Di tengah kemajuan zaman dan gempuran arus digital, banyak hal yang berubah dalam kehidupan masyarakat Aceh. Tradisi mulai memudar, nilai-nilai adat perlahan kabur, dan yang paling menyedihkan: sejarah mulai terlupakan. Generasi milenial Aceh hari ini lebih akrab dengan lagu viral TikTok, drama Korea, atau tren Instagram ketimbang kisah-kisah perjuangan indatu (leluhur) mereka. Padahal di atas tanah inilah tumpah darah para syuhada dan pejuang besar Nusantara mengukir sejarah.
Aceh bukan sekadar provinsi di ujung barat Indonesia. Ia adalah negeri berdaulat yang pernah ditakuti kolonialisme Barat, dan disebut Serambi Mekkah karena peran pentingnya dalam penyebaran Islam ke Asia Tenggara. Sayangnya, kebesaran itu kini tinggal bayang-bayang yang nyaris lenyap dari ingatan anak mudanya.
Generasi Milenial dan Krisis Memori Sejarah
Generasi milenial Aceh tumbuh dalam era internet yang serba instan dan cepat. Informasi datang silih berganti, tapi hanya sedikit yang benar-benar bermakna dan membentuk karakter. Kebanyakan sekadar hiburan sesaat. Kita menyaksikan anak-anak muda yang fasih membahas tren K-pop, deretan youtuber, hingga selebgram, namun gagap ketika ditanya siapa Sultan Iskandar Muda, Cut Nyak Dhien, atau Tgk. Chik di Tiro Muhammad Saman.
Lebih parah lagi, sebagian generasi milenial menganggap sejarah Aceh tak lagi relevan. Mereka merasa masa lalu hanya milik buku pelajaran dan museum yang membosankan. Padahal di sanalah tersimpan pelajaran tentang identitas, keberanian, dan harga diri bangsa Aceh. Lupa sejarah berarti memutus tali ingatan kolektif yang menjadi penyangga jati diri.
Kenapa Sejarah Aceh Mulai Terlupakan?
Ada beberapa faktor yang membuat sejarah Aceh kian terpinggirkan di hati generasi muda:
-
Minimnya edukasi sejarah yang menarik. Pelajaran sejarah di sekolah hanya sebatas hafalan tanggal dan nama tokoh, tanpa menghidupkan nilai moral dan semangat perjuangan di baliknya.
-
Kurangnya ruang diskusi sejarah di publik. Media, platform digital, hingga ruang komunitas jarang menghadirkan obrolan tentang sejarah lokal yang membumi dan relevan dengan situasi kekinian.
-
Arus budaya luar yang masif. Globalisasi membuat budaya asing lebih mudah diakses, sementara budaya dan sejarah lokal seolah tersisihkan karena dianggap ketinggalan zaman.
-
Trauma konflik masa lalu. Sejarah Aceh yang penuh luka akibat konflik politik dan militer di masa lalu membuat sebagian masyarakat enggan membahasnya.
-
Kegagalan elite daerah dalam merawat narasi sejarah. Banyak pemimpin lokal yang sibuk pada proyek infrastruktur, tapi abai membangun memori kolektif sejarah melalui festival, museum hidup, atau digitalisasi sejarah Aceh.
Dampak Lupa Sejarah bagi Aceh
Lupa sejarah bukan soal remeh. Saat sebuah generasi tak lagi mengenal asal-usulnya, maka mudah bagi kekuatan luar atau ideologi asing merusak tatanan sosialnya. Aceh yang dulu dikenal sebagai tanah ulama, pejuang, dan sultan besar bisa kehilangan arah ketika anak mudanya lebih bangga menjadi follower budaya asing daripada pewaris budaya dan sejarah indatu.
Tanpa ingatan sejarah, nilai-nilai adat Aceh akan luntur. Konsep adat bak po teumeureuhom, hukom bak syiah kuala, qanun bak putroe phang, reusam bak laksamana tinggal slogan kosong tanpa makna di kehidupan sehari-hari. Hilangnya sejarah akan memperlemah semangat kolektivitas, solidaritas sosial, dan keberanian generasi Aceh menghadapi tantangan global.
Membangunkan Kembali Kesadaran Sejarah Milenial Aceh
Perlu upaya serius dan sistematis untuk membangunkan kembali kesadaran sejarah di kalangan generasi milenial Aceh:
-
Revitalisasi kurikulum sejarah lokal di sekolah, agar tak hanya memuat hafalan, tapi kisah hidup para pahlawan yang membangkitkan inspirasi.
-
Menggunakan platform digital sebagai media edukasi sejarah. Aceh harus punya kanal YouTube sejarah, TikTok edukasi sejarah Aceh, hingga podcast bertema sejarah lokal yang dikemas ringan dan menarik.
-
Menghidupkan kembali festival sejarah dan budaya di daerah. Bukan hanya sekadar seremonial, tapi sebagai ruang anak muda berkreasi mengenalkan kembali kisah masa lalu Aceh lewat film pendek, musikalisasi puisi, dan pameran digital.
-
Mendorong pemimpin daerah mengarusutamakan narasi sejarah dalam kebijakan budaya dan pendidikan.
-
Digitalisasi arsip dan manuskrip kuno Aceh agar mudah diakses generasi milenial tanpa harus ke museum.
Penutup: Aceh Tanpa Sejarah Adalah Aceh Tanpa Diri
Aceh bukanlah Aceh tanpa sejarah. Bukan Aceh tanpa kisah perang samudra, Cut Nyak Dhien di pedalaman Seulawah, atau kisah haru syahidnya Teuku Umar di Meulaboh. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya. Sebagaimana kata orang tua Aceh, “Peu haba di balee, peu ingat di dalam dada, peu syahid di kubur indatu, peu ranup di seumantok Aceh.”
Hari ini, generasi milenial Aceh harus kembali bertanya: Siapakah aku tanpa sejarah bangsaku? Jika kita tak mampu menjawab, maka tinggal menunggu waktu, Aceh hanya akan jadi nama di peta, tanpa ruh perjuangan dan harga diri.
Maka mari kita mulai hari ini. Kenali sejarah Aceh, kenanglah para pejuangnya, rawat adatnya, dan bawa kebesaran itu ke masa depan. Karena generasi tanpa sejarah adalah generasi yang sedang menunggu binasa.
Azhari