Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

BADKO HMI Aceh: Refleksi Kontribusi Kader dalam Arus kebaikan dan perbaikan Umat

Kamis, 07 Agustus 2025 | 23:19 WIB Last Updated 2025-08-07T16:20:05Z



BADKO HMI Aceh: Refleksi Kontribusi Kader dalam Masyarakat hingga Pengabdian dalam Pemerintahan, Demi Arus Kebaikan dan Perbaikan

Oleh: [Nama Penulis]

Pendahuluan: Dari Masjid ke Meja Kepemimpinan

Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam (BADKO HMI) Aceh bukan sekadar struktur organisasi. Ia adalah medan tempur intelektual, kawah candradimuka kaderisasi, dan titik temu para pemuda Aceh yang memimpikan perubahan. Dari masjid kecil hingga aula kampus besar, suara kader HMI menggema dengan idealisme: membumikan Islam, membangkitkan peradaban.

Namun hari ini, refleksi menjadi keniscayaan. Sudah sejauh mana kader HMI Aceh bergerak? Sudah sedalam apa kontribusi mereka dalam masyarakat? Apakah kader HMI sekadar jago orasi di mimbar, atau benar-benar hadir dalam denyut nadi rakyat? Pertanyaan ini bukan untuk menyalahkan, melainkan untuk membangkitkan kesadaran bahwa pengabdian adalah jalan panjang yang harus terus diperjuangkan.


Kontribusi Kader: Dari Aksi ke Aksi Nyata

Kader HMI Aceh selama ini dikenal vokal dalam isu-isu publik. Mereka turun ke jalan saat keadilan dilanggar, mereka berdiskusi saat kebijakan bermasalah. Tapi, lebih dari itu, kontribusi sejati kader bukan hanya dalam bentuk demo atau kritik. Ia hadir saat kader HMI menjadi guru di pelosok desa, menjadi pendamping masyarakat di gampong, atau saat duduk dalam ruang kebijakan membawa aspirasi publik.

HMI bukan hanya soal bendera hijau-hitam, tapi soal hati yang terus berjuang tanpa pamrih. Kader HMI Aceh telah banyak mengisi ruang sosial—mulai dari advokasi lingkungan, pemberdayaan perempuan, edukasi politik, hingga kerja-kerja kemanusiaan. Ini adalah wajah lain HMI yang jarang disorot, tapi sangat dibutuhkan oleh Aceh yang masih terluka oleh sejarah konflik dan kemiskinan struktural.


Dari Pengkaderan ke Kepemimpinan: Menjawab Tantangan Zaman

Proses pengkaderan dalam HMI tidak hanya melahirkan aktivis, tapi pemimpin. HMI mengajarkan keberanian, adab, dan intelektualitas dalam satu tarikan napas. Di era digital, tantangan kader HMI bertambah. Mereka harus mampu bersaing dalam dunia data, algoritma, dan narasi. Bukan hanya kuat di forum, tapi juga cakap di platform digital.

Kini, banyak kader HMI Aceh yang mulai masuk ke ruang-ruang formal kekuasaan: legislatif, eksekutif, dan birokrasi. Ini bukan kebetulan, tapi hasil dari proses panjang pengkaderan. Namun, kehadiran mereka di pemerintahan bukan tujuan akhir. Itu hanya alat untuk memperjuangkan arus kebaikan dan perbaikan.

Yang menjadi tantangan adalah: apakah kader HMI tetap membawa semangat “Insan Cita” saat telah duduk di kursi kekuasaan? Apakah mereka tetap menjadi penyambung suara rakyat, atau terjebak dalam arus pragmatisme politik?


HMI Aceh dan Tatanan Baru Pengabdian

Aceh butuh pemimpin yang lahir dari rahim idealisme, bukan sekadar hasil polesan pencitraan. HMI Aceh harus menjadi ladang subur untuk menumbuhkan pemimpin semacam itu. Kader tidak cukup hanya mengkritik dari luar pagar, tapi juga harus siap menjadi bagian dari sistem untuk memperbaikinya dari dalam.

Tatanan baru pengabdian harus dibangun: kolaboratif, solutif, dan adaptif terhadap zaman. HMI Aceh mesti memperkuat sinergi dengan elemen masyarakat sipil lainnya, merawat nilai-nilai perjuangan sambil terus membaca arah zaman. Transformasi digital harus menjadi ruang baru dakwah dan advokasi. Jangan biarkan ruang digital dikuasai oleh narasi kebencian, hoaks, dan politik uang.


Saatnya Bergerak Lebih Jauh

BADKO HMI Aceh bukan hanya simbol koordinasi struktural, tapi rumah besar yang menaungi harapan perubahan. HMI Aceh tidak boleh hanya dikenang karena aksinya, tapi harus dicatat karena dampaknya.

Kini saatnya kader HMI Aceh tidak hanya berjalan di belakang sejarah, tapi menulis sejarah itu sendiri. Dengan niat yang bersih, ilmu yang mumpuni, dan adab yang terjaga, HMI Aceh bisa menjadi kekuatan moral dan intelektual untuk membawa Aceh ke arah yang lebih baik. Karena pada akhirnya, pengabdian sejati adalah saat keberadaan kita memberi manfaat bagi umat, dan kepergian kita meninggalkan jejak kebaikan yang abadi.


Salam Perjuangan. Salam Pengabdian. Yakusa!

Penulis Azhari 

Alumni HMI