Di tengah zaman yang gaduh oleh opini, unggahan, dan perdebatan tanpa henti, ada satu pertanyaan yang kian jarang kita ajukan kepada diri sendiri:
untuk apa sebenarnya kata-kata dan kerja kita di dunia ini?
Apakah hanya untuk dilihat, disukai, dan dipuji?
Ataukah untuk benar-benar berguna bagi kehidupan orang lain?
Di Aceh—di tengah luka pascabencana, kegaduhan elite, dan politik pencitraan digital yang sering saya kritik dalam banyak tulisan—makna hidup manusia justru semakin terang ketika satu hal sederhana masih bisa kita pegang:
kata yang jujur, dan kerja yang berpihak.
Kata: Antara Nurani dan Panggung
Hari ini, kata-kata sangat murah.
Semua orang bisa berbicara.
Semua orang bisa menilai.
Semua orang bisa menghakimi.
Namun tidak semua kata lahir dari nurani.
Sebagian besar lahir dari kepentingan.
Dari keinginan tampil benar.
Dari kebutuhan membela kekuasaan.
Dari takut kehilangan posisi.
Padahal, dalam kehidupan sosial, kata memiliki beban moral.
Satu kalimat bisa membela yang tertindas.
Satu kalimat juga bisa mengubur jeritan korban.
Di ruang publik Aceh hari ini, kita sering menyaksikan bagaimana penderitaan korban banjir, pengungsian, dan keterlambatan pemulihan dikalahkan oleh narasi “keberhasilan” dan “prestasi”.
Di sinilah kata berubah menjadi alat kekuasaan, bukan alat kebenaran.
Kerja: Antara Tugas dan Keberpihakan
Kerja tidak selalu identik dengan jabatan.
Tidak semua yang sibuk adalah bekerja.
Tidak semua yang memegang kewenangan benar-benar menjalankan amanah.
Kerja yang bermakna bukan diukur dari berapa banyak rapat, proyek, dan laporan.
Ia diukur dari siapa yang paling diuntungkan oleh kerja itu.Jika kebijakan dibuat tetapi rakyat tetap menderita,jika program diluncurkan tetapi korban tetap terlantar,jika anggaran habis tetapi keadilan tidak pernah datang,
maka kerja telah kehilangan rohnya.
Di Aceh, kita memiliki terlalu banyak rencana, tetapi terlalu sedikit keberanian untuk memastikan rencana itu sampai ke dapur rakyat.
Ketika Kata Terpisah dari Kerja
Krisis terbesar kepemimpinan hari ini bukan kekurangan ide, melainkan keterputusan antara kata dan kerja.
Pemimpin piawai berbicara tentang rakyat.
Tetapi rakyat jarang hadir dalam keputusan.Pejabat lancar mengutip nilai agama dan adat.
Tetapi keadilan sosial justru tertinggal.
Aktivis ramai membuat pernyataan.
Tetapi sedikit yang konsisten mengawal sampai tuntas.
Di titik inilah kehidupan manusia mulai kehilangan makna sosialnya.
Karena kata hanya menjadi ornamen, dan kerja hanya menjadi rutinitas.
Makna Hidup Lahir dari Kebermanfaatan
Dalam ajaran Islam yang hidup di Aceh, kita mengenal satu prinsip sederhana tetapi sangat dalam:
sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.
Makna hidup tidak lahir dari popularitas.
Ia lahir dari dampak.
Seseorang mungkin tidak dikenal luas,
tidak tampil di media,
tidak memegang jabatan,
tetapi jika kehadirannya membuat hidup orang lain sedikit lebih ringan, maka hidupnya telah bermakna.
Seorang guru di desa terpencil.
Relawan yang membersihkan lumpur pascabanjir tanpa kamera.
Ibu yang menjaga anak-anak yatim tanpa proposal proyek.
Mereka tidak banyak berkata, tetapi kerja mereka berbicara.
Di Aceh, Kita Terlalu Lama Memuliakan RetorikaSebagai masyarakat yang religius dan historis, Aceh sering terpesona oleh simbol:gelar, jabatan, pidato, dan status sosial.Padahal, sejarah Aceh tidak dibangun oleh pidato panjang, melainkan oleh keberanian, pengorbanan, dan keberpihakan.
Hari ini, yang kita butuhkan bukan lebih banyak slogan tentang kesejahteraan, melainkan lebih banyak tangan yang benar-benar bekerja untuk mencapainya.
Lebih sedikit seremonial.
Lebih banyak penyelesaian.
Menjadi Manusia yang Kata dan Kerjanya Menyatu,Memaknai kehidupan manusia berarti berani menyatukan kata dan kerja.
Berani berkata benar meski tidak populer.
Berani bekerja jujur meski tidak terlihat.
Berani memihak rakyat meski tidak menguntungkan secara politik.
Dan bagi saya—sebagai penulis yang terus mencoba menempatkan suara korban, sejarah Aceh, dan kegelisahan generasi dalam ruang publik—kata bukan untuk membangun citra, melainkan untuk menjaga ingatan.Agar penderitaan tidak dibiasakan.
Agar ketidakadilan tidak dinormalisasi.
Agar generasi muda tidak mewarisi kebisuan.
Hidup manusia tidak diukur dari panjang usia,tetapi dari seberapa jauh kata dan kerjanya menyentuh kehidupan orang lain.
Ketika kata menjadi jujur,
dan kerja menjadi berpihak,
di situlah kehidupan menemukan maknanya.
Dan di Aceh hari ini—di tengah luka sosial, politik pencitraan, dan kegaduhan elite—kita sedang sangat membutuhkan manusia-manusia yang tidak hanya pandai berbicara tentang rakyat, tetapi bersedia bekerja diam-diam untuk mereka.
Karena pada akhirnya,kata boleh dikenang,tetapi kerja yang berguna bagi masyarakatlah yang benar-benar menyelamatkan martabat manusia.