Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Jangan Berhenti Berbuat Kebaikan pada Umat

Jumat, 30 Januari 2026 | 23:03 WIB Last Updated 2026-01-30T16:05:08Z
Ada satu kelelahan yang paling sunyi dalam hidup manusia:
lelah berbuat baik, tetapi merasa tidak pernah cukup dihargai.Di tengah zaman yang bising oleh pencitraan, seremonial, dan adu pengaruh di media sosial, kebaikan yang dilakukan dengan diam justru sering tenggelam. Bahkan tidak jarang, orang yang memilih tetap lurus justru disalahpahami. Namun hari ini, saya ingin menasihati diri sendiri—dan siapa pun yang masih ingin menjaga nuraninya:
jangan berhenti berbuat kebaikan pada umat.
Kebaikan Tidak Selalu Disambut Baik
Berbuat baik kepada umat bukan pekerjaan romantis.
Ia tidak selalu mendatangkan pujian.
Tidak selalu menghadirkan ucapan terima kasih.
Sering kali, yang datang justru:
salah paham,
fitnah,
sindiran,
bahkan tuduhan memiliki kepentingan.
Di ruang sosial Aceh hari ini—yang kerap saya saksikan dalam dinamika pascabencana, konflik pendapat, dan kritik terhadap pemimpin—niat baik sering dikalahkan oleh kecurigaan.
Karena kita hidup di zaman di mana semua orang diasumsikan memiliki agenda.
Kebaikan yang Tidak Masuk Kamera
Umat tidak selalu membutuhkan orang yang paling lantang membela mereka di layar.

Umat lebih membutuhkan orang yang tetap setia ketika kamera sudah pergi.
Relawan yang kembali membersihkan sisa lumpur saat sorotan berakhir.
Guru yang tetap mengajar meski gajinya tak menentu.Tenaga kesehatan yang tetap melayani meski fasilitas terbatas.

Aparatur desa yang berjuang mengurus data korban tanpa panggung.
Mereka jarang tampil dalam narasi besar.
Tetapi merekalah penyangga kehidupan umatJangan Menunggu Umat Menjadi Sempurna,Kadang kita berhenti berbuat baik karena kecewa.

Kecewa karena umat tidak berubah cepat.
Kecewa karena masyarakat tetap gaduh.
Kecewa karena orang-orang yang kita bantu justru tidak menghargai.
Padahal, tugas kita bukan menyempurnakan manusia.
Tugas kita adalah menghadirkan kebaikan.
Perubahan adalah urusan waktu.
Hidayah adalah urusan Allah.

Kebaikan Tidak Boleh Bergantung pada Pemimpin,Dalam banyak tulisan saya tentang Aceh—tentang banjir, pengungsian, kegagalan tata kelola, dan politik pencitraan—saya selalu sampai pada satu kesimpulan sederhana:
ketika negara terlambat, umat tidak boleh berhenti bergerak.
Kebaikan tidak boleh menunggu kebijakan.
Kemanusiaan tidak boleh menunggu instruksi.

Justru di ruang kosong itulah, nilai umat diuji.Berbuat Baik adalah Cara Menjaga Akal SehatDi tengah banyaknya kebohongan publik, kegaduhan elite, dan narasi yang sering memutarbalikkan kenyataan, berbuat baik kepada umat adalah cara paling jujur untuk tetap waras.

Ketika kita menolong orang lain,
kita sedang menolong diri kita sendiri agar tidak tenggelam dalam kebencian.
Kebaikan menjaga hati agar tidak membatu.
Jangan Lelah Menjadi Orang Biasa yang Berguna
Tidak semua orang harus menjadi tokoh.
Tidak semua orang harus memimpin gerakan.

Tidak semua orang harus dikenal.
Umat lebih membutuhkan orang-orang biasa yang mau terus berguna.
Orang yang mau mendengar keluhan tetangga.
Orang yang mau mengantar jenazah tanpa pamrih.
Orang yang mau mengajar anak-anak mengaji tanpa bayaran.
Orang yang mau menyisihkan waktu, bukan hanya opini.

Nasihat untuk Diri di Aceh Hari Ini
Sebagai bagian dari masyarakat Aceh yang hidup di tengah luka sosial, konflik pandangan, dan ketegangan politik pascabencana, saya ingin menutup opini ini dengan satu nasihat untuk diri sendiri:
jangan biarkan kekecewaan kepada sistem membuat kita berhenti menjadi manusia.Jangan biarkan buruknya contoh elite membuat kita menurunkan standar moral.

Umat tidak butuh lebih banyak kemarahan.
Umat butuh lebih banyak keteladanan.

Jangan berhenti berbuat kebaikan pada umat,meski kebaikan itu kecil,
meski tidak dicatat,
meski tidak dibalas.
Karena boleh jadi, di saat banyak orang sibuk menjaga citra,
Allah justru menjaga pahala dari kebaikan yang paling sederhana.
Dan di tengah Aceh hari ini—di tengah luka, bencana, kegaduhan, dan kelelahan sosial—kebaikan yang terus hidup adalah satu-satunya cara kita menjaga martabat umat tetap berdiri.