Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Hilangnya Pondasi Idealisme karena Uang di Kalangan Oknum Pemuda

Minggu, 13 Juli 2025 | 00:20 WIB Last Updated 2025-07-12T17:22:36Z







Dahulu, sejarah perjuangan bangsa — termasuk di Aceh — tidak bisa dilepaskan dari peran besar pemuda yang berani, berilmu, dan beridealisme tinggi. Sejak era Kesultanan Aceh Darussalam hingga masa perjuangan melawan kolonialisme Belanda, pemuda selalu berdiri di garda depan tanpa pamrih. Mereka bergerak bukan karena upah, bukan karena jabatan, apalagi sekadar demi popularitas.

Pemuda Aceh dulu dididik di dayah, di meunasah, ditempa nilai keberanian dan harga diri. Idealisme mereka dibangun atas dasar cinta agama, adat, dan bangsa. Mereka tak pernah menjual harga diri demi sedikit materi.

Namun kini, pemandangan itu mulai langka. Sebagian oknum pemuda Aceh kehilangan idealisme karena terjebak pada kepentingan uang. Mereka lebih mudah dijadikan alat politik, perpanjangan tangan elit, dan pendulang proyek ketimbang menjadi agen perubahan. Ironisnya, keadaan ini menjadi ancaman serius bagi masa depan kepemimpinan Aceh.


Pemuda dalam Sejarah Aceh: Pilar Perubahan

Sejarah Aceh mencatat banyak nama besar pemuda yang menjadi pelopor perubahan. Teuku Umar, Cut Nyak Dhien, Pang Nanggroe Hasan di Tiro, hingga generasi 1998 di Jakarta — mereka semua bergerak atas dasar idealisme, bukan transaksional.

Di masa Kesultanan, para pemuda dayah ditugaskan menjadi puet (penyampai pesan) dan penggugah semangat rakyat saat konflik. Dalam perjuangan melawan Belanda, pemuda kampung menjadi barisan terdepan perang gerilya. Di zaman konflik Aceh modern pun, pemuda menjadi tulang punggung mobilisasi perjuangan di lapangan.

Saat itu, tidak ada pemuda yang bergerak demi uang saku atau paket proyek. Mereka berkorban demi harga diri bangsa, demi kehormatan agama dan adat Aceh.


Realita Hari Ini: Idealisme Diperdagangkan

Sayangnya, memasuki era otonomi khusus pasca MoU Helsinki 2005, situasi mulai berubah. Sebagian oknum pemuda terjebak pada pola pragmatisme politik. Idealisme mulai ditinggalkan demi kepentingan finansial dan eksistensi.

Banyak organisasi pemuda hanya aktif saat pilkada, saat pembagian proyek dana aspirasi, atau saat berburu jabatan di SKPK. Mereka mengaku pejuang rakyat, tapi diam saat masyarakat terjepit. Mereka bicara soal perubahan, tapi lupa saat amplop berpindah tangan.

Fenomena pemuda kontra idealisme ini bisa dilihat dari beberapa indikator:

  • Demonstrasi yang transaksional
    Demo bukan lagi suara hati rakyat, tapi kadang hasil pesanan elit.

  • Organisasi pemuda jadi alat proyek politik
    Banyak lembaga pemuda dibentuk hanya untuk meramaikan panggung kekuasaan.

  • Minimnya gerakan intelektual dan kebudayaan
    Diskusi kebudayaan, literasi adat, dan seminar ideologis jarang dilakukan. Yang ramai justru lomba mobile legend dan turnamen futsal berhadiah.


Penyebab Pudarnya Idealisme Pemuda

  1. Pengaruh Materialisme Global
    Budaya konsumerisme dan hedonisme menjangkiti pemuda Aceh, membuat mereka lebih memprioritaskan materi daripada nilai.

  2. Ketiadaan Figur Teladan
    Minimnya tokoh pemuda idealis yang konsisten di lapangan, membuat generasi baru tak punya panutan.

  3. Institusi Pendidikan yang Tak Membangun Jiwa Kritis
    Sekolah dan kampus lebih banyak mendidik untuk mengejar ijazah ketimbang membentuk jiwa kepemimpinan dan keberanian bersikap.

  4. Politik Uang yang Terbuka
    Tradisi amplop politik di Aceh secara terang-terangan merusak karakter pemuda. Aktivis mudah dibeli, forum-forum diskusi berubah jadi acara basa-basi.


Dampaknya Bagi Masa Depan Aceh

Hilangnya idealisme di kalangan pemuda adalah bencana sosial dan politik bagi Aceh. Sebab, pemuda yang pragmatis hanya akan menjadi generasi pengekor, bukan pemimpin. Akibatnya:

  • Perjuangan rakyat Aceh terabaikan
  • Korupsi politik semakin subur
  • Budaya adat dan syariat kehilangan pelindung generasi muda
  • Aceh kehilangan kader-kader visioner

Solusi: Kembalikan Idealisme Pemuda Aceh

Agar pemuda kembali ke jalur idealismenya, beberapa langkah harus dilakukan:

  1. Gerakan Literasi Sejarah dan Adat
    Pemuda harus dikenalkan kembali pada sejarah perlawanan Aceh, perjuangan tokoh adat, dan makna syariat dalam adat Aceh.

  2. Mendirikan Sekolah Kepemimpinan Pemuda
    Dayah, kampus, dan lembaga adat bisa membentuk pelatihan kepemimpinan berbasis adat dan nilai Islam.

  3. Menolak Transaksi Politik
    Pemuda harus berani bersikap independen, tak tunduk pada amplop kekuasaan.

  4. Bangkitkan Forum Intelektual Pemuda
    Diskusi adat, kebudayaan, dan pergerakan harus kembali dihidupkan di kampus, meunasah, dan balai gampong.



Aceh tidak akan pernah maju tanpa pemuda idealis. Bila generasi muda hanya mengejar amplop dan proyek, maka Aceh akan dipimpin oleh penjilat, bukan pejuang. Kita harus kembali pada sejarah: pemuda Aceh yang hebat adalah mereka yang berani berkata benar, meskipun melawan arus kekuasaan.

Seperti petuah orang tua Aceh:
“Udep hana meupat, adat hana meulibat, lagee kayee hana akar.”
(Hidup tanpa harga diri, adat tanpa pedoman, seperti pohon tanpa akar.)

Mari kembalikan idealisme pemuda Aceh. Kalau bukan sekarang, kapan lagi?


Azhari


✅ Mau sekalian saya buatkan surat pengantar pengiriman ke media, Bang? Atau saya bantu sekalian versi yang siap untuk dikirim via WA redaksi?