Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Rayuan Kekayaan dalam Politik dan Martabat Bangsa

Jumat, 06 Juni 2025 | 00:48 WIB Last Updated 2025-06-05T17:48:13Z


Politik, bagi sebagian orang, bukan lagi panggilan pengabdian, tapi lorong cepat menuju kekayaan. Di negeri ini, jabatan tak lagi dipandang sebagai amanah mulia, melainkan alat tukar, anak tangga menuju kemewahan pribadi. Rayuan kekayaan dalam politik telah lama menjadi candu yang menggerogoti martabat bangsa ini.

Sejak dahulu, kekuasaan memang selalu menggoda. Kekuasaan menawarkan dua hal: harta dan kehormatan. Sayangnya, ketika orang-orang tamak berkuasa, kehormatan dijual murah, martabat bangsa diobral, demi tumpukan rupiah yang hanya bertahan sementara.

Politik Uang: Candu Lama yang Terus Laku

Di setiap pemilu, kita disuguhkan ironi: amplop lebih laku ketimbang visi. Janji politik lebih manis daripada program konkret. Kita dijadikan pasar suara, dihargai murah dalam musim kampanye, dan dilupakan ketika palu jabatan diketuk.

Rayuan kekayaan membuat politik kehilangan kemuliaannya. Politik tak lagi bicara tentang keadilan sosial, kesejahteraan rakyat, atau martabat bangsa. Yang diperbincangkan adalah proyek siapa dapat, anggaran siapa dikuasai, dan jabatan siapa dititipkan.

Martabat Bangsa yang Runtuh di Meja Transaksi

Saat politik hanya jadi alat transaksi kekayaan, martabat bangsa terperosok. Rakyat menjadi korban. Negeri ini seolah hanya milik segelintir orang yang bisa membeli kekuasaan. Hak-hak masyarakat miskin diabaikan, kepentingan publik dikorbankan, hukum dipermainkan, dan suara rakyat dibungkam.

Kita sedang hidup di zaman di mana martabat bangsa dilelang di meja-meja transaksi. Pejabat beradu harga, rakyat menunggu nasib, dan negeri ini kehilangan arah. Maka tak heran bila ketimpangan makin lebar, korupsi makin gila-gilaan, dan kepercayaan rakyat terhadap politik makin tipis.

Saatnya Kembali ke Politik Bermartabat

Bangsa ini butuh politik yang memuliakan rakyat, bukan politik yang menjual kehormatan demi kekayaan. Kita butuh pemimpin yang rela miskin demi kebenaran, bukan pemimpin yang kaya karena kejahatan.

Rayuan kekayaan itu tak akan pernah habis. Tapi bangsa ini bisa selamat jika rakyat berani menolak. Menolak dibeli. Menolak dihargai murah. Menolak menjadi korban permainan elit yang haus uang.

Martabat bangsa harus diselamatkan. Bukan dengan pidato kosong, tapi dengan keberanian rakyat menjaga harga dirinya. Bahwa suara bukan untuk dijual. Bahwa jabatan adalah amanah, bukan alat memperkaya diri.

Ayo, Kita Pilih Jalan Terhormat

Setiap anak bangsa punya pilihan: ikut dalam arus rayuan kekayaan itu, atau menegakkan martabatnya. Kita bisa memilih jadi politikus yang mencuri, atau menjadi rakyat yang berani berkata tidak. Kita bisa memilih jadi pejabat penjual amanah, atau menjadi pejuang kehormatan.

Karena pada akhirnya, yang abadi bukan harta, tapi harga diri. Bukan kekayaan, tapi martabat.

Dan sebuah bangsa hanya akan dikenang sepanjang sejarah bukan karena hartanya, tapi karena kehormatan rakyatnya, keberanian pemimpinnya, dan ketegasan menolak kezaliman dalam politiknya.


Penulis Azhari