Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Ketika Penantian Politisi Beraksi untuk Rakyat

Kamis, 22 Mei 2025 | 12:27 WIB Last Updated 2025-05-22T05:27:03Z




Oleh: Azhari 

Dalam panggung demokrasi, politisi adalah para aktor utama. Mereka tampil gagah saat kampanye, merangkai janji manis, menyebut nama-nama rakyat kecil dalam pidato, hingga membangun citra sebagai penyelamat negeri. Namun, setelah pesta demokrasi usai, panggung itu seakan sunyi, sorotan kamera meredup, dan rakyat kembali menjadi penonton pasif, menanti kapan para politisi benar-benar beraksi, bukan sekadar basa-basi.

Politisi dan Penantian Panjang Rakyat

Di negeri ini, rakyat terlalu sering menunggu. Menunggu harga sembako stabil, menunggu infrastruktur diperbaiki, menunggu sekolah dan rumah sakit diperhatikan, menunggu keadilan ditegakkan. Dan di balik semua penantian itu, ada para politisi yang seharusnya menjadi jembatan antara suara rakyat dan keputusan negara.

Sayangnya, politisi di Indonesia sebagian masih sibuk berkutat dalam ruang kekuasaan, sibuk berkompromi dengan elite partai, sibuk mengatur kepentingan kelompok, atau bahkan sibuk memperkaya diri. Sementara rakyat di desa-desa, kampung nelayan, hingga pinggiran kota, terus menunggu: kapan politisi yang mereka pilih benar-benar bergerak untuk mereka?

Politisi Beraksi: Harapan yang Terus Digantung

Setiap pemilu melahirkan harapan baru. Nama-nama yang dahulu hanya terpampang di baliho kini sudah duduk di kursi dewan, menjadi kepala daerah, hingga menduduki posisi strategis di pemerintahan. Tapi setelah itu, seberapa besar aksi nyata yang benar-benar dirasakan rakyat?

Berapa banyak politisi yang kembali ke dapilnya bukan saat musim kampanye, melainkan untuk mendengar suara rakyat secara langsung? Berapa banyak politisi yang memprioritaskan nasib petani daripada proyek-proyek mercusuar? Berapa banyak yang memperjuangkan hak nelayan daripada kepentingan korporasi besar?

Faktanya, masih terlalu sedikit. Banyak politisi lebih cepat hadir di acara seremonial daripada di tengah bencana. Lebih sering membahas pencitraan di media sosial ketimbang turun ke pasar rakyat. Maka wajar bila rakyat mulai lelah berharap. Namun harapan itu tak pernah benar-benar mati, karena rakyat tahu bahwa politik seharusnya menjadi alat perjuangan, bukan alat kekuasaan semata.

Ketika Politisi Benar-benar Beraksi

Politisi akan disebut beraksi ketika keputusan-keputusan yang diambilnya berpihak kepada rakyat kecil, bukan kepada pemilik modal. Ketika mereka berani menolak kebijakan yang merugikan petani, nelayan, buruh, guru honorer, dan pelaku UMKM. Ketika politisi berani menyuarakan kebenaran meski harus berhadapan dengan kekuatan besar di balik layar kekuasaan.

Politisi beraksi ketika keberpihakan mereka terlihat di APBD dan APBN, bukan hanya di spanduk ucapan selamat. Ketika anggaran lebih banyak dialokasikan untuk pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi rakyat, ketimbang untuk perjalanan dinas atau fasilitas mewah bagi pejabat.

Politisi beraksi ketika mereka turun ke desa-desa terpencil, mendengarkan keluh kesah rakyat tanpa protokoler ketat, tanpa kamera, tanpa pencitraan. Ketika mereka memperjuangkan regulasi yang adil, membuka akses lapangan kerja, dan menekan angka kemiskinan bukan sebatas laporan statistik.

Politisi Rakyat atau Politisi Elit?

Di sinilah letak pertanyaan pentingnya: apakah politisi kita hari ini lebih banyak yang menjadi politisi rakyat atau politisi elit? Politisi rakyat hadir bersama rakyat, memahami penderitaan rakyat, dan memperjuangkan kepentingan rakyat di ruang-ruang kekuasaan. Sementara politisi elit sibuk menjaga posisi, sibuk dalam manuver partai, sibuk mengejar proyek dan jabatan, bahkan sibuk menyiapkan kursi anak-istri di panggung politik.

Rakyat harus mulai berani membedakan keduanya. Tak lagi mudah terpukau oleh baliho besar atau pidato penuh retorika. Karena politisi sejati bisa dilihat dari rekam jejaknya, dari keberaniannya bersuara untuk rakyat meski tidak populer di mata elit, dari keberpihakan yang nyata bukan sekadar kata-kata.

Akhir Kata

Penantian rakyat terhadap politisi yang benar-benar beraksi tak boleh selamanya menjadi ilusi. Demokrasi akan hampa bila politisi hanya hadir saat pemilu. Politisi adalah pelayan rakyat, bukan tuan atas rakyat. Dan sebaik-baiknya politisi adalah yang meletakkan kepentingan rakyat di atas segalanya.

Kini saatnya politisi memenuhi penantian itu. Beraksi, bukan berteori. Bergerak untuk rakyat, bukan untuk kekuasaan. Karena sejarah hanya akan mencatat mereka yang berpihak, bukan mereka yang sekadar menjadi boneka kekuasaan.

Karena pada akhirnya, rakyat tidak butuh politisi yang pintar bicara. Rakyat butuh politisi yang bekerja nyata.