Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Peugah Lage But, Pubut Lage Na: Demi Kemajuan Aceh

Sabtu, 31 Mei 2025 | 01:48 WIB Last Updated 2025-05-30T18:48:35Z





Aceh adalah negeri yang sarat dengan petuah bijak, falsafah hidup, dan ungkapan adat yang menjadi kompas moral masyarakatnya. Salah satu nasihat lama yang sering terdengar di tengah orang tua kita dulu adalah “Peugah lage but, pubut lage na.” Sebuah ungkapan yang sederhana namun mengandung makna mendalam tentang keikhlasan berbicara, kejujuran bertindak, dan ketulusan dalam bermasyarakat.

Ungkapan ini sejatinya ingin mengingatkan kita semua bahwa kalau berkata jangan asal bunyi, kalau bertindak jangan asal jadi. Karena ucapan yang kosong dan tindakan tanpa tanggung jawab hanya akan menimbulkan kerusakan, bukan kemajuan.

Di tengah situasi Aceh hari ini, saya merasa ungkapan ini penting sekali untuk kita ingat dan hayati kembali. Karena terlalu banyak suara, tapi sedikit tindakan. Terlalu banyak janji, tapi minim bukti. Terlalu sering saling tuding, tapi lupa saling memperbaiki.


Bicara yang Benar, Bukan Asal Bunyi

“Peugah lage but” — berkata seperti orang bisu. Artinya, kalau bicara, hendaknya dengan makna, kejelasan, dan manfaat. Jangan asal bunyi, jangan hanya untuk sensasi, apalagi memecah belah.

Sayangnya, hari ini banyak orang berlomba bicara di media sosial, di forum politik, di warung kopi, tapi tanpa arah dan tanggung jawab. Kritik boleh, tapi yang membangun. Saran penting, tapi jangan menyelipkan niat menjatuhkan. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang pembicaraannya dipenuhi gagasan, bukan fitnah dan celaan.


Bertindak Jangan Asal Jadi

“Pubut lage na” — berbuat seperti orang tuli. Maksudnya, bertindak tanpa peduli dengan omongan orang yang hanya ingin menjatuhkan. Artinya, jika niat kita baik untuk kemajuan Aceh, teruslah berjalan, jangan terpengaruh cibiran.

Hari ini Aceh butuh lebih banyak orang yang bekerja diam-diam, bukan yang sibuk pencitraan. Kita butuh anak muda yang membangun desa tanpa menunggu proyek. Kita perlu pemimpin yang memulai perubahan tanpa harus menunggu aplaus. Aceh tak kekurangan orang pintar, tapi kita masih kekurangan orang yang tulus dan konsisten.


Falsafah Ini Jalan Kemajuan

Bayangkan jika prinsip “peugah lage but, pubut lage na” benar-benar kita terapkan dalam kehidupan berbangsa di Aceh. Kita tidak akan lagi dipenuhi dengan janji kosong saat pilkada. Tidak ada lagi kepala dinas yang hanya bicara program, tapi tak pernah turun ke lapangan. Tidak ada lagi politisi yang pintar berpidato, tapi nihil gagasan konkret.

Masyarakat pun akan terbiasa berkata jujur, saling mengingatkan dengan baik, bukan menusuk dari belakang. Para pemuda Aceh akan lebih memilih turun ke sawah, ke laut, ke hutan, membangun usaha bersama ketimbang sekadar mengkritik di ruang maya.

Aceh butuh lebih banyak tindakan, bukan sekadar pernyataan.


Saatnya Kita Menjadi Generasi Tindakan

Kita boleh bicara lantang tentang perubahan, tapi pastikan ada tindakan nyata yang mengikuti. Jangan hanya menyalahkan sejarah, pemerintah, atau elite politik. Tanyakan pada diri sendiri: apa yang sudah saya lakukan untuk kampung halaman saya?

Generasi Aceh hari ini seharusnya menjadi pelopor. Menjadi generasi yang tidak hanya cakap berkata, tapi cekatan berbuat. Yang tidak alergi kritik, tapi juga tidak diam saat melihat ketidakadilan. Kita harus menjadi pemuda-pemudi Aceh yang mampu berdiri di tengah riuhnya perpecahan dan tetap memegang teguh prinsip: berkata yang benar, berbuat yang nyata.

Kita Mulai Sekarang

Falsafah “Peugah lage but, pubut lage na” bukan sekadar warisan kata-kata, tapi warisan karakter bangsa Aceh yang harus hidup kembali di setiap diri kita. Mari kita jadikan prinsip ini sebagai pedoman sehari-hari: di rumah, di kantor, di organisasi, di pemerintahan, di pasar, di kampus, dan di ruang publik.

Karena kemajuan Aceh tak akan lahir dari suara kosong dan janji hampa. Ia akan datang dari keberanian berkata jujur dan ketulusan berbuat nyata.

Aceh kuat jika kita bicara dengan hati dan bekerja dengan tulus.

Bireuen, 2025

Azhari