Aceh adalah negeri pusaka yang dibangun dari adat, syariat, dan budaya. Sejak masa Kesultanan Aceh Darussalam, masyarakat Aceh hidup dalam aturan adat yang bersendikan syariat Islam. Tradisi turun-temurun seperti peusijuek, meugang, kenduri krueng, hingga adat dalam bermusyawarah adalah ruh kehidupan sosial yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Namun kini, dalam derasnya arus globalisasi dan modernisasi, kita menyaksikan sebuah ancaman nyata: generasi muda mulai jauh dari adat dan budaya masyarakatnya sendiri. Ini bukan sekadar masalah kehilangan tradisi, tapi sebuah petaka sosial yang bisa meruntuhkan tatanan masyarakat Aceh di masa depan.
Ketika Adat dan Budaya Tak Lagi Dikenal
Dulu, setiap anak Aceh sejak kecil sudah diajarkan sopan santun, adat kampung, hingga petuah agama oleh orang tua dan para tetua gampong. Anak-anak diajak ke meunasah, dikenalkan tradisi peusijuek, memahami makna meugang, hingga belajar adat duduk dalam majelis.
Kini, fenomena yang terjadi sangat mengkhawatirkan. Banyak anak muda Aceh yang lebih bangga mengenakan budaya luar ketimbang busana adat Aceh. Mereka lebih paham tren TikTok dan jargon K-pop ketimbang makna peumulia jamee adat Aceh, atau sejarah perjuangan leluhurnya.
Tradisi adat mulai langka. Peusijuek pengantin mulai diganti tepuk tangan dan musik remix. Kenduri kampung berganti dengan pesta kafe. Meunasah sepi dari suara anak-anak. Generasi muda mulai alergi bicara adat, bahkan menganggapnya kuno.
Petaka Sosial yang Mengancam
Kehilangan adat dan budaya di kalangan generasi muda bukan hanya sekadar hilangnya seremonial, tapi berpotensi menimbulkan petaka sosial dalam masyarakat. Beberapa dampak buruk yang nyata:
-
Pudarnya Identitas Bangsa Aceh
Generasi yang tak kenal adat adalah generasi tanpa identitas. Mereka akan mudah hanyut dalam budaya luar, kehilangan rasa bangga terhadap asal-usulnya. -
Rusaknya Tatanan Sosial di Kampung
Adat di Aceh bukan hanya warisan budaya, tapi alat pengatur sosial. Tanpa adat, masyarakat akan kehilangan arah dalam menyelesaikan masalah adat istiadat, musyawarah, hingga etika pergaulan. -
Konflik Generasi dan Ketimpangan Moral
Ketika generasi tua memegang adat dan syariat, sementara anak muda hidup tanpa nilai itu, maka konflik sosial antar generasi tak terhindarkan. Muncul jarak moral dan sosial. -
Kemunduran Budaya Lokal
Tanpa penerus, adat Aceh perlahan musnah. Budaya lokal akan digantikan budaya global, tanpa filter syariat dan adat. Akhirnya, Aceh hanya tinggal nama tanpa ruh peradaban.
Kenapa Ini Terjadi?
Fenomena ini tidak terjadi begitu saja. Ada beberapa penyebab utama:
-
Orang tua abai dalam pendidikan adat dan moral
Banyak orang tua lebih sibuk urusan duniawi, lupa menanamkan adat dan etika sejak dini. -
Minimnya ruang edukasi adat di sekolah
Kurikulum pendidikan terlalu nasional, minim muatan budaya lokal. -
Lembaga adat yang mulai lemah fungsinya
Mukim, meunasah, dan perangkat adat hanya seremonial, tak lagi sebagai pusat pendidikan adat kampung. -
Pengaruh budaya global tanpa filter
Anak muda lebih mengenal budaya digital ketimbang nilai adat kampung.
Solusi: Selamatkan Generasi, Selamatkan Adat
Jika tidak ingin adat dan budaya Aceh punah, beberapa langkah strategis perlu segera ditempuh:
-
Aktifkan Kembali Lembaga Adat di Gampong
Meunasah harus dihidupkan kembali sebagai pusat adat, pengajian, dan musyawarah kampung. -
Orang Tua Kembali Jadi Guru Adat di Rumah
Orang tua harus mulai kembali bercerita tentang adat, leluhur, dan kisah-kisah perjuangan Aceh kepada anak-anak. -
Revisi Kurikulum Pendidikan Muatan Lokal Aceh
Sekolah harus kembali memasukkan materi adat, budaya, dan sejarah Aceh dalam pelajaran. -
Gerakan Pemuda Peduli Budaya
Bentuk komunitas pemuda kampung yang aktif dalam kegiatan adat, pelestarian tradisi, dan revitalisasi budaya Aceh. -
Batasi Pengaruh Budaya Luar Tanpa Filter Syariat dan Adat
Pemerintah, ulama, dan tokoh masyarakat harus bersama-sama mengedukasi generasi muda agar bijak dalam menyerap budaya digital.
Adat dan budaya Aceh adalah warisan peradaban yang tak ternilai. Ia bukan sekadar simbol, tetapi alat penjaga moral, sosial, dan spiritual masyarakat. Bila generasi muda kehilangan itu, maka tunggulah petaka: Aceh tinggal nama, syariat tanpa ruh, adat tanpa pelaku, sejarah tanpa pewaris.
Mari kita selamatkan generasi muda Aceh dari ancaman ini. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang mengenal adat dan budayanya. Tanpa itu, kita hanya akan jadi penonton di negeri sendiri.
Seperti petuah orang tua kita dulu:
“Udep ureung pasti mate, adat pasti panyang.”
(Hidup manusia pasti berakhir, tapi adat harus tetap abadi.)
Azhari
Akademisi dan Pemerhati Sosial Aceh
✅ Jika Anda mau, saya juga bisa bantu sekalian bikin versi pengantar untuk redaksi media. Mau sekalian saya siapkan, Bang?