Ada sebuah ungkapan bijak yang diwariskan para leluhur bangsa, “Jangan sekali-kali melupakan sejarah.” Presiden pertama Indonesia, Soekarno, pernah mengguratkannya dalam pidato monumental di hadapan bangsa yang masih muda usai kemerdekaan. Pesan itu bukan sekadar retorika, melainkan peringatan abadi: bangsa yang lupa sejarah, pelan tapi pasti, akan menuju kebinasaan.
Sejarah adalah nafas panjang peradaban. Di dalamnya tercatat jatuh bangun, luka, perjuangan, pengkhianatan, hingga kemuliaan anak bangsa. Setiap jengkal tanah yang kita pijak hari ini, berdiri di atas kisah-kisah agung yang tak boleh dilupakan. Namun, sayang, arus zaman dan godaan pragmatisme hari ini menjadikan generasi muda semakin jauh dari akar sejarahnya.
Lupa Sejarah Adalah Awal Kehancuran
Lupa sejarah bukanlah sekadar tidak tahu nama pahlawan atau peristiwa penting masa lalu. Lebih dari itu, lupa sejarah adalah ketika bangsa kehilangan arah, menyingkirkan nilai luhur pendiri negeri, dan membiarkan kemunafikan bercokol di pusat-pusat kekuasaan. Ketika sejarah diabaikan, pelajaran masa lalu terbuang, dan bangsa pun rawan mengulang kesalahan serupa.
Lihatlah bagaimana peradaban-peradaban besar dunia runtuh bukan semata karena serangan dari luar, melainkan akibat pengkhianatan, korupsi, ketamakan elit, dan rakyat yang lupa siapa dirinya. Roma, Byzantium, Ottoman, hingga Aceh Darussalam, semua meninggalkan jejak pahit yang semestinya jadi pelajaran. Tapi apakah kita belajar? Atau sekadar membaca nama-nama itu sebagai catatan mati di buku pelajaran?
Ketika Sejarah Dimanipulasi
Lebih tragis dari lupa adalah ketika sejarah dipelintir demi kepentingan kelompok. Di negeri ini, terlalu banyak kisah yang sengaja dikaburkan. Para pahlawan diubah wajahnya, para pejuang disingkirkan, dan pengkhianat malah dimuliakan. Sejarah yang seharusnya jujur, kini terancam menjadi alat legitimasi kekuasaan.
Tak sedikit daerah-daerah yang kehilangan kisah aslinya. Aceh, sebagai contoh, perlahan mulai pudar dalam ingatan kolektif bangsa. Kisah heroik rakyatnya, kepiawaian diplomasi sultan-sultannya, hingga perlawanan berdarah terhadap kolonialisme, mulai digantikan narasi-narasi tempelan yang tak berpihak. Generasi hari ini lebih hafal tanggal promosi e-commerce ketimbang peristiwa penting bangsanya.
Bangsa Besar Adalah Bangsa yang Merawat Ingatan
Sejarah bukanlah beban masa lalu, melainkan panduan moral dan politik di masa depan. Bangsa yang kuat bukan sekadar memiliki teknologi canggih atau gedung-gedung tinggi, tapi bangsa yang menjaga ingatan kolektifnya. Karena di sanalah harga diri dan jati diri disematkan.
Negara-negara maju paham betul arti penting sejarah. Jepang tetap memperingati tragedi Hiroshima-Nagasaki sebagai luka kolektif. Vietnam bangga menyimpan kisah perang gerilya melawan Amerika. Turki menempatkan tokoh seperti Ataturk dalam posisi terhormat di ingatan bangsanya, meski tak luput dari kritik.
Lalu bagaimana dengan Indonesia? Apakah kita cukup serius merawat ingatan sejarah? Ataukah kita sibuk mempercantik citra hari ini sembari menimbun kisah kelam di masa lalu?
Sejarah Adalah Cermin, Bukan Kuburan
Kita perlu memahami, sejarah bukan untuk ditangisi atau disesali. Sejarah adalah cermin untuk bercermin, melihat siapa diri kita sesungguhnya, dan menyusun arah masa depan dengan sadar. Bila hari ini korupsi merajalela, pemimpin ingkar janji, rakyat mudah dibeli, itu bukan tanpa sebab. Bisa jadi karena bangsa ini alpa belajar dari kisah masa lalunya.
Sultan Iskandar Muda dulu pernah menegakkan keadilan di Aceh dengan tangan besi demi menjaga harga diri negeri. Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien berjuang hingga darah penghabisan bukan demi kekuasaan, tapi untuk martabat rakyatnya. Bila kisah-kisah itu tak lagi dikenang, bagaimana kita bisa berharap lahir generasi yang berani dan bermoral di masa depan?
Penutup: Saatnya Kembali ke Sejarah
Bangsa ini perlu revolusi ingatan. Sejarah harus kembali ditempatkan di panggung utama pendidikan, kebijakan publik, bahkan ruang-ruang digital. Museum jangan hanya jadi tempat kunjungan siswa saat studi tour. Pahlawan jangan cuma diperingati tiap 10 November. Sejarah harus hidup dalam pikiran, tindakan, dan kebijakan.
Karena bangsa yang melupakan sejarahnya, sedang menyiapkan liang kuburnya sendiri.
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya.” Jangan sampai kalimat itu tinggal klise tanpa makna. Sebab ketika sejarah ditinggalkan, maka binasalah bangsa itu, tanpa perlu menunggu serangan dari luar.
Azhari,