Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Ekonomi Melemah, Rakyat Menjerit di Hari Raya 2025

Rabu, 04 Juni 2025 | 23:35 WIB Last Updated 2025-06-04T16:35:38Z




Hari Raya seharusnya menjadi momentum kemenangan, kebahagiaan, dan pelipur lara atas segala lelah yang ditanggung sepanjang tahun. Namun, di tahun 2025 ini, suasana itu terasa berbeda. Aroma kue kering dan suara takbir di sudut-sudut kampung tetap terdengar, tetapi di baliknya ada isak diam rakyat kecil yang menahan lapar, menanggung beban harga kebutuhan pokok yang meroket, dan menghadapi ketidakpastian hidup di tengah ekonomi yang melemah.

Kemeriahan Palsu di Tengah Derita Nyata

Di media sosial, masyarakat masih berusaha tampil dengan baju baru, hantaran kue lebaran, dan suasana berkumpul keluarga. Namun di balik layar, ada derita yang sengaja ditutupi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) awal 2025 mencatat inflasi bahan pokok mencapai angka tertinggi dalam lima tahun terakhir. Beras, minyak goreng, cabai, telur, hingga gula mengalami lonjakan harga signifikan sejak awal Ramadan.

Sebagian rakyat terpaksa mengurangi jatah makan, sebagian lain harus meminjam uang hanya untuk bisa membeli kebutuhan lebaran anak-anak. Pasar rakyat yang biasanya padat jelang Idul Fitri, tahun ini banyak dikeluhkan pedagang karena daya beli turun drastis.

Ketika Pemimpin Sibuk Mengatur Citra

Ironisnya, di saat rakyat menjerit, banyak pejabat justru berlomba-lomba menampilkan citra kebaikan musiman: pembagian sembako, santunan anak yatim, dan safari Ramadan yang lebih banyak untuk konten media sosial ketimbang aksi nyata yang menyentuh akar persoalan. Dana bansos digelembungkan, tapi tepat sasarannya dipertanyakan. Rakyat butuh kebijakan jangka panjang, bukan pencitraan insidental.

Harga Diri yang Terkikis

Hari Raya yang seharusnya ajang berbagi, justru membuat sebagian rakyat merasa rendah diri. Ada yang memilih tidak pulang kampung karena malu tak bisa membawa oleh-oleh atau tak mampu membagikan angpau. Di sudut-sudut desa, ada kisah orang tua yang terpaksa berbohong pada anaknya tentang baju lebaran yang belum bisa dibeli.

Ekonomi melemah bukan sekadar angka, ia adalah wajah-wajah letih di terminal, anak-anak yang menahan tangis ingin kue, dan ibu-ibu yang harus kreatif meracik bahan seadanya agar dapur tetap mengepul.

Solusi Bukan Sekadar Bantuan, Tapi Keberpihakan

Negara tidak boleh hanya hadir saat musim kampanye atau saat bagi-bagi bansos lebaran. Yang dibutuhkan rakyat adalah keberpihakan sistemik: stabilisasi harga pangan, program pemberdayaan ekonomi lokal, dan pengendalian pasar yang tidak membiarkan spekulan bermain seenaknya di atas penderitaan rakyat.

Petani harus disejahterakan, nelayan dimuliakan, UMKM diberi akses pembiayaan mudah, bukan dibebani regulasi yang memberatkan. Negara harus berani melawan mafia pangan yang sudah lama menguasai rantai distribusi.

Refleksi: Lebaran di Tengah Luka

Lebaran 2025 menjadi catatan penting: bahwa pertumbuhan ekonomi nasional di atas kertas tidak selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan rakyat di lapangan. Pemerintah daerah hingga pusat perlu melakukan evaluasi serius terhadap kebijakan pangan, ketahanan ekonomi keluarga, dan tata kelola bansos.

Sementara itu, solidaritas sosial antar warga menjadi benteng terakhir. Di saat negara sering alpa, masyarakat tetap bisa saling tolong, saling berbagi rezeki meski sedikit.

Akhir Kata

Di tengah lesunya ekonomi dan menjeritnya rakyat di Hari Raya 2025 ini, kita belajar bahwa makna kemenangan tidak hanya soal baju baru atau meja penuh kue, tapi tentang bertahan, saling peduli, dan menjaga nurani kemanusiaan.

Negara boleh gagap, tapi rakyat tak boleh saling abai.