Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Jejak Pengaruh Ulama Aceh di Tanah Jawa dalam Penyebaran Islam

Minggu, 25 Mei 2025 | 11:03 WIB Last Updated 2025-05-25T04:03:25Z



Di balik megahnya masjid-masjid tua di Tanah Jawa, di antara hikayat Wali Songo yang melegenda, tersembunyi kisah tentang peran penting ulama dari Aceh. Aceh, yang dikenal sebagai Serambi Makkah, bukan hanya menjadi benteng Islam di ujung barat Nusantara, tetapi juga berperan besar menyemai benih Islam ke berbagai penjuru, termasuk ke Tanah Jawa. Sayangnya, kisah ini masih jarang diangkat ke permukaan. Saatnya kita menengok kembali jejak sejarah itu, agar kita sadar bahwa Islam Nusantara berdiri atas jaringan keilmuan yang luas dan saling menguatkan.

Aceh: Serambi Makkah, Pusat Ilmu dan Dakwah

Pada abad ke-16 hingga 17 Masehi, Kesultanan Aceh Darussalam menjadi pusat dakwah dan studi Islam terbesar di Asia Tenggara. Ulama-ulama besar bermukim di Aceh, dan kitab-kitab dari Makkah, Madinah, Turki Utsmani, hingga Gujarat berseliweran di dayah-dayah Aceh. Aceh bukan hanya tempat belajar bagi masyarakatnya sendiri, tapi juga menjadi tujuan santri-santri dari seluruh Nusantara, termasuk dari Jawa.

Sebagai pusat intelektual, Aceh melahirkan banyak ulama yang tak hanya berkiprah di wilayahnya, tetapi juga menyebar ke berbagai penjuru. Beberapa di antaranya menjalin hubungan erat dengan kerajaan-kerajaan Islam di Tanah Jawa. Ulama Aceh menjadi bagian dari jaringan penyebaran Islam yang damai, penuh kearifan, dan menyesuaikan diri dengan budaya lokal.

Syekh Abdurrauf as-Singkili dan Murid-murid Jawa

Salah satu ulama besar Aceh yang memiliki pengaruh hingga Tanah Jawa adalah Syekh Abdurrauf as-Singkili, atau lebih dikenal dengan Syiah Kuala. Ia seorang ahli tafsir, fiqih, dan tasawuf yang karyanya menjadi rujukan utama di banyak pesantren Nusantara.

Kitab tafsirnya, Tarjuman al-Mustafid, yang merupakan tafsir Al-Qur'an pertama dalam bahasa Melayu, dipelajari luas hingga ke pesantren-pesantren Jawa. Lebih dari itu, murid-muridnya yang berasal dari Tanah Jawa membawa pulang ajaran-ajaran tarekat Syattariyah, yang kemudian berkembang di wilayah pesisir utara Jawa seperti Gresik, Tuban, Demak, dan Cirebon.

Tradisi keilmuan ini terus berlanjut. Para santri dari Jawa datang ke Aceh untuk menimba ilmu, lalu kembali ke Jawa dengan membawa warisan keilmuan yang berharga. Hal ini memperkuat karakter Islam di Jawa yang moderat, tasamuh (toleran), dan adaptif terhadap budaya lokal.

Nuruddin ar-Raniri: Ulama Perantau, Karya yang Menyebar ke Jawa

Nama lain yang tak bisa dilupakan adalah Nuruddin ar-Raniri, ulama asal Ranir, Gujarat, yang menetap di Aceh dan diangkat sebagai mufti Kesultanan Aceh. Meski tidak tercatat tinggal di Jawa, namun karya-karyanya seperti Bustanus Salatin dan Asrar al-Insan menyebar luas hingga ke pesantren-pesantren Jawa.

Ar-Raniri dikenal sebagai ulama yang tegas terhadap ajaran tasawuf yang dianggap menyimpang, sekaligus memperkuat pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama'ah di wilayah Nusantara. Gagasan dan polemiknya kala itu ikut mempengaruhi wacana keagamaan di Tanah Jawa.

Jalur Dakwah dan Diplomasi Kerajaan

Selain melalui ulama perantau, hubungan Aceh dan Jawa juga terjalin lewat jalur diplomasi kerajaan. Pada masa Sultan Iskandar Muda, Aceh menjalin komunikasi dengan kerajaan-kerajaan Islam di Jawa. Utusan dakwah sekaligus utusan diplomatik dari Aceh pernah berkunjung ke Demak dan Cirebon. Interaksi ini memperkuat pengaruh Aceh dalam penyebaran Islam di Tanah Jawa, khususnya dalam penyelarasan hukum Islam dan penguatan institusi keagamaan.

Kitab-Kitab Ulama Aceh di Pesantren Jawa

Hingga saat ini, beberapa karya ulama Aceh tetap menjadi bagian penting dalam khazanah pesantren di Jawa. Tarjuman al-Mustafid, Mir’atul Thullab, hingga syair-syair dakwah ulama Aceh masih dipelajari di beberapa pesantren tradisional.

Ini menunjukkan bahwa pengaruh keilmuan Aceh bukan sekadar catatan sejarah masa lalu, tetapi masih hidup dan diwariskan hingga kini. Bahkan, dalam beberapa tradisi tarekat di Jawa, sanad keilmuan mereka masih tersambung hingga ulama-ulama Aceh abad ke-17.

Menghargai Jaringan Islam Nusantara

Jejak ulama Aceh di Tanah Jawa menjadi bukti bahwa Islam Nusantara bukanlah proyek eksklusif satu daerah atau kelompok tertentu, melainkan hasil dialektika panjang antar wilayah, antar ulama, dan antar budaya. Aceh dan Jawa, dua poros penting dalam penyebaran Islam, saling berbagi ilmu, pengalaman, dan dakwah tanpa sekat.

Sayangnya, sejarah ini kerap terlupakan. Kita lebih sering memisahkan peran Wali Songo seolah tanpa keterhubungan dengan jaringan ulama lain di Nusantara. Padahal, jika kita gali lebih dalam, jejak Aceh sangat nyata dalam membentuk karakter Islam Nusantara yang damai dan penuh kearifan.

Penutup: Menghidupkan Kembali Jejak Sejarah

Sudah saatnya kita menghidupkan kembali kisah-kisah ini. Bukan untuk sekadar kebanggaan sejarah, tetapi untuk menyadarkan generasi sekarang bahwa kekuatan Islam Nusantara terletak pada jejaring keilmuan, persaudaraan ulama, dan kemampuan berdialog dengan budaya lokal. Aceh telah memberi teladan, Jawa telah merespon, dan Islam Nusantara pun lahir dari kolaborasi agung itu.

Jika dulu ulama Aceh dan Jawa bersinergi dalam dakwah, kini tugas kita melanjutkannya dalam menjaga Islam yang ramah, moderat, dan menyatu dengan ruh Nusantara.