Membangun Daerah Perlu Kekompakan, Jangan Pelihara Permusuhan
Oleh: Azhari
Di mana ada persatuan, di situ ada kekuatan. Begitu pula dalam membangun daerah. Kemajuan sebuah wilayah bukan hanya ditentukan oleh seberapa besar anggaran atau seberapa megah program yang dibuat pemerintah, tetapi lebih ditentukan oleh seberapa kuat kekompakan masyarakat dan pemimpinnya.
Aceh, atau daerah mana pun di negeri ini, tidak akan pernah benar-benar maju jika yang terjadi hanya saling menyalahkan, saling menjatuhkan, atau sibuk mencari kesalahan orang lain tanpa mau membenahi diri. Karena hakikat membangun daerah bukan sekadar soal fisik, tetapi soal membangun jiwa masyarakat yang sehat, bersatu, dan saling menghargai.
Jangan Saling Menyalahkan, Tapi Saling Menguatkan
Seringkali, ketika ada masalah di daerah, yang lebih dulu muncul adalah saling tuding, saling fitnah, dan menyalahkan pihak lain. Pemerintah menyalahkan masyarakat, masyarakat menyalahkan pemerintah, elit politik menyalahkan lawan politiknya. Akhirnya, masalah tak selesai, pembangunan terhambat, dan masyarakat yang jadi korban.
Padahal, seharusnya saat ada kekurangan, semua pihak duduk bersama, mencari akar persoalan, dan memikirkan solusi bersama. Karena tidak ada satu pun daerah di dunia ini yang bisa maju jika yang terjadi hanya saling sikut dan saling melemahkan.
Kekompakan itu kunci. Sebagaimana tubuh yang sehat karena organ-organnya saling bekerja sama, begitu pula daerah yang aman dan maju lahir dari masyarakat dan pemimpin yang mampu bekerjasama, bukan saling serang.
Terima Kritikan Sebagai Cermin, Bukan Ancaman
Salah satu penyakit sosial yang sering menghambat kemajuan daerah adalah alergi terhadap kritik. Saat ada yang mengkritik, langsung dicap pembenci, perusuh, atau lawan politik. Padahal kritik itu ibarat cermin — agar kita tahu di mana letak kekurangan dan bisa segera memperbaiki.
Seorang pemimpin yang baik justru harus berterima kasih kepada rakyat yang berani menyampaikan kritik. Karena di sanalah letak kecintaan rakyat pada daerahnya. Orang yang diam saat melihat kesalahan bukan berarti setuju, bisa jadi karena sudah lelah atau tak lagi peduli.
Maka, biasakanlah menerima kritik dengan lapang dada. Jadikan kritik sebagai bahan evaluasi, bukan alasan untuk membalas dendam atau menebar permusuhan.
Jangan Pelihara Permusuhan, Karena Itu Racun Pembangunan
Permusuhan di tengah masyarakat ibarat api kecil di tumpukan jerami. Jika dibiarkan, bisa membakar semuanya. Permusuhan karena beda pilihan politik, beda pendapat, atau sekadar salah paham hanya akan membuat daerah ini semakin jauh dari kata nyaman.
Padahal masyarakat butuh hidup damai. Butuh rasa aman. Butuh suasana yang tenang untuk bekerja, beribadah, membesarkan anak, dan merajut mimpi. Kalau suasana daerah terus diwarnai permusuhan, rakyat kecil yang paling rugi.
Oleh sebab itu, mari kita tinggalkan permusuhan dan dendam politik. Karena setelah semua jabatan habis, setelah pesta demokrasi usai, kita tetap akan hidup berdampingan di daerah ini. Tetap bertetangga, tetap bertegur sapa di pasar, tetap saling mengantar saat ada kemalangan.
Jangan korbankan ketenangan masyarakat hanya demi ambisi sesaat.
Membangun Daerah Itu Tugas Bersama
Pembangunan daerah tidak hanya tugas pemerintah. Masyarakat, tokoh adat, ulama, pemuda, perempuan, hingga kalangan pendidik semua punya peran penting. Pemerintah menyusun kebijakan, masyarakat mengawal dan berpartisipasi, ulama membimbing moral, pemuda membawa gagasan segar.
Jika semua berjalan di jalur masing-masing dengan saling menghargai, insyaAllah daerah akan maju dan masyarakat sejahtera.
Sebaliknya, jika masing-masing hanya mementingkan kelompoknya, saling mencurigai, dan memelihara permusuhan, maka kemajuan hanya jadi wacana, sementara kesulitan tetap membelenggu rakyat kecil.
Saatnya Bersatu untuk Daerah Tercinta
Kini saatnya kita dewasa dalam berdemokrasi dan berbangsa. Jangan terlalu mudah tersulut oleh perbedaan. Jangan cepat tersinggung oleh kritik. Jangan pelihara permusuhan karena beda pilihan.
Aceh, atau daerah mana pun tempat kita berpijak, butuh kedamaian, kekompakan, dan kebesaran hati. Jadikan perbedaan sebagai kekuatan, jadikan kritik sebagai perbaikan, dan jadikan silaturahmi sebagai jembatan menyatukan hati.
Karena membangun daerah itu bukan soal siapa yang paling hebat, tapi soal siapa yang paling ikhlas bekerja untuk rakyat.