Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Krisis Moral di Tengah Gempuran Digital dalam Masyarakat

Jumat, 23 Mei 2025 | 13:52 WIB Last Updated 2025-05-23T06:52:48Z


Kita sedang hidup di zaman yang tak pernah dibayangkan oleh generasi sebelum kita. Zaman di mana segala hal berada di ujung jari. Informasi, hiburan, bahkan fitnah, hoaks, dan ujaran kebencian menyebar secepat kilat. Dunia digital menawarkan kemudahan, tetapi sekaligus menyimpan ancaman tersembunyi yang menggerogoti moral dan adab masyarakat kita.

Aceh, yang dikenal dengan kekhususan syariat Islam dan adat yang kuat, pun tak luput dari badai ini. Krisis moral mulai terasa di kalangan anak muda, orang tua, bahkan elite masyarakat. Lahirnya generasi yang tak segan menghardik orang tua di media sosial, mengumbar aib di TikTok, hingga menyebar fitnah tanpa rasa takut, menjadi potret nyata betapa nilai-nilai moral sedang berada di ujung tanduk.

Digitalisasi Tanpa Etika

Teknologi seharusnya menjadi alat, bukan tuan. Namun kini, gawai pintar telah mengendalikan cara pikir dan bertindak sebagian besar masyarakat. Media sosial yang semestinya menjadi wadah silaturahmi dan berbagi ilmu, berubah menjadi ajang pamer kemewahan, provokasi politik, hingga konten vulgar yang merusak akhlak.

Kita mulai terbiasa melihat anak-anak yang lebih akrab dengan YouTube daripada mushalla. Remaja yang lebih fasih dengan tren TikTok daripada ayat Al-Qur'an. Dan para orang tua yang asyik berselancar di Facebook hingga lupa mendidik anak.

Dampak Krisis Moral Digital

Krisis moral ini bukan hanya merusak individu, tapi juga tatanan sosial:

  1. Hilangnya Rasa Hormat
    Anak tak segan membentak orang tua. Warga berani mencaci pemimpin secara kasar di kolom komentar. Budaya hormat kepada orang tua dan ulama mulai terkikis.

  2. Normalisasi Perilaku Menyimpang
    Konten yang dulunya dianggap tabu kini jadi konsumsi sehari-hari. Pacaran bebas, pakaian tak sopan, hingga ujaran kebencian jadi pemandangan lumrah.

  3. Merosotnya Kepedulian Sosial
    Generasi digital lebih peduli like dan follower daripada kondisi tetangga dan masyarakat sekitarnya.

Di Mana Posisi Kita?

Kita tak bisa menolak digitalisasi, tapi kita bisa menata dan mendidik moral generasi di dalamnya. Digital bukan musuh, tapi alat yang harus diarahkan.

Majelis Adat Aceh, Majelis Pendidikan Aceh, dayah-dayah, dan keluarga harus bersinergi. Pendidikan akhlak tak cukup di sekolah, tapi harus dimulai dari rumah. Orang tua jangan hanya memberi gawai, tapi juga memberi bimbingan. Guru jangan hanya mengajarkan pelajaran, tapi juga menjadi teladan akhlak.

Langkah Kecil yang Bermakna

  • Aktifkan kontrol digital dalam keluarga: Pantau konten yang ditonton anak.
  • Biasakan adab digital: Ajarkan etika berkomentar, menyaring informasi, dan bijak bermedia.
  • Tanamkan kembali nilai adat dan agama: Jadikan kisah-kisah ulama Aceh sebagai inspirasi generasi.
  • Isi media sosial dengan konten positif: Daripada ikut-ikutan pamer atau menghujat, lebih baik berbagi nasihat dan motivasi.

Penutup: Wasiat untuk Diri dan Generasi

Di era digital ini, kita semua adalah penjaga moral, baik di dunia nyata maupun maya. Jika kita abai hari ini, maka jangan salahkan anak cucu yang kelak tak mengenal adab, tak hormat kepada orang tua, dan menganggap syariat hanya hiasan formalitas.

Mari kita jaga moral masyarakat di tengah gempuran digital. Sebab moral yang rusak akan menjerumuskan bangsa ke jurang kehancuran, meskipun infrastruktur megah dan teknologi canggih sekalipun tak akan mampu menyelamatkan akhlak yang compang-camping.

Jaga Aceh, jaga adat, jaga moral, jaga digital kita. Karena moral yang baik, adalah benteng terakhir di tengah dunia tanpa batas.

Azhari 


Pemerhati Sosial Budaya Aceh