Manusia memang sering hidup dalam paradoks yang sunyi: ingin dimengerti, tetapi enggan menjelaskan. Kita berharap orang lain mampu membaca isi hati, seolah perasaan adalah papan pengumuman yang bisa dilihat siapa saja. Padahal, hati bukanlah jendela kaca. Ia lebih sering seperti rumah yang pintunya terkunci—bukan karena tidak ingin didatangi, tetapi karena terlalu lelah menunggu orang yang sungguh-sungguh mau mengetuk.
Di zaman ketika semua orang sibuk berbicara, justru semakin sedikit yang benar-benar bertanya. Kita terbiasa menumpahkan keluh di media sosial, tetapi jarang berani menyampaikan luka secara jujur kepada orang yang tepat. Kita menginginkan empati instan, namun menolak proses paling manusiawi dalam memahami: dialog.
Kecewa pun lahir bukan karena tidak ada yang peduli, melainkan karena kita menaruh harapan pada sesuatu yang tidak pernah kita bangun. Bagaimana mungkin orang lain memahami kegelisahan kita, jika bahkan kita sendiri belum berani merangkainya menjadi kata?
Dalam kehidupan sosial—termasuk dalam ruang-ruang publik di Aceh yang kerap di soroti dalam tulisan-tulisan reflektif—kegagalan memahami sering kali bukan berakar pada kebencian, melainkan pada ketiadaan percakapan. Rakyat merasa tidak didengar, pemimpin merasa sudah cukup menjelaskan. Dua-duanya lelah. Dua-duanya menunggu. Tetapi tak ada yang benar-benar duduk untuk saling bertanya.
Padahal, mendengar adalah keberanian yang paling sunyi. Ia menuntut kita menunda pembelaan diri, menahan ego, dan memberi ruang bagi cerita orang lain tumbuh tanpa dipotong. Bertanya pun bukan tanda kelemahan, melainkan tanda bahwa kita mengakui satu hal penting: kita tidak hidup di dalam kepala orang lain.
Hati bukan teka-teki. Ia hanya ingin ditemui dengan cara yang sederhana—bertanya dengan tulus, dan mendengar dengan sabar.
Mungkin, yang perlu kita perbaiki bukan kemampuan membaca perasaan, tetapi keberanian membuka percakapan. Karena tidak semua luka ingin ditebak. Sebagian hanya ingin didengar.