Di antara deretan hari-hari yang berjalan, kadang kita lupa bahwa tidak semua cinta di dunia ini berwajah hangat seperti pelukan ibu. Ada cinta yang diam-diam hadir dalam bentuk letih, keringat, dan tatapan keras. Ia mungkin jarang memeluk, tak pandai merangkai kata-kata manis, apalagi menangis. Tapi di dalam hatinya, tersimpan lautan kasih yang tak pernah ia ucapkan. Dialah ayah.
Kita tumbuh dalam narasi yang lebih sering mengagungkan peran ibu — dan itu memang layak. Tak ada yang mampu menggantikan pelukan seorang ibu. Namun di balik itu, peran ayah kerap diposisikan sekadar sebagai kepala keluarga, pencari nafkah, dan otoritas di rumah. Tanpa disadari, banyak anak yang tumbuh jauh dari kelekatan emosional dengan ayahnya.
Ayah hadir, tapi tak benar-benar hadir.
Padahal dalam psikologi perkembangan anak, kehadiran emosional seorang ayah sangat menentukan pembentukan karakter, rasa aman, dan identitas diri anak. Ayah adalah role model pertama bagi anak laki-laki dalam memahami apa arti menjadi lelaki sejati. Dan bagi anak perempuan, ayah adalah standar pertama tentang bagaimana seorang lelaki memperlakukan perempuan. Jika sosok itu absen secara batin, luka yang ditinggalkan bisa menganga sepanjang hidup.
Ayah di Tengah Budaya Patriarki
Dalam banyak budaya, termasuk di negeri kita, ayah dibesarkan dalam konstruksi sosial yang mengajarkan bahwa lelaki harus kuat, tak boleh cengeng, dan jarang menunjukkan emosi. Dari kecil, anak laki-laki dididik untuk tidak terlalu sering memeluk ayahnya. Kalaupun rindu, hanya diam. Kalaupun ingin menangis, sembunyikan.
Akibatnya, saat lelaki ini menjadi ayah, ia meneruskan pola yang sama. Ayah menjadi sosok yang menjaga jarak emosional, merasa tugasnya cukup memberi makan, biaya sekolah, dan memastikan anak-anaknya tidak kelaparan. Tidak jarang, ayah bahkan merasa canggung jika harus sekadar berkata "Aku sayang kamu."
Padahal, yang dibutuhkan anak-anak bukan hanya uang. Mereka butuh pelukan, butuh ucapan sederhana, butuh waktu untuk bermain, butuh cerita sebelum tidur, dan butuh bahu untuk bersandar saat lelah. Dan semua itu, sayangnya sering tak tersedia karena waktu ayah habis di kantor, di kebun, atau di jalanan demi mengejar tanggung jawab materi.
Luka yang Tak Terucap
Banyak anak yang tumbuh dengan luka batin karena jarak emosional dengan ayahnya. Mereka tidak punya figur ayah yang bisa diajak bercerita, yang mendengar tanpa menghakimi, atau sekadar menyapa dengan hangat.
Anak laki-laki yang tak dekat dengan ayahnya bisa tumbuh menjadi lelaki yang rapuh, mudah marah, atau kehilangan arah saat menghadapi masalah. Anak perempuan yang jauh dari sosok ayah bisa tumbuh dengan standar hubungan yang rendah, menerima perlakuan buruk dari pasangannya karena sejak kecil ia tidak tahu seperti apa kasih sayang laki-laki yang sehat.
Lebih menyakitkan lagi, dalam banyak kasus, anak-anak ini tidak bisa mengungkapkan rasa rindunya pada ayah. Sebab ayah adalah figur yang terlalu tinggi untuk mereka sentuh. Akhirnya luka itu terpendam, tumbuh, dan baru terasa saat usia dewasa. Saat anak-anak itu menjadi ayah dan ibu, barulah mereka menyadari betapa hampa rasanya tumbuh tanpa pelukan ayah.
Ayah Juga Manusia
Kita sering lupa, ayah pun manusia biasa. Di balik sosok tegas dan pendiamnya, ada beban yang tak pernah dia ceritakan. Ayah sering menanggung kegagalan, ketakutan, dan kesepian dalam diam. Ia menanggung hutang, mengubur keinginan pribadi, dan menelan kepahitan hidup tanpa pernah mengeluh di depan anak-anaknya.
Kadang, ayah marah bukan karena benci, tapi karena lelah. Kadang, ayah diam bukan karena tidak peduli, tapi karena bingung bagaimana cara menyampaikan perasaan tanpa dianggap lemah.
Ayah memang tak pandai berkata cinta, tapi cintanya ada di setiap cucuran keringat dan helaan napas berat di malam hari.
Sayangnya, karena ketidakmampuan itu, hubungan emosional antara ayah dan anak sering renggang. Ayah seakan hanya menjadi mesin uang, sementara anak-anaknya mencari kehangatan di pelukan ibu.
Saatnya Kita Berbenah
Refleksi ini seharusnya menyadarkan kita, bahwa peran ayah dalam kehidupan anak harus dihidupkan kembali. Ayah tak hanya pencari nafkah, tapi juga sahabat, guru, dan pelindung emosional anak-anaknya.
Untuk para ayah, mari mulai hadir secara utuh. Bukan hanya fisik, tapi juga batin. Mulailah dengan hal sederhana: tanyakan kabar anakmu, peluk mereka sebelum tidur, dengarkan cerita mereka, ucapkan terima kasih, dan jangan ragu mengatakan "Aku bangga padamu."
Tak perlu menunggu hari tua untuk menyadari betapa berharganya waktu bersama anak. Sebab, waktu berjalan cepat. Anak-anak itu tak akan selamanya kecil. Dan saat mereka dewasa, yang mereka ingat bukan seberapa banyak uang yang kita beri, tapi seberapa banyak waktu, perhatian, dan cinta yang kita sempatkan.
Untuk para anak, jangan biarkan sekat itu terus tumbuh. Mungkin ayah kita bukan orang yang pandai berkata cinta. Tapi percayalah, dalam diamnya, ada cinta besar yang selama ini tak pernah kita pahami.
Datangi ayahmu, peluk dia, ucapkan terima kasih. Jangan tunggu sampai waktu tak lagi memberi kesempatan. Sebab kelak, yang paling kita sesali bukan kesalahan ayah, tapi kesempatan untuk memeluknya yang tak pernah kita ambil.
Penutup
Peran ayah tak boleh lagi diabaikan dalam proses tumbuh kembang anak. Dunia sudah terlalu berat untuk kita biarkan anak-anak kehilangan satu tiang penyangga hidupnya. Ayah harus kembali hadir bukan hanya sebagai pencari nafkah, tapi juga sebagai sahabat, pendengar, dan pelindung sejati.
Sebab di dalam setiap anak, selalu ada ruang kosong yang hanya bisa diisi oleh cinta seorang ayah.