecil, mental bek ku’eeh sering muncul dalam bentuk bisik-bisik negatif, sabotase, atau ketidakmampuan menerima keberhasilan orang lain.

Selama mentalitas ini masih bercokol, jangan harap Aceh bisa berdiri gagah di mata bangsa lain. Karena negeri ini hanya akan menjadi arena perebutan kekuasaan, bukan tempat lahirnya karya besar.


Persatuan Itu Bukan Cuma Slogan

Sering kita dengar seruan “Aceh harus bersatu” — tapi kenyataannya, persatuan itu baru sebatas kata-kata. Kita mudah bersatu saat bencana, tapi kembali berpecah saat berebut proyek dan jabatan. Kita bersatu saat pilkada, tapi saling tikam setelah penghitungan suara.

Padahal, sejarah Aceh dulu menunjukkan bahwa kejayaan datang saat kita benar-benar bersatu. Saat Sultan Iskandar Muda menyatukan para uleebalang dan rakyat dalam satu visi mempertahankan Aceh dari Portugis. Saat para ulama dan pejuang bersatu di medan perang tanpa memandang asal kampung, suku, atau golongan.

Aceh mulia tidak akan terwujud selama persatuan hanya jadi jargon politik. Ia harus menjadi kesadaran kolektif, menjadi etos hidup, dan menjadi warisan nilai yang diajarkan sejak di rumah, di dayah, di sekolah, hingga ke pemerintahan.


Aceh Mulia Bukan Sekadar Aceh Kaya

Banyak orang berpikir, kalau Aceh kaya dengan dana otsus dan kekayaan alam, maka secara otomatis masyarakatnya mulia. Ini keliru besar. Kemuliaan suatu bangsa tidak diukur dari APBD-nya, tapi dari akhlak, solidaritas, dan mental bangsanya.

Aceh yang mulia adalah Aceh yang masyarakatnya saling menopang. Yang sukses tidak sombong, yang miskin tidak iri. Aceh yang pemimpinnya tidak rakus, yang rakyatnya tidak mudah dipecah belah. Aceh yang membangun masjid sekaligus memberdayakan fakir miskin di sekitarnya. Aceh yang bukan hanya piawai berdebat soal adat, tapi juga konsisten menjaga nilai adat itu sendiri.


Bek Ku’eeh, Peugah Peugot, Peumulia Bangsa

Saatnya kita kembali ke prinsip dasar orang Aceh: peugah peugot, peumulia bangsa — saling menguatkan, saling memuliakan, dan saling memberi ruang untuk sama-sama tumbuh. Aceh ini terlalu besar untuk dikuasai oleh segelintir orang, dan terlalu mulia untuk dirusak oleh mental egoisme.

Jika hari ini kita masih sibuk menjatuhkan, kapan kita akan membangun? Jika hari ini kita masih saling iri, kapan kita akan berprestasi?

Jangan sampai Aceh dikenal di luar hanya karena konflik internal dan polemik politiknya, sementara di dalam, rakyatnya semakin menderita tanpa arah.


Penutup: Mulailah dari Diri Sendiri

Persatuan bukan proyek pemerintah. Ia lahir dari hati yang bersih. Kita tidak bisa menunggu orang lain berubah, sebelum kita sendiri berhenti ku’eeh. Mari belajar menghargai, belajar menerima perbedaan, dan belajar bersyukur atas keberhasilan orang lain.

Aceh mulia itu lahir bukan dari banyaknya baliho yang bertuliskan persatuan, tapi dari keseharian rakyat yang saling tolong, saling hormat, dan saling jaga harga diri.

Bek ku’eeh sesama bangsa. Kita bersatu, kita kuat. Kita kuat, Aceh mulia.

Bireuen, 2025

Azhari