Di zaman ketika ilmu bisa diakses hanya dengan satu sentuhan jari, manusia justru semakin sering tersesat dalam keyakinannya sendiri. Bukan karena kekurangan pengetahuan, tetapi karena kehilangan arah dalam memaknainya.
Inilah ironi besar era digital:
pengetahuan melimpah, tetapi keimanan kerap rapuh.
Di Aceh—negeri yang membangun jati dirinya di atas agama, adat, dan tradisi keilmuan dayah—hubungan antara pengetahuan dan keimanan sedang diuji oleh arus informasi yang tak mengenal batas.
Pengetahuan Tidak Lagi Datang Bersama Adab Dulu, ilmu dicari dengan perjalanan.
Datang ke guru.
Duduk dengan tawadhu.
Membaca dengan sabar.
Mendengar dengan adab.
Hari ini, ilmu datang lewat layar.
Semua orang bisa berbicara tentang agama.
Semua orang bisa menafsirkan ayat.
Semua orang bisa memotong ceramah.
Namun yang sering hilang bukan dalil, melainkan adab.
Pengetahuan yang lahir tanpa adab mudah berubah menjadi senjata:
untuk menyalahkan,
membungkam,
merendahkan,
dan menghakimi.
Ketika Ilmu Tidak Lagi Mengantar pada Rendah Hati
Salah satu tanda rusaknya hubungan antara pengetahuan dan keimanan adalah ketika semakin banyak tahu, tetapi semakin keras merasa paling benar.
Ilmu yang sehat seharusnya melahirkan rasa kecil di hadapan Allah.
Bukan rasa besar di hadapan manusia.
Namun di ruang digital, yang paling cepat viral justru bukan kedalaman, melainkan keberanian menyerang.
Orang berlomba-lomba membuktikan kepintaran, bukan menjaga kebeningan iman.
Padahal, dalam tradisi ulama Aceh dan para teungku di dayah, ilmu selalu diletakkan untuk menumbuhkan akhlak, bukan popularitas.
Keimanan Tidak Bisa Bertahan dengan Emosi Saja
Di sisi lain, keimanan yang tidak ditopang pengetahuan juga rapuh.
Banyak orang mudah terseret hoaks agama.
Mudah percaya potongan ayat tanpa konteks.
Mudah marah atas isu yang belum tentu benar.
Keimanan yang hanya berdiri di atas emosi akan mudah dimanipulasi.
Di era algoritma, kemarahan dan ketakutan justru dipelihara karena ia mendatangkan perhatian. Maka iman pun terancam dijadikan komoditas.
Di Aceh, Tantangannya Lebih Berat
Aceh bukan hanya wilayah administratif.
Ia adalah ruang peradaban Islam yang hidup.
Ketika anak-anak muda Aceh lebih banyak belajar agama dari potongan video, daripada dari guru yang sanad ilmunya jelas, maka kita sedang menghadapi krisis yang tidak kasat mata: krisis rujukan.
Bukan berarti teknologi harus ditolak.
Tetapi teknologi tidak boleh menggantikan peran guru.
Digital boleh menjadi pintu.
Tetapi adab harus tetap menjadi penjaga.
Menyatukan Ilmu dan Iman di Tengah Arus Digital,Hubungan pengetahuan dan keimanan di era digital harus diselamatkan dengan kesadaran baru.
Pertama, belajar untuk memeriksa sebelum membagikan.
Tidak semua yang tampak Islami benar secara ilmiah dan syar’i.
Kedua, kembali menghormati otoritas keilmuan.
Bukan gelar semata, tetapi akhlak, sanad, dan ketekunan.
Ketiga, membiasakan diri bertanya dengan rendah hati.
Bukan untuk menang debat, tetapi untuk memperbaiki diri.
Keempat, menjaga hati saat berilmu.
Karena ilmu yang tidak dijaga oleh niat akan melahirkan kesombongan.
Nasihat untuk Diri dan Generasi Muda Aceh.
Sebagai bagian dari generasi yang hidup di persimpangan tradisi dan teknologi, saya ingin menasihati diri saya sendiri—dan anak-anak muda Aceh:
jangan jadikan ilmu sebagai alat merasa lebih suci,dan jangan jadikan iman sebagai alasan untuk menutup akal.
Ilmu tanpa iman akan kering.
Iman tanpa ilmu akan mudah tersesat.
Keduanya harus berjalan bersama.
Hubungan pengetahuan dan keimanan di era digital bukan soal memilih salah satu, melainkan soal menjaga keseimbangannya.
Teknologi boleh mempercepat akses ilmu.
Tetapi hanya keimanan yang bisa menjaga arah hidup.
Dan di Aceh hari ini—di tengah derasnya informasi, polarisasi, dan kebisingan ruang digital—nasihat yang paling penting untuk kita pegang adalah sederhana:
belajarlah dengan adab,
berimanlah dengan ilmu,
dan bermedialah dengan tanggung jawab.
Karena di zaman serba cepat ini,
yang paling kita butuhkan bukan lebih banyak informasi,
melainkan lebih banyak kebijaksanaan.