Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Refleksi Memperingati HUT Ulama dan Raja Aceh: Mengapa Kita Masih Belum Kompak

Rabu, 04 Juni 2025 | 23:12 WIB Last Updated 2025-06-04T16:12:49Z



Aceh adalah negeri yang dibangun di atas darah para syuhada, ditopang oleh kebijaksanaan ulama, dan dipimpin oleh keberanian raja-raja besar. Sejarah mencatat bagaimana kerajaan-kerajaan di Aceh sejak masa Sultan Ali Mughayat Syah hingga Sultan Iskandar Muda menjadi benteng Islam di Asia Tenggara, melawan penjajah, dan memakmurkan rakyat dengan syariat serta adat.

Namun sangat disayangkan, ketika hari ini kita memperingati HUT para ulama, raja, dan pejuang Aceh, termasuk mengenang Perang Aceh (Prang 5 Aceh) melawan kolonial Belanda, peringatan itu terasa masih sebatas seremoni kecil, bahkan kadang berjalan sendiri-sendiri. Aceh masih belum kompak.

Warisan Sejarah yang Terlupakan

Berapa banyak generasi muda Aceh hari ini yang benar-benar mengenal Sultan Iskandar Muda, Sultanah Shafiatuddin, Teungku Chik di Tiro, Pocut Baren, atau Cut Nyak Dhien lebih dari sekadar nama jalan? Berapa banyak pejabat dan elit kita yang tahu betapa besar peran ulama dayah dalam menyusun strategi perang dan membangun basis perlawanan terhadap penjajah di gunung-gunung dan pesisir?

Sayangnya, narasi-narasi itu mulai kabur. Pemerintah daerah, lembaga adat, hingga ormas Islam di Aceh seolah berjalan dengan ego masing-masing dalam memperingati sejarah besar ini. Padahal, sejarah perjuangan Aceh adalah warisan bersama, bukan milik kelompok atau golongan tertentu.

Mengapa Kita Masih Belum Kompak?

Ada beberapa sebab kenapa Aceh masih belum bersatu dalam urusan memperingati sejarah ulama dan raja:

  1. Ego kelembagaan — setiap kelompok ingin dominan dalam panggung sejarah, tanpa ada semangat kolaborasi.
  2. Minimnya sinergi antar pemerintah daerah, lembaga adat, dayah, dan pegiat sejarah.
  3. Kurangnya kesadaran generasi muda tentang pentingnya sejarah Aceh bagi identitas dan martabat bangsa.
  4. Politik simbolik — kadang acara peringatan hanya dijadikan panggung pencitraan, bukan ruang edukasi publik.

Perlu Gerakan Bersama

Aceh butuh momentum kebangkitan kolektif untuk memuliakan sejarah para ulama, raja, dan pejuangnya. Harus ada komite sejarah Aceh lintas elemen, yang menyatukan pemerintah, dayah, sejarawan, budayawan, dan komunitas pemuda. Bukan sekadar untuk mengadakan upacara, tapi menyusun agenda tahunan yang terjadwal, terstruktur, dan bermakna.

Peringatan HUT Sultan Iskandar Muda, HUT Ulama Aceh, dan Hari Prang Aceh harus dijadikan momen muasabah diri (introspeksi), bahwa Aceh hari ini tak akan pernah ada tanpa darah dan keringat para pendahulu. Jika dulu mereka rela hidup dan mati demi agama dan tanah air, mengapa kita hari ini justru sibuk mempertahankan ego masing-masing?

Sudah saatnya Aceh bersatu untuk sejarahnya sendiri. Peringatan HUT ulama, raja, dan pejuang Aceh jangan lagi menjadi acara tahunan seadanya. Jadikan momentum ini sebagai bahan renungan, bahwa bila hari ini kita terpecah dan lalai mengenang leluhur, maka lambat laun jati diri Aceh akan kabur, dan generasi akan kehilangan pijakan.

Aceh bukan sekadar tanah warisan, tapi negeri perjuangan. Dan tugas kita adalah mewarisi perjuangan itu, bukan sekadar menikmati hasilnya.