Oleh: Azhari
Setiap bangsa pasti punya catatan getir dalam sejarah perjuangannya. Ada darah, air mata, dan kehilangan yang menjadi harga mahal bagi sebuah kemerdekaan. Namun, sejarah juga mengajarkan kita bahwa merdeka bukan sekadar soal lepas dari cengkeraman penjajahan asing, tetapi juga tentang kemampuan mengelola damai, menjaga harkat, dan menciptakan kesejahteraan bersama.
Bangsa yang besar bukan hanya karena berhasil merebut kemerdekaan, tapi juga karena mampu merawatnya dalam damai. Dalam konteks itu, perjuangan tak pernah benar-benar usai. Ia hanya berganti wujud: dari angkat senjata ke angkat pena, dari medan perang ke meja perundingan, dari hutan gerilya ke ruang kebijakan. Dan di titik inilah tantangan sejati dimulai.
Merdeka yang Belum Merata
Lebih dari tujuh dekade Indonesia merdeka, namun keadilan dan kesejahteraan masih menjadi barang mewah di banyak tempat. Di pedalaman, di pinggiran kota, di sudut-sudut wilayah bekas konflik, kita masih melihat anak-anak tumbuh dalam keterbatasan, petani bergulat dengan harga hasil panen yang tak menentu, nelayan bertarung dengan cuaca dan ketidakpastian pasar.
Di atas kertas, negeri ini telah damai. Tapi di dalam realita sosial, masih banyak luka yang belum benar-benar sembuh. Masih ada rakyat yang merasa jadi penonton di atas panggung kemerdekaan yang diperjuangkan para leluhur mereka. Perdamaian, bagi sebagian orang, masih sebatas kata-kata manis dalam pidato seremonial, sementara ketimpangan terus menganga.
Damai yang Produktif, Bukan Sekadar Simbolik
Perdamaian sejati adalah ketika tidak ada lagi ketakutan untuk menyuarakan kebenaran, ketika semua orang punya kesempatan yang setara untuk hidup layak, dan ketika perbedaan tidak lagi dijadikan alasan untuk saling menyakiti. Damai bukan hanya tidak terdengar suara tembakan, tapi ketika rakyat bisa tidur nyenyak tanpa takut harga bahan pokok melonjak esok hari. Damai bukan sekadar peringatan seremoni tahunan, tetapi ketika anak-anak bisa mengenyam pendidikan tanpa harus berjalan belasan kilometer, tanpa harus memilih antara sekolah atau membantu orang tua di ladang.
Karena itu, perjuangan merdeka dalam era damai harus lebih produktif. Harus mampu menyasar jantung ketidakadilan ekonomi, menembus sekat-sekat birokrasi yang korup, dan menciptakan ruang-ruang politik yang bersih dari kepentingan segelintir elit. Sebab perdamaian yang tidak diikuti dengan keadilan sosial hanya akan menjadi istana pasir yang sewaktu-waktu bisa runtuh.
Memaknai Kembali Perjuangan
Generasi kini perlu memaknai kembali arti perjuangan. Kita tidak lagi dihadapkan dengan penjajah bersenjata, tetapi menghadapi penjajahan gaya baru: ketergantungan ekonomi, hegemoni informasi, dan ketidakadilan struktural. Di sinilah pentingnya peran masyarakat sipil, kaum muda, akademisi, dan pemimpin daerah untuk bergerak bersama.
Membangun daerah yang kuat, memberdayakan ekonomi lokal, menjaga harmoni antar warga, dan menciptakan pemerintahan yang transparan adalah bentuk-bentuk perjuangan modern yang tak kalah penting. Menjaga perdamaian butuh kerja keras, butuh keberanian, dan kesadaran kolektif bahwa tidak ada kemerdekaan yang abadi bila tidak diiringi kesejahteraan.
Aceh dan Pelajaran dari Damai
Kita bisa belajar dari Aceh. Setelah bertahun-tahun konflik bersenjata, rakyat Aceh kini hidup dalam suasana damai. Tapi damai bukan akhir perjuangan. Masih banyak pekerjaan rumah dalam hal pemerataan pembangunan, penguatan ekonomi rakyat, dan pemberdayaan pemuda. Perdamaian yang dihasilkan dari MoU Helsinki 2005 harus dijaga, bukan hanya secara politik, tapi dengan membangun kesejahteraan yang merata. Jika tidak, ketimpangan sosial bisa kembali memantik api.
Perdamaian di Aceh, dan di banyak wilayah bekas konflik lain di Indonesia, bisa jadi model bahwa senjata bisa diredam, tapi kebutuhan rakyat tak boleh diabaikan. Merawat damai berarti menghadirkan keadilan dan kesejahteraan, bukan hanya meredam suara kritis.
Penutup: Menjadi Pejuang di Era Damai
Hari ini, siapa pun bisa menjadi pejuang. Pejuang di jalan damai. Menjadi guru yang mencerdaskan anak negeri di pelosok desa adalah pejuangan. Menjadi petani yang terus bertahan di tengah gempuran pasar bebas adalah perjuangan. Menjadi pemuda yang tak tunduk pada arus pragmatisme politik adalah perjuangan.
Karena bangsa ini masih butuh banyak pejuang, bukan hanya pejuang di medan perang, tapi pejuang keadilan, pejuang pendidikan, pejuang ekonomi kerakyatan, pejuang moral, dan pejuang kejujuran di pemerintahan.
Perjuangan merdeka dan kesejahteraan dalam perdamaian bukan cerita lama. Ia tugas hari ini dan hari esok. Ia tugas kita semua.