Oleh: Azhari
Sejarah tak sekadar catatan masa lalu. Ia adalah cermin, pelajaran, dan bekal untuk masa depan. Aceh, negeri berdaulat yang pernah mengguncang dunia dengan peradaban Islamnya, memiliki sejarah panjang tentang kepemimpinan, perjuangan, dan harga diri. Di balik gemilang itu, ada wasiat-wasiat luhur yang ditinggalkan para raja Aceh untuk generasi selanjutnya — terutama wasiat dari raja-raja terakhir, saat negeri ini mulai tergerus tipu daya penjajahan dan perpecahan internal.
Kini, saat Aceh berada di persimpangan arah politik, sosial, dan budaya, patutlah kita kembali merenungkan pesan-pesan itu. Bukan untuk sekadar romantisme masa lalu, melainkan sebagai pengingat bahwa sebuah negeri tanpa jati diri hanya akan jadi pelengkap peta.
Wasiat Raja Aceh Terakhir: Amanah yang Terabaikan
Menurut catatan sejarah, menjelang keruntuhan Kesultanan Aceh, para pemimpin dan ulama meninggalkan pesan agar rakyat Aceh senantiasa menjaga agama, adat, tanah, dan martabat bangsa. Mereka berpesan agar jangan sekali-kali tunduk kepada penjajahan, jangan mudah dipecah belah, dan jangan biarkan Aceh kehilangan ruh perjuangannya.
Salah satu wasiat penting itu menyebut:
"Jangan biarkan negeri ini dipimpin orang zalim, jangan biarkan anak cucu kita kehilangan marwah karena ulah pemimpin yang tamak dan rakyat yang diam."
Wasiat ini tak lain adalah peringatan agar Aceh selalu dipimpin orang beriman, jujur, dan mencintai rakyatnya. Sekaligus teguran keras kepada rakyat agar tidak pasrah ketika penguasa berlaku semena-mena.
Generasi Sekarang: Penjaga atau Pengkhianat Amanah?
Kini, lebih dari seratus tahun setelah kesultanan runtuh, Aceh memang tak lagi berada dalam bentuk kerajaan. Tapi, amanah itu tetap relevan. Persoalannya, apakah kita masih menjaga wasiat itu?
Konflik elit, politik dagang sapi, penyalahgunaan kekuasaan, dan abainya generasi muda terhadap sejarah menjadi potret miris Aceh hari ini. Banyak yang lebih bangga jadi pengikut tren digital ketimbang mempelajari sejarah negerinya. Banyak yang memilih diam saat kebenaran diinjak-injak.
Di sisi lain, warisan adat, qanun, hingga marwah ulama mulai dipertaruhkan demi kepentingan segelintir orang. Jika ini terus dibiarkan, Aceh perlahan kehilangan ruhnya, tak hanya di mata Indonesia, tapi juga di mata dunia.
Refleksi untuk Generasi Penjaga Aceh
Generasi hari ini bukan pewaris takhta, tapi pewaris tanggung jawab. Tanggung jawab menjaga kehormatan Aceh di berbagai lini — budaya, agama, politik, hingga sosial.
Beberapa hal yang harus diingat generasi kini:
-
Pelajari sejarah Aceh secara utuh. Jangan hanya tahu tentang konflik modern, tapi pahami kejayaan Aceh sebagai mercusuar Islam di Asia Tenggara.
-
Jaga adat, agama, dan marwah ulama. Aceh bukan sekadar wilayah otonomi khusus, tapi negeri beradat yang berdiri di atas syariat Islam.
-
Berani bersuara terhadap kezhaliman. Wasiat raja Aceh terakhir menekankan pentingnya perlawanan terhadap penguasa dzalim, termasuk di era demokrasi.
-
Bina generasi muda yang paham sejarah dan memiliki integritas. Jangan biarkan anak cucu kita mewarisi kebodohan sejarah dan kecintaan terhadap kemewahan semu.
Akhir Kata: Wasiat Itu Belum Mati
Wasiat para raja Aceh terakhir adalah pesan hidup yang tak akan pernah basi. Selama Aceh masih bernama Aceh, selama darah para syuhada masih mengalir di bumi rencong, pesan itu tetap menjadi cahaya penuntun.
Generasi muda Aceh hari ini punya dua pilihan: menjadi penjaga amanah atau pengkhianat warisan. Sejarah akan mencatat siapa yang memilih diam saat keadilan diinjak, dan siapa yang bangkit meneruskan jejak para sultan dan ulama.
Saatnya kita sadar, bahwa tanah ini bukan sekadar tempat lahir dan mati. Ia adalah titipan sejarah yang harus dijaga dengan kehormatan, kejujuran, dan keberanian.
Karena Aceh bukan tentang siapa yang memimpin, tapi tentang bagaimana ia dipimpin.