Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Jejak Langkah Sang Guru Nusantara: Rute Perjalanan Ilmu Syekh Abdur Rauf As-Singkili

Minggu, 25 Mei 2025 | 19:31 WIB Last Updated 2025-05-25T12:31:53Z

Di antara deretan ulama Nusantara yang namanya harum hingga ke Tanah Haramain, Syekh Abdur Rauf As-Singkili atau Syekh Kuala (1615–1693 M) adalah sosok yang tak bisa diabaikan. Ulama agung ini bukan hanya menjadi kiblat keilmuan di Aceh Darussalam, tapi juga menorehkan jejak yang dalam di berbagai penjuru dunia Islam pada masanya.

Di balik nama besarnya, ada sebuah kisah perjalanan ilmu yang panjang, penuh kesungguhan, dan penuh makna, yang sayangnya jarang diangkat secara utuh ke hadapan generasi muda Aceh hari ini. Padahal, dari jejak kaki beliau, kita bisa belajar tentang mental pelajar sejati, tentang cinta ilmu, dan tentang bagaimana seharusnya sebuah peradaban dibangun.

Dari Singkil ke Haramain: Perjalanan Ilmu yang Menembus Gurun

Syekh Abdur Rauf lahir di Singkil, wilayah barat Aceh, yang kala itu masih termasuk wilayah Kesultanan Aceh Darussalam. Sejak muda, ia menunjukkan ketekunan luar biasa dalam menuntut ilmu. Setelah menimba pelajaran di dayah-dayah lokal Aceh, beliau memutuskan merantau ke Tanah Arab — sebuah keputusan berani pada masa di mana perjalanan lintas benua adalah hal yang penuh resiko.

Dari catatan kitab 'Umdatul Muhtajin yang beliau tulis, terungkap rute perjalanannya:

Yaman: Syekh Kuala belajar di berbagai kota seperti Aden, Zabid, Mukha, Tayy, Bait al-Faqih, dan Maza’. Di sini beliau mendalami berbagai ilmu dasar keislaman, termasuk ilmu nahwu, sharaf, tafsir, hadis, dan tasawuf.

Qatar (Doha): Ia melintasi gurun pasir dan singgah di Doha untuk menyerap ilmu dari para guru yang menetap di sana.

Jeddah, Makkah, Madinah: Di pusat peradaban Islam ini, Syekh Abdur Rauf menuntut ilmu selama bertahun-tahun, berguru kepada 19 ulama besar dunia Islam, di antaranya:

Syekh Muhammad bin Abdul Baqi al-Qusyasyi

Syekh Ibrahim al-Kurani, yang terkenal sebagai guru utama para ulama Nusantara di Makkah.

Di sini pula beliau memperdalam ilmu tasawuf, fikih, tafsir, hadis, falak (astronomi), geografi, hingga farmasi, menjadikannya sebagai ulama multidisipliner yang langka di masanya.

Mengapa Rute Ini Penting Diketahui?

Sebagian orang hari ini mungkin menganggap informasi tentang rute perjalanan ulama tempo dulu sebagai sekadar nostalgia. Padahal, jejak ini adalah peta mental bagi generasi kita. Rute itu bukan sekadar titik-titik geografis, tapi menunjukkan bahwa ilmu harus dicari dengan kesungguhan, meski harus melintasi lautan dan padang pasir.

Syekh Abdur Rauf menempuh jarak ribuan kilometer tanpa pesawat, tanpa kapal cepat, dengan resiko perampok, wabah, dan kelaparan, demi satu hal: ilmu dan keberkahan. Lantas, bagaimana mungkin kita, di era teknologi ini, justru malas mencari ilmu, bahkan untuk hal-hal yang tersedia di ujung jari?

Aceh: Pernah Menjadi Pusat Keilmuan Dunia

Perjalanan Syekh Kuala juga membuktikan betapa Aceh pernah menjadi simpul penting dalam jaringan ulama dunia. Ketika beliau kembali ke Aceh, Kesultanan Darussalam menempatkan beliau sebagai Mufti Kerajaan, guru para sultanah, dan pemimpin spiritual rakyat Aceh.

Dari Aceh, ilmu-ilmu yang beliau bawa kembali disebarkan ke seluruh penjuru Nusantara, bahkan sampai ke Pattani dan Champa. Murid-muridnya — salah satunya Syekh Abdul Muhyi Pamijahan di Jawa Barat — kemudian menjadi ulama besar di wilayahnya masing-masing, mewarisi ajaran-ajaran Syekh Kuala.

Refleksi untuk Generasi Aceh Masa Kini

Rute perjalanan Syekh Abdur Rauf adalah simbol keberanian intelektual. Dalam konteks hari ini, semangat itu harus diterjemahkan menjadi keberanian untuk keluar dari zona nyaman, menuntut ilmu ke berbagai tempat, memperluas cakrawala, dan menebarkan manfaat bagi masyarakat.

Jangan hanya bangga bahwa Aceh punya ulama besar di masa lalu, tapi jadikan itu tanggung jawab moral untuk membuktikan bahwa anak Aceh hari ini mampu mengulang sejarah itu dalam bentuk yang lebih relevan.

Maka Rute perjalanan ilmu Syekh Abdur Rauf As-Singkili adalah warisan yang seharusnya diajarkan di sekolah, ditulis ulang dalam buku, difilmkan, dan dijadikan inspirasi. Karena di balik nama besar beliau, tersimpan pesan abadi:
“Ilmu adalah bekal utama, dan menuntut ilmu adalah jihad yang tiada henti.”

Semoga Aceh kembali melahirkan generasi pencinta ilmu seperti beliau. Dan semoga berkah ulama-ulama kita tetap menyinari tanah ini.