Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Ke Mana Arah Kabupaten Bireuen Pasca Banjir, Bila Pemimpin Gagal dalam Konsep Perubahan

Kamis, 19 Februari 2026 | 23:55 WIB Last Updated 2026-02-19T16:57:22Z
Ke Mana Arah Kabupaten Bireuen Pasca Banjir, Bila Pemimpin Gagal dalam Konsep Perubahan
Banjir selalu meninggalkan dua jejak di Bireuen.Yang pertama adalah lumpur di lantai rumah warga.

Yang kedua—yang lebih sulit dibersihkan—adalah kebingungan arah pembangunan.
Pertanyaan yang hari ini layak diajukan secara jujur oleh masyarakat adalah:
ke mana arah Bireuen setelah banjir, jika pemimpinnya gagal menghadirkan konsep perubahan?

Banjir bukan sekadar musibah alam.
Ia adalah cermin paling jujur dari cara sebuah daerah direncanakan, diurus, dan dipimpin.
Jika banjir datang berulang,

jika wilayah rawan tidak pernah direlokasi dengan serius,
jika sungai dan tata ruang terus dibiarkan bermasalah,
maka persoalannya bukan lagi cuaca.
Persoalannya adalah kepemimpinan.
Masalah paling besar di Bireuen hari ini bukan hanya keterbatasan anggaran pasca banjir.
Masalah utamanya adalah ketiadaan konsep perubahan.

Ketika pemimpin daerah tidak memiliki peta jalan yang jelas tentang:
bagaimana mengubah kawasan rawan menjadi kawasan aman,
bagaimana menata ulang pemukiman yang terus terendam,
bagaimana membangun ekonomi warga pasca kehilangan,
bagaimana menjadikan mitigasi bencana sebagai prioritas pembangunan,
maka pembangunan pasca banjir hanya akan berputar pada satu pola lama:
datang – data – bantuan – foto – pulang.
Lebih menyedihkan lagi, pasca banjir sering hanya dipahami sebagai urusan:
logistik,
dapur umum,
dan distribusi sembako.
Padahal, yang sedang runtuh bukan hanya rumah warga,
tetapi rasa aman mereka untuk hidup di tanahnya sendiri.

Di titik ini, kegagalan pemimpin bukan terletak pada lambatnya bantuan semata.
Kegagalan sesungguhnya adalah ketika:
tidak ada gagasan besar untuk memutus siklus bencana.

Tidak ada keberanian untuk mengoreksi kebijakan tata ruang lama.
Tidak ada keberanian untuk menata ulang pemukiman yang sejak awal berada di lokasi berisiko.
Tidak ada keberanian untuk menjadikan mitigasi sebagai program strategis daerah.

Bireuen membutuhkan lebih dari sekadar pemimpin yang rajin turun ke lokasi banjir.
Bireuen membutuhkan pemimpin yang berani berkata:
“Pasca banjir ini, arah pembangunan kita harus berubah.”

Bukan kembali ke pola semula.
Bukan melanjutkan rencana lama seolah-olah bencana tidak pernah terjadi.
Hari ini, banyak korban banjir di Bireuen hidup dalam satu rasa yang sama:
ketidakpastian.

Tidak jelas:
kapan hunian benar-benar aman,
apakah mereka akan direlokasi atau tetap bertahan di titik rawan,
apakah usaha kecil mereka akan dibangkitkan kembali,
atau apakah mereka hanya akan menunggu banjir berikutnya.
Jika pemimpin daerah tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan ini secara terbuka dan terukur,
maka sesungguhnya ia sedang membiarkan rakyat hidup di wilayah tanpa masa depan.

Pembangunan pasca banjir seharusnya menjadi pintu masuk perubahan.
Bukan sekadar pemulihan fisik,
tetapi pemulihan arah kebijakan.
Bukan hanya memperbaiki jalan,
tetapi memperbaiki cara berpikir pembangunan.

Jika pemimpin Bireuen gagal menghadirkan konsep perubahan,
maka arah daerah ini akan tetap seperti hari ini:bergerak,
tetapi tidak keluar dari lingkaran bencana.
Membangun,tetapi tidak memperkecil risiko.

Menghabiskan anggaran,
tetapi tidak mengurangi penderitaan.
Dan pada akhirnya, rakyat Bireuen berhak bertanya dengan lantang:
apakah banjir ini akan benar-benar menjadi pelajaran,atau hanya menjadi rutinitas penderitaan yang diwariskan dari satu periode kepemimpinan ke periode berikutnya?

Karena masa depan Bireuen tidak ditentukan oleh seberapa cepat air surut,
melainkan oleh seberapa berani pemimpinnya mengubah arah.