Oleh: Azhari
Sejarah bukan sekadar catatan masa lalu. Ia adalah identitas, warisan, dan petunjuk arah bagi suatu bangsa. Aceh sebagai negeri berperadaban tua dengan jejak panjang kerajaan, ulama, dan pahlawan, tentu memiliki sejarah yang kaya dan membanggakan. Namun sayang, pendidikan sejarah di Aceh saat ini masih sekadar pelengkap kurikulum, bukan alat pembentuk karakter generasi muda.
Saat anak-anak muda Aceh lebih akrab dengan tokoh-tokoh luar, film viral, dan tren media sosial ketimbang nama Sultan Iskandar Muda, Sultan Ali Mughayat Syah, atau Cut Nyak Dhien — kita patut bertanya, di mana posisi sejarah dalam pendidikan kita hari ini?
Sejarah yang Kering dan Terpinggirkan
Di banyak sekolah, pelajaran sejarah lokal hanya menjadi sisipan. Fokusnya lebih banyak pada sejarah nasional bahkan internasional, sementara kisah kejayaan Kesultanan Aceh, kepahlawanan ulama-ulama muktabar, dan peran Aceh dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia hanya disinggung sekilas.
Hal ini menjadi sebab utama lahirnya generasi muda Aceh yang tercerabut dari akar sejarahnya. Padahal, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya, seperti kata Bung Karno. Bila sejarah Aceh terus dipinggirkan, bukan mustahil kelak tak ada lagi generasi yang peduli soal pusaka budaya, adat, dan warisan spiritual leluhur.
Kenapa Revitalisasi Itu Mendesak?
Pertama, karena sejarah adalah fondasi identitas. Tanpa pengetahuan sejarah, generasi muda kehilangan pegangan soal siapa diri mereka dan apa perannya bagi tanah kelahiran. Di tengah arus globalisasi, anak muda Aceh perlu pondasi kuat agar tidak hanyut dalam budaya instan dan hedonisme yang mengikis jati diri.
Kedua, sejarah adalah sumber inspirasi. Sejarah Aceh kaya akan kisah keberanian, kecerdasan diplomasi, dan ketangguhan peradaban. Cerita tentang Sultan Iskandar Muda yang memimpin hingga ke Semenanjung Melayu, perjuangan Cut Nyak Dhien yang pantang menyerah, hingga ulama-ulama pejuang seperti Teungku Chik di Tiro adalah bahan bakar semangat bagi generasi saat ini.
Ketiga, sejarah bisa menjadi alat pemersatu. Aceh yang majemuk, dengan berbagai suku dan adat, bisa dikuatkan melalui penguatan sejarah bersama. Nilai-nilai perjuangan masa lalu bisa menjadi perekat, bahwa Aceh dibangun atas dasar keberanian, kebersamaan, dan keimanan.
Apa yang Bisa Dilakukan?
Revitalisasi pendidikan sejarah di Aceh harus dimulai dari beberapa hal:
- Mengintegrasikan sejarah lokal dalam kurikulum formal, bukan sekadar pelengkap.
- Menghidupkan kembali pelajaran sejarah lisan di dayah, meunasah, dan komunitas adat, karena banyak kisah tak tertulis yang bernilai tinggi.
- Mendorong pemerintah daerah menginisiasi festival sejarah, lomba karya tulis sejarah Aceh, hingga program wisata sejarah bagi pelajar.
- Memproduksi film, buku, dan konten digital tentang sejarah Aceh agar bisa diakses generasi muda dengan cara yang mereka sukai.
Sejarah Aceh bukan barang kuno yang usang di lemari. Ia adalah cahaya yang seharusnya menerangi jalan generasi muda Aceh ke depan. Saat pendidikan sejarah kembali ditempatkan di posisi terhormat, saat itulah mimpi tentang Aceh yang bermartabat, cerdas, dan beradab bisa perlahan diwujudkan.
Karena bangsa tanpa sejarah adalah bangsa yang kehilangan masa depannya.
Aceh harus bangkit kembali melalui generasi yang mengenal, mencintai, dan berani menulis sejarah baru atas nama bangsanya.