Nasehat Kehidupan dalam Silaturahmi ke Rumah Orang Lain
Oleh: Azhari
Dalam kehidupan ini, kita bukan makhluk yang diciptakan untuk hidup sendiri. Kita lahir dari rahim seorang ibu, dibesarkan di tengah keluarga, dan tumbuh di dalam lingkungan masyarakat. Karena itu, silaturahmi bukan sekadar tradisi atau sopan santun adat, tapi sebuah kebutuhan manusiawi dan nilai luhur yang dijunjung tinggi dalam setiap agama dan budaya.
Di balik sebuah kunjungan ke rumah orang lain, tersimpan banyak pelajaran kehidupan. Sayangnya, sebagian dari kita terkadang lupa bahwa bersilaturahmi itu bukan hanya soal datang dan pulang, tetapi juga soal adab, etika, dan rasa.
Menghargai Waktu dan Situasi Tuan Rumah
Nasehat pertama dalam bersilaturahmi adalah memahami waktu dan situasi. Jangan asal datang tanpa kabar, apalagi di saat-saat yang tidak pantas. Meski niat baik, waktu yang salah bisa menjadi perkara. Ada saat orang sedang berduka, sibuk, atau dalam kondisi yang tidak bisa menerima tamu.
Maka, ada baiknya memberi kabar atau izin lebih dahulu. Rasulullah ﷺ sendiri memberi contoh adab mengetuk pintu tiga kali, dan jika tak ada jawaban, maka kita dianjurkan untuk pulang dengan lapang dada. Ini bukan soal gengsi, tapi soal adab menjaga perasaan orang lain.
Datang Membawa Doa, Pulang Membawa Kesan Baik
Silaturahmi sejatinya adalah berbagi kebahagiaan. Saat kita datang ke rumah orang, bawa serta doa-doa baik untuk keluarga tersebut. Jangan datang dengan membawa berita buruk, ghibah, atau rasa iri. Datanglah dengan senyum, kata-kata hangat, dan ucapan yang menenangkan hati.
Ingatlah, mulut bisa menjadi obat, tapi bisa pula menjadi racun. Jangan sampai kunjungan kita justru meninggalkan luka atau menyakiti perasaan tuan rumah. Jangan membanding-bandingkan, jangan mengungkit kekurangan, dan jangan pula terlalu banyak menuntut. Karena silaturahmi yang baik adalah yang membuat kedua pihak merasa nyaman.
Jangan Berlebihan, Jangan Melanggar Batas
Nasehat berikutnya, jangan berlebihan saat berkunjung. Dalam agama diajarkan, kunjungan yang terlalu sering bisa memudarkan rasa hormat. Kunjungilah sewajarnya, jangan terlalu lama hingga mengganggu, dan jangan terlalu sering hingga menimbulkan kejengahan.
Saat di rumah orang, jaga mata, jaga telinga, dan jaga lisan. Jangan ikut campur urusan rumah tangga, jangan membuka-buka aib keluarga orang, dan jangan merasa berhak tahu segala hal yang bukan urusan kita.
Begitu pula jangan terlalu memuji berlebihan, karena bisa saja itu menjadi bumerang. Lebih baik secukupnya, jujur, dan santun.
Belajar Rendah Hati dan Bersyukur
Kunjungan ke rumah orang juga menjadi kesempatan kita belajar. Saat melihat kondisi rumah orang, jangan hanya menilai dari sisi materi. Rumah besar belum tentu bahagia, rumah sederhana belum tentu miskin hati.
Ambillah hikmah dari setiap silaturahmi. Jika rumah itu megah, belajar bersyukur dan bercita-cita. Jika rumah itu sederhana, belajar rendah hati dan menerima takdir. Karena hidup bukan soal siapa paling kaya atau paling mewah, tapi soal siapa paling bersyukur dan paling baik amalnya.
Silaturahmi Melebur Dendam, Memperpanjang Umur
Dalam Islam, silaturahmi diyakini memperpanjang umur dan menambah keberkahan. Bahkan, orang yang memutus silaturahmi disebut sebagai orang yang memutuskan hubungan dengan Allah.
Dalam kehidupan sosial, silaturahmi juga melebur dendam dan prasangka. Kadang kala masalah sepele bisa berlarut-larut hanya karena tidak ada yang mau berkunjung. Padahal, sekali kita duduk bersama, makan bersama, saling sapa, banyak persoalan yang akhirnya cair.
Karena itu, jangan hanya datang saat ada hajat, atau saat Lebaran semata. Sesekali kunjungilah saudara, sahabat, atau tetangga tanpa sebab. Bukan untuk basa-basi, tapi untuk menjaga rasa.
Penutup: Kunjungan Adalah Cermin Diri
Pada akhirnya, silaturahmi ke rumah orang lain adalah cermin adab dan kualitas hati kita. Seorang yang baik bukan hanya pandai berkata-kata di hadapan orang banyak, tapi juga pandai menempatkan diri di rumah orang lain. Mampu menjaga hati tuan rumah, tahu batas, dan membawa keberkahan.
Dalam setiap kunjungan, tinggalkan kesan baik, karena itu akan menjadi cerita tentang diri kita. Sebagaimana petuah orang tua dulu, “Jangan sampai jadi tamu yang pulang meninggalkan rasa kesal.”
Karena di dalam kehidupan sosial, nama baik itu ibarat cermin. Sekali retak, sukar diperbaiki.
Mari jaga silaturahmi, perbaiki adab, dan tebarkan kebaikan. Karena siapa tahu, kebahagiaan kita di dunia dan akhirat berawal dari sebuah kunjungan kecil yang tulus.