Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Tugasmu, Ibadahmu

Jumat, 30 Mei 2025 | 23:50 WIB Last Updated 2025-05-30T16:51:03Z




Oleh: Azhari 

Di dunia ini, tak ada satu pun manusia yang lahir tanpa tugas. Sejak nafas pertama hingga hembusan terakhir, setiap kita mengemban peran yang melekat — sebagai anak, orang tua, pemimpin, rakyat, atau sekadar manusia biasa yang menapaki hari demi hari. Namun, sering kali kita lupa bahwa di balik setiap tugas yang kita jalankan, ada nilai ibadah yang terkandung di dalamnya.

Tugas Bukan Beban, Tapi Jalan Ibadah

Banyak orang mengeluh tentang pekerjaannya. Tentang beratnya amanah, tentang sulitnya menghadapi karakter manusia, tentang lelahnya menunaikan tanggung jawab. Padahal bila ditelisik lebih dalam, tugas-tugas itu bukan sekadar pekerjaan dunia, tapi sarana kita untuk mengabdi kepada-Nya.

Seorang guru yang sabar mendidik, tak hanya sedang bekerja, tapi tengah beribadah. Seorang petani yang menanam padi dengan penuh kejujuran, tak sekadar mencari nafkah, tapi sedang bersujud lewat usahanya. Bahkan seorang pejabat yang menandatangani kebijakan dengan penuh hati-hati dan keadilan, hakikatnya sedang melakukan ibadah sosial.

Jabatan, Tanggung Jawab, dan Ibadah

Sering kali kekuasaan membuat orang lupa diri. Jabatan dijadikan alat kesenangan pribadi, bukan ladang kebaikan. Padahal, semakin tinggi jabatan seseorang, semakin berat hisabnya. Rasulullah SAW pernah bersabda:

"Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya." (HR. Bukhari-Muslim)

Jabatan itu bukan kehormatan, tapi beban tanggung jawab. Bukan ruang pamer kemewahan, tapi panggung pengabdian. Setiap keputusan yang diambil bukan sekadar urusan administrasi, tapi akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Mengubah Rutinitas Menjadi Ladang Amal

Tugas apa pun yang kita lakukan, bila diniatkan dengan benar, bisa bernilai ibadah. Mengasuh anak, berdagang dengan jujur, melayani masyarakat tanpa pamrih, bahkan tersenyum kepada sesama adalah bentuk ibadah. Karena ibadah bukan hanya soal sujud dan rukuk, tapi soal ketulusan hati dalam setiap aktivitas.

Yang penting adalah niat dan adab. Niat untuk memberi manfaat, adab dalam menjalankan tugas, dan keikhlasan dalam menerima hasil. Saat itu semua menyatu, tugas harian pun berubah jadi amal yang abadi.

Refleksi: Sudahkah Tugas Kita Bernilai Ibadah?

Pertanyaan besar yang patut kita renungkan: apakah selama ini tugas kita sudah jadi ibadah? Ataukah sekadar rutinitas tanpa makna? Apakah kita sudah tulus bekerja, atau hanya menggugurkan kewajiban demi upah dan jabatan?

Di era serba cepat ini, godaan untuk mengejar materi, gengsi, dan kepentingan pribadi begitu besar. Namun, jangan sampai kita lupa bahwa dunia ini hanya sementara, dan segala yang kita lakukan akan dimintai pertanggungjawaban.

Penutup

Tugasmu, ibadahmu. Jalankan amanah dengan jujur, bekerja dengan hati, layani sesama dengan tulus. Karena setiap hal baik yang kita lakukan — sekecil apa pun — akan kembali kepada diri kita sendiri.

Mari kita jadikan tugas-tugas kita, apapun itu, sebagai jalan menuju ridha-Nya. Karena tak ada yang lebih mulia daripada hidup bermanfaat dan wafat dalam keadaan husnul khatimah.

Karena tugas terbaik, adalah tugas yang menjadi ibadah.