Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Refleksi Posisi Timses Pasca Kemenangan di Mata Oknum Bupati

Jumat, 23 Mei 2025 | 11:17 WIB Last Updated 2025-05-23T04:17:42Z




Oleh: Azhari 

Di setiap hajatan demokrasi, tim sukses (timses) adalah komponen penting. Mereka menjadi ujung tombak pemenangan, pelopor penggerak massa, penjaga narasi, sekaligus pelindung suara di akar rumput. Tak sedikit dari mereka yang mempertaruhkan reputasi, waktu, tenaga, bahkan kantong pribadi demi memenangkan sang calon. Namun sayangnya, begitu kemenangan diraih dan kursi kekuasaan diduduki, sebagian dari mereka dihadapkan pada kenyataan pahit: posisi timses di mata oknum bupati tak lebih dari alat sekali pakai.

Dulu Pahlawan, Kini Beban

Saat masa kampanye, timses dielu-elukan. Mereka dipanggil “panglima lapangan”, “jenderal suara”, hingga “pejuang rakyat”. Setiap rapat selalu diundang, setiap agenda kampanye tak pernah absen. Nama-nama mereka terpatri di hati kandidat, seakan menjadi bagian keluarga.

Namun begitu pelantikan selesai, suasana berbalik. Telepon yang dulu selalu cepat diangkat, kini sulit tersambung. Pesan WhatsApp yang dulunya cepat dibalas, kini centang dua tanpa balasan. Timses yang dulu di barisan depan kini terdorong ke belakang, tergeser oleh orang-orang baru yang lebih menarik di mata kekuasaan.

Bagi oknum bupati yang haus jabatan, posisi timses pasca kemenangan dianggap potensi beban. Bukan lagi mitra, tapi ancaman. Sebab mereka tahu, timses paham betul janji-janji yang pernah diucapkan saat kampanye. Timses tahu siapa saja yang dulu ikut menyusun komitmen perubahan. Dan bagi kekuasaan yang ingin berjalan bebas tanpa kontrol moral, keberadaan timses yang kritis adalah ancaman yang harus dijauhkan.

Politik Balas Jasa: Antara Realita dan Manipulasi

Oknum bupati pragmatis cenderung memanfaatkan politik balas jasa sebatas formalitas. Segelintir orang dilibatkan, sekadar untuk meredam suara kekecewaan. Yang tak patuh atau terlalu vokal akan disingkirkan secara halus. Bahkan sering terjadi, orang-orang yang dulu menjadi lawan politik malah diberi posisi strategis, sementara timses setia yang berjuang sejak awal diabaikan.

Ini fenomena umum dalam politik lokal. Kemenangan dijadikan alat tawar-menawar. Bupati butuh orang yang bisa diam dan loyal, bukan yang mengingatkan atau menagih janji. Maka, posisi timses pasca kemenangan di mata oknum bupati hanya dihargai selama mereka patuh dan tak bersuara. Begitu kritis, dianggap pembangkang. Begitu menagih janji, dicap pengganggu.

Refleksi Etika Kekuasaan

Fenomena ini memperlihatkan betapa rapuhnya etika kekuasaan di banyak daerah. Bahwa jabatan bukan lagi amanah rakyat, tapi alat balas jasa, alat konsolidasi kuasa, dan sarana memperkaya kelompok tertentu. Timses hanya dipandang sebagai alat pemenangan, bukan bagian dari proses pembangunan ke depan.

Padahal, dalam prinsip demokrasi yang sehat, timses adalah mitra strategis. Mereka punya kontribusi nyata, dan seharusnya diberi ruang untuk terus mengawal janji politik yang pernah diumbar. Bukan hanya diberi jabatan, tapi kesempatan berkontribusi dalam perencanaan dan pengawasan program pembangunan.

Arah Harapan ke Depan

Sudah saatnya politik lokal membangun tradisi demokrasi yang beretika. Bahwa kemenangan politik adalah kemenangan rakyat, bukan kemenangan elite. Bahwa timses bukan alat sekali pakai, tapi mitra perjuangan. Pemimpin terpilih, khususnya bupati, harus sadar bahwa kekuasaan tanpa loyalitas rakyat hanya akan bertahan sebentar. Dan loyalitas itu tumbuh dari rasa dihargai, bukan sekadar diingat saat butuh.

Jika ingin membangun pemerintahan yang kuat dan berwibawa, libatkan mereka yang sejak awal ikut berjuang. Bukan sekadar karena politik balas jasa, tapi karena mereka paham denyut nadi masyarakat. Beri ruang kritik, dengarkan aspirasi mereka, dan libatkan dalam pengambilan keputusan.

Karena pemimpin besar lahir bukan hanya dari kemenangan politik, tapi dari keberanian merawat solidaritas perjuangan hingga masa jabatan berakhir.

Penutup

Refleksi ini semoga menjadi pengingat, bahwa kursi kekuasaan itu sementara. Timses yang diabaikan bisa menjadi pemantik gelombang kekecewaan, yang di kemudian hari berubah jadi oposisi baru. Dan sejarah politik daerah mencatat, tak sedikit bupati yang tumbang bukan karena lawan politik, tapi karena ditinggalkan oleh orang-orang terdekatnya sendiri.

Jangan biarkan timses kecewa dan terbuang. Karena di balik keringat mereka, kemenangan itu lahir.