Pabrik Semen Andalas Aceh Besar: Dari Aceh ke Dunia
Oleh: Azhari
Aceh bukan hanya negeri yang kaya sejarah perjuangan, tetapi juga dianugerahi kekayaan alam yang luar biasa. Tanahnya subur, perut buminya menyimpan hasil tambang, lautnya kaya hasil tangkapan, dan pegunungannya penuh sumber daya. Di antara potensi itu, salah satu yang pernah menjadi ikon industri Aceh adalah Pabrik Semen Andalas di Lhoknga, Aceh Besar.
Pabrik ini bukan hanya sekadar fasilitas produksi semen, tetapi pernah menjadi simbol harapan Aceh dalam membangun peradaban ekonomi yang kuat, dari Aceh untuk Indonesia, bahkan untuk dunia.
Sejarah Singkat: Dari Kebanggaan ke Kenyataan Pahit
Didirikan pada tahun 1980-an, Semen Andalas Indonesia (SAI) awalnya dirancang menjadi pilar industri semen di wilayah barat Indonesia. Posisinya di Lhoknga sangat strategis — dekat pelabuhan, dekat sumber bahan baku, dan memiliki akses langsung ke Samudera Hindia.
Seiring waktu, pabrik ini tak hanya menyuplai kebutuhan semen Aceh dan Sumatera, tapi juga diekspor ke beberapa negara di Asia Selatan. Saat itu, kita percaya industri ini akan membawa Aceh menjadi pemain utama dalam percaturan industri semen di Asia.
Namun, gempa dan tsunami 2004 meluluhlantakkan segalanya. Pabrik rusak parah. Dan sejak itulah, kisah Semen Andalas berubah. Dari perusahaan nasional, kemudian diambil alih oleh pemodal asing, dan berubah nama menjadi PT Solusi Bangun Andalas (SBA Cement) yang kini bagian dari jaringan Siam Cement Group (SCG) Thailand.
Dari Aceh ke Dunia: Tapi Siapa yang Diuntungkan?
Kini, produk semen dari Aceh kembali diekspor ke berbagai negara. Dari Lhoknga, semen dikapalkan ke Maladewa, Sri Lanka, India, hingga Afrika Timur. Dari segi bisnis, ini tentu prestasi. Aceh kembali punya produk industri yang bisa bersaing di pasar internasional.
Namun, kita patut bertanya: apa dampaknya untuk masyarakat Aceh?
Sejauh ini, kontribusi pabrik semen ke ekonomi lokal Aceh masih perlu dievaluasi lebih kritis. Berapa persen tenaga kerja lokal yang terserap? Berapa besar kontribusi pajak daerah yang diterima Aceh? Dan yang paling penting, apakah kehadiran pabrik ini benar-benar membawa kesejahteraan berkelanjutan bagi warga sekitar?
Faktanya, banyak warga sekitar Lhoknga dan Leupung masih hidup dengan keterbatasan. Kawasan pesisir dan pegunungan yang menjadi lokasi eksploitasi batu kapur untuk bahan baku semen, perlahan mengalami kerusakan ekologi. Debu, polusi suara, dan degradasi lingkungan menjadi isu tahunan yang belum terselesaikan.
Dilema Investasi dan Keadilan Ekonomi
Pabrik Semen Andalas hari ini adalah potret dilema investasi di daerah kaya sumber daya seperti Aceh. Di satu sisi, kita butuh industri untuk membuka lapangan kerja, menambah PAD, dan menggerakkan ekonomi lokal. Tapi di sisi lain, bila tidak diatur dengan benar, industri besar justru akan meninggalkan kerusakan lingkungan, ketimpangan sosial, dan perampasan ruang hidup masyarakat.
Aceh harus belajar bahwa menjadi basis produksi tanpa kontrol hanya akan membuat kita jadi “penonton” di tanah sendiri. Produk Aceh dibawa ke dunia, tapi rakyat Aceh tetap saja tertinggal.
Seharusnya, pemerintah Aceh bisa menegosiasikan kewajiban investasi sosial perusahaan (CSR) yang lebih serius, transfer teknologi, serta penyerapan tenaga kerja lokal minimal 70%. Selain itu, industri ini harus berkontribusi dalam program konservasi lingkungan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar.
Potensi Strategis ke Depan
Jika dikelola dengan benar, pabrik semen di Aceh bisa menjadi pusat industri bahan bangunan strategis di Asia Tenggara. Letaknya dekat pelabuhan internasional, dekat sumber bahan baku, dan pasar ekspor terbuka lebar ke kawasan Asia Selatan, Timur Tengah, dan Afrika.
Pemerintah Aceh bisa memanfaatkan momentum ini untuk membangun kawasan industri terpadu di sekitar Lhoknga — bukan hanya semen, tapi juga industri turunan seperti pabrik beton pracetak, konstruksi maritim, dan produksi bahan bangunan lainnya.
Aceh memiliki peluang besar untuk menjadi basis ekspor material konstruksi ke negara-negara berkembang yang kini gencar membangun infrastruktur. Dari Aceh, produk bisa melayani proyek-proyek di Maldives, India, Bangladesh, bahkan negara-negara Timur Tengah.
Penutup: Dari Aceh untuk Aceh, Baru ke Dunia
Opini ini bukan untuk menolak industri, tapi untuk mengingatkan bahwa industri tanpa keadilan sosial hanya akan melahirkan kemiskinan di tengah kemegahan pabrik. Produk dari Aceh boleh saja menembus pasar dunia, tapi jangan sampai rakyat Aceh tetap menjadi buruh di tanah sendiri, sementara keuntungan dibawa ke luar negeri.
Pabrik Semen Andalas, yang kini di bawah kendali asing, harus diingatkan kembali komitmennya untuk Aceh. Jangan hanya mengambil batu kapur, pasir, dan tenaga rakyat, tapi kembalikan pula hasilnya untuk pembangunan sosial, lingkungan, dan ekonomi rakyat Aceh.
Karena Aceh bukan sekadar penghasil sumber daya, tapi tanah yang punya martabat, sejarah perjuangan, dan hak atas kesejahteraan yang sepadan.
Dari Aceh, untuk dunia — tapi jangan lupa rakyat Aceh.