Oleh: Azhari
Dunia politik selalu penuh dengan intrik, strategi, dan permainan kekuasaan. Di dalamnya, idealisme kerap terkikis oleh kepentingan pribadi dan pragmatisme sesaat. Satu hal yang sering terjadi namun jarang dibicarakan secara terbuka adalah pengkhianatan atasan terhadap bawahan di lingkup partai politik — sebuah peristiwa yang membunuh loyalitas, mencederai solidaritas, dan merusak nilai-nilai kebersamaan yang seharusnya menjadi ruh dalam perjuangan politik.
Pengkhianatan ini bisa terjadi dalam banyak bentuk: mulai dari menjadikan bawahan sebagai tameng dalam konflik, mengorbankan kader demi menyelamatkan citra pribadi, hingga menusuk dari belakang ketika kepentingan pribadi atasan terancam. Ironisnya, semua itu dilakukan atas nama strategi partai, padahal sejatinya demi keuntungan pribadi belaka.
Dinamika Politik dan Pengkhianatan yang Terjadi di Baliknya
Dalam sistem politik yang transaksional, posisi, jabatan, dan kekuasaan sering menjadi komoditas yang diperebutkan. Di tengah perebutan itu, loyalitas dan komitmen kader kerap kali dipandang sebelah mata. Para bawahan yang sejak awal setia berjuang, turun ke lapangan, menjaga marwah partai, seringkali dilupakan ketika atasan sudah menikmati kekuasaan. Bahkan lebih buruk, ada yang dijadikan korban saat atasan harus menyelamatkan posisinya.
Contoh sederhana: saat terjadi kasus politik atau konflik internal, bawahan bisa dengan mudah dikorbankan sebagai kambing hitam. Atasan yang seharusnya melindungi, justru melempar tanggung jawab dan memanfaatkan momentum untuk mencuci tangan, demi menjaga nama baiknya di hadapan elite partai atau publik.
Lebih parah lagi, dalam perebutan jabatan politik — baik di pemerintahan maupun di internal partai — pengkhianatan sering menjadi jalan pintas. Bawahan yang sudah berjuang mati-matian mendukung atasan saat pemilihan, ditinggalkan begitu saja saat atasan sudah mendapatkan posisi. Bahkan, tak jarang pula posisi yang seharusnya diberikan kepada kader loyal justru diserahkan kepada orang luar yang lebih menguntungkan secara politik atau materiil.
Mengapa Pengkhianatan Ini Bisa Terjadi?
Ada beberapa alasan mengapa fenomena pengkhianatan ini terus berulang:
-
Budaya politik pragmatis. Saat nilai-nilai perjuangan digantikan oleh kepentingan sesaat, pengkhianatan dianggap sebagai hal lumrah demi meraih atau mempertahankan kekuasaan.
-
Lemahnya sistem kaderisasi partai. Ketika partai hanya menjadi kendaraan politik tanpa membangun kultur kebersamaan, maka loyalitas antar kader mudah digadaikan.
-
Dominasi elite oligarki partai. Banyak partai dikuasai segelintir elite yang menentukan segala keputusan. Atasan yang ingin bertahan harus tunduk pada elite ini, sekalipun harus mengorbankan bawahannya.
-
Kurangnya etika politik. Ketika politik dijalankan tanpa etika dan moral, pengkhianatan tak lagi dipandang sebagai aib, tapi justru sebagai strategi cerdik.
Dampak Pengkhianatan Atasan kepada Bawahan
Pengkhianatan ini tidak hanya melukai hati kader, tapi juga berbahaya bagi eksistensi partai dan stabilitas politik nasional. Dampaknya antara lain:
-
Hancurnya loyalitas kader. Ketika kader merasa dikhianati, semangat juang akan luntur. Mereka kehilangan kepercayaan terhadap partai dan para pemimpinnya.
-
Tergerusnya kepercayaan publik. Rakyat pun akan muak melihat partai yang isinya penuh intrik, pengkhianatan, dan tidak punya prinsip.
-
Tumbuhnya budaya saling tikam. Jika dibiarkan, budaya pengkhianatan ini akan menjadi warisan politik buruk yang akan terus berulang dari generasi ke generasi.
-
Matinya regenerasi politik. Kader-kader muda akan enggan terlibat serius dalam politik jika melihat seniornya justru menjadikan loyalitas sebagai alat sekali pakai.
Refleksi Moral dan Etika Kepemimpinan
Sejatinya, seorang pemimpin bukan hanya dituntut untuk mampu mengatur strategi politik, tetapi juga memiliki integritas moral. Kepemimpinan tanpa integritas hanya akan menghasilkan rezim yang culas, oportunis, dan jauh dari nilai-nilai keadilan.
Pemimpin yang baik seharusnya berdiri paling depan melindungi anak buahnya. Ia tidak membiarkan loyalitas dijadikan alat tukar saat kondisi genting. Seorang atasan seharusnya memikul tanggung jawab, bukan mencari kambing hitam. Karena sejatinya, pemimpin diuji bukan saat berkuasa, tetapi saat menghadapi krisis dan tekanan.
Pengkhianatan terhadap bawahan adalah bentuk kegagalan kepemimpinan. Ia menunjukkan bahwa sang atasan tidak layak memimpin, karena hanya menjadikan kekuasaan sebagai alat menyejahterakan diri sendiri, bukan alat untuk memperjuangkan amanat rakyat.
Belajar dari Sosok Pemimpin yang Setia kepada Bawahan
Dalam sejarah, kita mengenal banyak pemimpin besar yang setia terhadap anak buahnya. Umar bin Khattab, misalnya, tak pernah melempar kesalahan kepada prajuritnya. Saat ada kesalahan di medan perang atau dalam kebijakan pemerintahan, beliau bertanggung jawab penuh.
Begitu juga Bung Karno. Meski memiliki banyak lawan politik, Bung Karno dikenal setia dengan kawan seperjuangannya. Tidak mudah bagi beliau untuk mengorbankan anak buah demi kepentingan pribadi. Meski tentu sebagai manusia biasa beliau juga punya kekurangan, tetapi nilai kesetiaan dan kebersamaan tetap dipegang erat.
Nilai inilah yang seharusnya dihidupkan kembali di tengah panggung politik masa kini. Bahwa kekuasaan bukan alat untuk mengkhianati, tetapi sarana untuk merawat loyalitas, kepercayaan, dan kebersamaan.
Penutup: Saatnya Mengakhiri Budaya Pengkhianatan Politik
Sudah saatnya dunia politik kita meninggalkan budaya pengkhianatan. Pengkhianatan atasan terhadap bawahan adalah racun bagi demokrasi. Ia melemahkan partai, merusak regenerasi, dan menciptakan ketidakpercayaan di kalangan rakyat.
Partai politik harus membangun sistem kaderisasi yang sehat, meritokratis, dan berbasis etika politik. Para pemimpin di dalamnya harus memberikan keteladanan moral, bukan sekadar retorika. Pemimpin sejati adalah yang berdiri di garis depan saat anak buahnya diserang, bukan yang berlindung di balik kekuasaan sambil menuding bawahan.
Kita membutuhkan lebih banyak pemimpin seperti itu. Pemimpin yang setia kawan, setia janji, dan setia prinsip. Karena bangsa yang besar dibangun oleh pemimpin-pemimpin yang berjiwa besar, bukan oleh mereka yang menjadikan pengkhianatan sebagai strategi politik.
"Kekuasaan tanpa kesetiaan hanya akan menghasilkan sejarah kelam, sementara kepemimpinan yang setia kepada anak buah akan dikenang sepanjang zaman."