Di dunia ini, setiap manusia hidup berdampingan dengan hak dan kewajiban. Setiap langkah kita, setiap tindakan kita, akan selalu bersinggungan dengan hak orang lain. Maka dari itu, keadilan menjadi pilar utama dalam kehidupan bermasyarakat. Namun sayang, masih banyak di antara kita yang tergoda untuk mengambil hak orang lain. Baik secara terang-terangan maupun diam-diam, baik dalam bentuk harta, kesempatan, jabatan, ataupun penghargaan.
Orang yang suka mengambil hak orang lain mungkin saja terlihat bahagia, santai, bahkan seakan-akan hidupnya penuh keberuntungan. Tapi percayalah, hati dan pikirannya tidak pernah benar-benar tenang. Ada kegelisahan yang perlahan merayap di dalam batin, ada suara hati yang tak bisa dibungkam. Karena ketidakadilan itu, sekecil apa pun, adalah luka yang akan kembali mencabik pelakunya di kemudian hari.
Manusia dan Nafsu Kepentingan
Setiap manusia punya kecenderungan ingin lebih, ingin menang sendiri, ingin di atas orang lain. Itu bagian dari sifat dasar yang harus dikendalikan. Ketika manusia tidak mampu mengatur dirinya, nafsu kepentingan itu bisa membutakan akal sehat. Akhirnya, yang haram dianggap halal, yang bukan haknya diambil, dan yang menjadi milik orang lain dipaksakan menjadi miliknya.
Dalam urusan harta, misalnya, banyak orang tergoda mengambil milik orang lain dengan dalih situasi, jabatan, ataupun kesempatan. Dalam politik, praktik merebut jatah, membegal peluang, dan mencuri peran orang lain sudah jadi pemandangan biasa. Di kantor, ada saja pegawai yang menghalangi rezeki kawan demi kepentingan pribadi. Di desa, dana bantuan dialihkan ke kantong pribadi atau kerabat dekat, sementara rakyat kecil menjerit.
Mereka semua mungkin terlihat tertawa hari ini. Tapi percayalah, hati yang dipenuhi kebohongan tak pernah benar-benar tenang.
Suara Hati yang Tak Bisa Dibohongi
Manusia boleh menipu orang lain, bahkan bisa memutarbalikkan hukum dan menyembunyikan kejahatannya. Namun ada satu yang tak bisa ditipu: suara hati. Saat malam datang, saat keramaian berakhir, saat lampu dipadamkan, itulah waktunya hati bicara. Ia akan mengingatkan, mengungkit, dan menghakimi perbuatan zalim yang telah dilakukan.
Betapa pun keras seseorang membungkam nuraninya, akan selalu ada waktu di mana suara itu lebih nyaring dari suara dunia. Dan itulah siksaan batin paling pedih. Lebih pedih dari cercaan manusia. Lebih berat dari hukuman pidana.
Maka dalam Islam diajarkan, mengambil hak orang lain itu bukan hanya soal hukum di dunia, tapi soal beratnya hisab di akhirat. Rasulullah SAW bersabda:
"Barang siapa yang pernah berbuat zalim terhadap saudaranya, hendaklah ia meminta kehalalan darinya sebelum datang hari kiamat, di mana pada hari itu tidak ada lagi dinar dan dirham." (HR. Bukhari)
Artinya, manusia yang mengambil hak orang lain akan dimintai pertanggungjawaban kelak, entah dengan balasan di dunia ataupun di akhirat.
Dampak Sosial yang Menghancurkan
Perbuatan mengambil hak orang lain tak hanya merusak ketenangan pelaku, tapi juga merusak tatanan sosial. Ketika keadilan diabaikan, masyarakat akan kehilangan kepercayaan. Rakyat kecil kehilangan harapan. Yang kuat semakin berkuasa, yang lemah makin terpinggirkan.
Jika di sebuah desa dana bantuan diambil aparat, rakyat akan trauma terhadap pemerintah. Jika di sebuah kantor jabatan dirampas karena intrik kotor, pegawai akan apatis dan tidak lagi bekerja dengan hati. Jika di keluarga warisan dirampas tanpa hak, persaudaraan akan retak.
Lama-lama, peradaban kita tumbuh di atas ketidakadilan. Dan bangsa yang membiarkan ketidakadilan merajalela adalah bangsa yang pelan-pelan menuju kehancuran.
Jalan Menuju Ketenteraman Hati
Jalan terbaik untuk mendapatkan ketenangan hati bukanlah dengan memperkaya diri lewat jalan haram, bukan dengan merebut hak orang lain. Tapi justru sebaliknya, dengan berbagi, menjaga hak orang lain, dan berlaku adil.
Ketika kita mampu berkata "cukup" terhadap dunia, saat itu hati menjadi lapang. Ketika kita melihat orang lain mendapat rezeki dan kita ikut senang tanpa iri, di sanalah damai itu hadir.
Berbuat adil memang tidak mudah di tengah lingkungan yang korup. Tapi setidaknya, kita bisa memulainya dari diri sendiri. Jangan ambil yang bukan hakmu. Jangan rebut yang menjadi bagian orang lain. Jangan rusak kesempatan orang lain demi ambisimu.
Karena hidup ini sementara. Kita hanya menumpang di dunia. Ketenangan bukan milik orang yang kaya harta, tapi milik orang yang bersih hati.
Penutup: Hidup Jangan Serakah
Akhirnya, mari kita renungkan — seberapa banyak manusia yang hari ini hidup gelisah karena dosa kepada sesama? Betapa banyak orang kaya raya yang tidurnya tidak nyenyak, betapa banyak pejabat yang tersenyum di depan kamera, tapi hatinya berkecamuk karena hak orang yang ia rampas.
Harta bisa dicari. Jabatan bisa didapat. Tapi ketenangan hati tak bisa dibeli. Ia hanya lahir dari hati yang bersih, pikiran yang jujur, dan tindakan yang adil.
Maka, mulai hari ini — sekecil apa pun hak orang lain, jangan pernah kita ambil. Jangan pernah kita rampas. Karena yang kita curi, suatu saat akan kembali, entah dalam bentuk hukuman, musibah, ataupun hilangnya keberkahan dalam hidup.
Hidup jangan serakah. Karena yang serakah tak pernah menang. Dia hanya terlihat menang, padahal sedang kalah dalam peperangan batinnya sendiri.